Melenting dengan Teknik

Penulis: Abdillah M Marzuqi Pada: Minggu, 25 Feb 2018, 16:00 WIB Gaya Urban
Melenting dengan Teknik

MI/PIUS ERLANGGA

TUBUH itu melayang berulang kali. Seolah menolak hukum alam, tubuh melenting ke udara hingga 5-7 meter. Untuk beberapa saat, terbebas dari gaya tarik bumi. Beberapa saat berada di udara, ia terjun bebas mendera bumi. Beruntung sebelum sampai pada permukaan keras, beberapa tangan sigap menangkapnya.

Gerakan melempar manusia itu tidak hanya sekali dilakukan. Terkadang hanya terlempar begitu saja, terkadang dengan variasi berputar di udara. Terkadang hanya satu tubuh yang terpelanting, tapi kadang tiga tubuh sekaligus. Seolah tak punya beban.

Mereka sanggup melakukan itu selama latihan berlangsung sekira 3-4 jam. Sungguh bukan anggap remeh untuk stamina dan daya tahan tubuh mereka. Meski cukup menguras energi, para anggota Indonesia Cheerleading Community (ICC) All Star tetap antusias dan bersemangat berlatih di arena terbuka Gelanggang Remaja Bulungan, Rabu (21/2) malam. Semua menggunakan pakaian olah-raga dan bersepatu.

"Kita latihan teknik cheerleading yang sudah advance sama yang baru-baru," terang pelatih Frida Dini, 29.

Dini tidak sendiri, ia ditemani tiga pelatih lain, yakni Mafiez Ramadhan, 29, Novan Jeremy, 34, dan Pleti Junias, 31. Mereka berempat memandu puluhan ICC All Star yang dibagi menjadi tiga kelompok. Satu kelompok ialah ICC All Stars Gold, sedangkan dua yang lain adalah ICC All Stars Red.

"Ada ICC All Stars yang Gold, yang katakanlah sudah senior, yang isinya perempuan dan laki-laki. Kemudian dua tim lainnya itu ICC All Stars Red yang isinya perempuan semua dan masih baru," sambung Dini.

Pemanasan
Latihan malam itu diawali dengan pemanasan. Para anggota melakukan pelemasan dan peregangan bersama-sama. Sesi pemanasan adalah sesi yang paling dalam cheerleading.

Menurut Dini, cheerleading mempunyai beberapa gerakan yang butuh tingkat kelenturan tinggi. Kelenturan itu berguna bagi flyers (anggota tim yang diangkat) agar mudah dilentingkan.

Pemanasan harus detail pada setiap anggota tubuh sang pemandu sorak. Gerakannya hampir sama dengan olahraga lain, hanya ada penambahan gerakan seperti kayang dan jumping jack.

"Sebenarnya sama saja sih seperti olah raga pada umumnya. Cuma kita seperti untuk fleksibilitas kakinya dilebihin. Sama kita biasanya ada kayang. Untuk menambah kelenturan yang diangkatnya saja sih," terang Dini yang mulai cheerleading dari SMP.

Usai pemanasan dengan benar, tubuh akan benar-benar siap untuk melakukan gerakan cheerleading yang banyak membuat tegang otot sekaligus membutuhkan kelenturan dan kelemasan tinggi sehingga mampu meminimalkan risiko cedera. "Biasanya mereka itu malas-malasan pemanasan karena takut keburu capek. Padahal inti utama kita latihan, pertama itu pemanasan," tegasnya.

Akrobatik
Usai pelemasan dan peregangan, dilanjutkan dengan tumbling. Gerakan akrobatik itu mirip melakukan gerakan salto atau meroda dengan macam variasinya dari mulai satu kali putar, hingga dilakukan berulang kali.

"Kemudian kita mulai materi cheerleading-nya. Teknik stunting itu teknik angkat orangnya. Mulai angkat sekedar berdiri dibahu, berdiri sebatas bahu, berdiri sebatas dada, kemudian yang di atas, lempar-lempar, dan kemudian piramid," sambung Dini yang malam itu menggunakan celana training panjang berwarna gelap.
Menurut Dini pola latihan semacam itu diterapkan pada tiap kali latihan. Setiap grup mendapat materi yang sama. Hanya tingkat kesulitan yang berbeda.

Untuk kelompok pemula (ICC All Stars Red) teknik stunting lebih sederhana dibanding kelompok senior (ICC All Stars Gold). Mereka hanya berdiri di paha para bases--anggota cheerleading yang berada di bagian bawah piramida. Sampai pada hitungan tertentu, sedangkan kelompok senior (Gold), sampai pada menahan flyer dengan tangan yang diangkat lurus.

"Itu sih setiap latihan, materi itu ada. Sebenarnya intinya setiap hari latihan masing-masing grupnya tetap sama materi latihannya. Karena pengulangan itu kan makin lama makin sempurna," tegas perempuan yang telah mengantongi sertifikat pelatih class 2 dari International Federation of Cheerleading (IFC).

Pemanasan itu merupakan kunci dari semua gerakan cheerleading. Pasalnya cheerleading adalah olahraga beresiko cukup tinggi dari mulai luka kulit, tulang, hingga otot. Resiko cedera itu tidak mungkin tidak ada, tapi bisa diminimalkan. Itulah terdapat peraturan yang harus dipatuhi agar olahraga itu tetap aman dan menyenangkan. Peraturan cheerleading menyangkut tingkat keamanan cheerleader-nya.

"Karena olah raganya cukup ekstrim dan tingkat cederanya lumayan tinggi. Jadi harus ada peraturan yang membatasi yang dilakukan para cheerleader ini agar resikonya berkurang," pungkas Dini.

Melihat gerakan-gerakan menakjubkan itulah yang membuat banyak orang tertarik dengan cheerleading. Apalagi dengan adanya media sosial, segala informasi bisa dapat dengan mudah diakses.

Di antaranya Fadhila Filza, 16, dan Denisha Ravelin, 17. "Pengin saja. Kayaknya seru saja gitu," terang Fadhila yang telah mengikuti latihan selama dua minggu.

Menurut Fadhila, sampai saat ini semua materi latihan masih bisa dia ikuti. Termasuk menjadi bases yang harus menanggung beban tubuh flyers dengan menggunakan paha.

"Aku baru awal-awal, jadi masih belum ada susah," terang Fadhila yang masih duduk di bangku kelas 2 SMA.

Sebenarnya di sekolah pun terdapat kegiatan cheerleader. Namun kedua perempuan itu sengaja memilih ICC All Stars sebagai tempat bernaung karena mereka ingin melanjutkan kegiatan itu bahkan sampai ketika telah lulus dari sekolah menengah.

"Ini beda sama sekolah. Kalau sekolah kan lulus sekolah udah gak lagi. Kalau ini kan klub, jadi bisa sampai entar kuliah, sampai lulus kuliah," terang Denisha. (M-4)

abdizuqi@mediaindonesia.com

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More