Menolak Mati karena Adiksi

Penulis: M Taufan SP Bustan Pada: Minggu, 25 Feb 2018, 11:10 WIB Jeda
Menolak Mati karena Adiksi

Sejumlah peserta mengikuti kelas bimbingan di Yayasan Karitas Sani Madani Jalan Teratai, Batu Ampar, Keramat Jati, Jakarta Timur, Rabu (22/2/2018)---MI/M Taufan SP Bustan

PAGI hingga malam selalu ada agenda di Karitas Sani Madani (Karisma) di Jalan Teratai, Jakarta Timur, buat para penghuninya, X, Y dan U.

Rabu (21/2), ketiganya menempuh salah satu babak dalam proses penyembuhan dari ketergantung­an, dengan mengikuti bimbingan dari konselor di lembaga yang juga menjadi rumah sementara buat mereka. Ditampung dan ditangani secara profesional, di salah satu organisasi nirlaba yang berfokus pada adiksi itu memulihkan kepercayaan diri mereka, yang merasa sudah tidak punya apa-apa lagi, kini diterima dan ditolong untuk dipulihkan.

X yang mencandu subukson, narkoba KW putau, yang salah satu motivasinya masuk rehabilitasi ialah banyak temannya sesama pecandu yang meninggal dunia akibat overdosis.

Sementara Y, yang nyaris menyerah pada dirinya sendiri, setelah keluar masuk rehabilitasi, kini bulat bertekad membuka babak baru dalam hidupnya. Kisah serupa juga diungkapkan penghuni Karisma perempuan, U yang mengaku lelah menjadi pecandu.

Kontribusi masyarakat
Didirikan pada 2001 oleh orang-orang yang kehidupan keluarganya pernah secara langsung dipengaruhi adiksi narkoba, Karisma sudah menangani sekitar 390 pecandu dengan usia termuda 14 tahun dan paling tua 52 tahun.

Senior Konselor Karisma Reza Novalino menuturkan, selain memberikan layanan rawat inap, ada pula terapi rawat jalan kepada mereka yang berada pada tingkatan penggunaan coba-coba.

Tahapan terparah pada pecandu ialah ketika semula ia memakai narkoba untuk rekreasional atau kondisi tertentu, menjadi terus-menerus, dari dosis rendah sampai penggunaan kompulsif.

“Ini penggunaan paling paling parah dan berbahaya. Narkoba dosis tinggi dipa­kai secara rutin atau setiap hari untuk mencapai efek fisik atau psikologis yang diinginkan, atau sekadar untuk menghindari gejala putus zat seperti sakau.”

Pada tingkat ini, zat narkoba menjadi sesuatu yang paling penting dalam kehidupan seseorang, melebihi aktivitas lainnya.

“Pada tingkat ini, orang mengalami masalah terkait penggunaan berkelanjutan, ia tahu bahwa narkoba itu bermasalah untuk dirinya, namun tak bisa menghentikannnya, itulah yang disebut sebagai adiksi,” tandas Reza.

Mereka yang tengah berjuang di Karisma yang tak memungut biaya dalam kerjanya itu, kini tengah berupaya menjadikan kesadaran tentang bahaya itu sebagai pijakan untuk memulai hidupnya yang baru. Kolaborasi negara, polisi, dan masyarakat, termasuk yang mengubah luka gara-gara masuknya narkoba dalam keluarganya menjadi kontribusi, itu terus bergulir untuk memutus lingkaran kelam tersebut. (TB/M-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy meminta sekolah untuk melakukan pengecekan surat keterangan tidak mampu (SKTM) dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB). Hal itu dilakukan untuk menghindari penyalahgunaan SKTM agar diterima di sekolah negeri. Pasalnya, dalam Permendikbud 14/2018 tentang PPDB disebutkan kuota minimal untuk siswa tidak mampu sebanyak 20%. Apakah Anda setuju pihak sekolah harus melakukan pengecekan dan tidak langsung menerima begitu saja SKTM tanpa verifikasi ke lapangan?





Berita Populer

Read More