Kisah para Belia di Lido

Penulis: Ferdian Ananda Majni Pada: Minggu, 25 Feb 2018, 11:00 WIB Jeda
Kisah para Belia di Lido

Sejumlah residen membersihkan kebun di rumah damping BNN Lido, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Rabu (21/2/2018)---MI/Ferdian Ananda Majni

BALAI Besar Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional (BNN) di Lido, Bogor, Jawa Barat itu telah menjadi rumah baru bagi remaja belasan tahun yang Media Indonesia jumpai Rabu (21/2).

Berkenalan dengan narkoba saat masih kanak-kanak, eksplorasi mereka pada aneka jenis narkoba pun tak kalah lengkap dari seniornya. A, 17, residen asal Cirebon, Jawa Barat, mengaku mengonsumsi obat antidepresan, ganja, alkohol, hingga suntik putau, sejak kelas 3 SMP. Pemicunya, perundungan yang ia terima dari teman-teman sekolahnya. Ketika ia disambut hangat oleh para bandar pun yang sesama pecandu, bukan cuma narkoba yang ia cari, melainkan juga interaksi yang intens dengan mereka yang sama-sama terjebak dalam lingkaran setan narkoba.

“Obat mudah didapatkan, awalnya saya minum tramadol sebanyak delapan butir, ada sensasi enak ketika meminum obat itu,” katanya.

Sementara itu, obat antidepresan, didapatnya dari bandar yang berdagang nyaris bebas di kawasan tempat tinggalnya.

Ia sempat menjalani perawatan dari psikiater di Jakarta, tetapi kembali kambuh, bahkan lebih parah. Namun, cinta tak bersyarat, orangtuanya yang bahkan menemaninya tidur untuk memastikan A tak menjamah narkoba, hingga berulang kali membawanya ke rumah sakit, akhirnya berujung di Lido.

“Sudah enggak kehitung berapa habis uang, nyandu 5 tahun, sehari aja harus ada uang Rp100 ribu. Sekolah juga berantakan selama jadi pecandu. Itu penyesalan saya,” kenang A yang mengaku sebulan di Lido telah belajar disiplin, menghormati nilai-nilai sosial, hingga beribadah.

“Setelah ini akan melanjutkan sekolah. Cita-cita saya menjadi psikiater, mengobati anak-anak yang menyalahgunakan narkoba,” sebut A yang pernah menjual gawai, menggadaikan STNK motor, hingga perabotan rumah.

Bandar muda
Drama serupa, anak-anak yang terlibat dalam pusaran narkoba juga dikisahkan B, 17, yang pertama kali mengisap ganja saat SMP. Pertama rokok, kedua nyimeng hingga berlanjut ke putau, inex, hingga sabu-sabu yang kemudian menjebaknya lebih dalam, hingga ia menjadi bandar.

“Saya bandar besar, jadi yang lebih untung itu bandar kecil. Jadi saya tidak cari untung, hanya ingin pakai, tetapi enggak beli. Kalau tidak kena sabu jadi lemas, kalau pakai lebih giat, enak, tetapi emosinya tinggi,” terang B yang kini ingin jadi polisi.

Di isolasi residen perempuan, juga tak kalah belia, ada residen dengan pakaian serbaoranye, penanda warga baru, ada C, 18. “Saya tidak pernah beli tapi mengonsumsi sabu bersama teman-teman, mereka lebih tua dari saya,” sebut C yang interaksinya dengan sabu, membuatnya hanya punya ijazah SMP.

Proses rehabilitasi medis kini ia jalankan dan akan terus berlanjut hingga detoksifikasi selama 2 minggu, dengan terapi simptomatik untuk memutuskan zat.

Aneka terapi
Ikhtiar negara buat menyelamatkan mereka yang terjebak narkoba, termasuk para belia, berwujud ane­ka fasilitas di Lido, mulai fasilitas kesehatan seperti ruang konseling, ruang icu, ruang penanganan medis EKG, poli gigi, dan ruang pemeriksaan otak, hingga ruangan residen.

Sebelum masuk, para residen atau calon penghuni terlebih dahulu akan mendapatkan screening dan intake, tes laboratorium, penilaian, hingga tes kesehatan dan urine.

Selanjutnya, detoksifikasi atau penanganan gejala putus zat dan intoksikasi dengan terapi simptomatik selama 2 minggu. Setelah itu masuklah mereka dalam proses entry unit atau fase stabilisasi pascaputus zat selama dua minggu lagi.

Pada tahap entry, para residen dipersiapkan secara mental dan fisik untuk program selanjutnya. Seluruh program pada tahapan ini akan berlangsung selama satu bulan.

Setelah itu, residen akan menjalani tahapan rehabilitasi sosial hingga belajar aneka keterampilan.

Regenerasi
Kehadiran para pemuda itu di Lido, kata Kepala BNN, Budi Waseso, memvalidasi strategi jaringan narkoba untuk senantiasa meregenerasi pangsa pasar, “Sebagian kemudian menjadi bagian dari mereka.”

Komitmen buat memulihkan mereka pun diuji dengan data, 3% pecandu kambuh kembali.” Istimewanya, ada pula residen yang sebetulnya telah siap buat kembali, justru tak mau keluar dari Lido karena merasa atau memang tidak diterima keluarganya.

Jangan biarkan drama itu terus memasuki babak baru, akhiri sekarang juga! (M-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More