Atas Nama Cinta

Penulis: Administrator Pada: Minggu, 25 Feb 2018, 17:00 WIB Weekend
Atas Nama Cinta

MI/PIUS ERLANGGA

BERAWAL dari cinta, segalanya menjadi tak terasa sengsara. Begitu pula cedera, tak lagi menjadi momok yang menjadi penghalang keinginan untuk melakukan olah raga yang dicintai. Itulah yang terjadi pada kebanyakan pencinta olahraga cheerleading. Salah satunya adalah Je Artofa, 23, yang pernah mendapat ujian cinta berupa cedera engkel dan tulang belakang.

"Sempat cedera juga, sempat vakum juga. Itu engkelnya sudah retak karena agak salah nangkapnya. Itu enam bulan recovery," terang pria yang bergabung dengan ICC All Stars sejak 2010 itu.

Je mengaku tidak kapok dengan cheerleading. Ia hanya tinggal menunggu sampai benar-benar pulih untuk kembali ke posisinya sebagai back bases yang bertugas mengangkat flyers.

"Emang sudah cinta. Kadang cinta itu membutakan," ujar Je sembari tertawa.

Cerita Je Artofa juga terjadi pada Nancy Mayta, 23. Nancy berposisi sebagai flyer. Dia menjadi orang yang dilempar ke udara. Dia pula yang membuat penonton menjadi merinding dengan aksinya. Posisi itu pula yang membuatnya harus menjalani istirahat selama 2 bulan untuk proses pemulihan.

"Otot sini sobek," ujarnya sembari menunjuk bagian bahu. Sama dengan Je, Nancy pun mengaku tidak kapok dengan cedera itu. Sebaliknya dia merasa kurang nyaman jika tidak melakonkan latihan cheerleading.

"Karena sudah cinta saja. Kalau enggak latihan malah enggak enak," terang perempuan yang telah menjadi cheerleader sejak SMP.

Menjadi seorang flyer, Nancy mengaku mengawali posisi itu dengan rasa takut. Bagaimanapun posisi flyer mengandalkan bases untuk menangkap tubuhnya saat mendarat. Namun rasa saling percaya menjadi kunci Nancy untuk melakukan tugas itu dengan lancar.

"Pertama sih masih takut, gugup, deg-degan. Cuma lama-lama udah percaya saja sama bases-nya, sama yang lemparnya. Semakin kita takut sih semakin bahaya. Jadi mau enggak mau saling percaya. Lama-lama sudah biasa," tambah Nancy yang masuk ICC All Stars dari tahun 2013.

Cheerleading memang identik dengan perempuan. Setidaknya begitulah pandangan masyarakat umum. Namun ternyata, olahraga itu malah diawali sekelompok pria penggemar olahraga di Amerika pada akhir abad ke-18.

"Cheer emang terkenalnya dengan cewek-cewek yang memakai celana pendek. Tapi sebenarnya kalau dikulik lagi sejarahnya, cheerleading itu awalnya dari cowok sebenarnya," terang Je.

Sebab itulah ICC All Stars juga mempunyai misi untuk memperkenalkan pada khalayak bahwa cheerleading adalah olahraga yang punya nilai kesetaraan. Artinya, pria dan peremupan sama bolehnya. Perempuan bisa diposisikan sebagai bases, bisa juga sebagai flyers. Begitu pula pria, bisa bases, boleh pula flyers.

"Kita sekarang kita juga dalam rangka memperkenalkan kalau misalkan cheerleading itu bisa buat laki-laki juga. Karena kita juga benar-benar semua kegiatan fisik," tegas Dini. (Zuq/M-4)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More