Dulu Dikejar Satpol PP, Kini Mengejar Mimpi

Penulis: Suryani Wandari Pada: Minggu, 25 Feb 2018, 13:00 WIB MI Muda
Dulu Dikejar Satpol PP, Kini Mengejar Mimpi

MENGAMBIL ancang-ancang dengan posisi membungkuk dan tangan menyentuh lantai bata merah pacuan, Miswanto, Sunara, Prayoko Wiyuda, dan Dodi Saputra bergantian menguji kecepatan lari sejauh 50 meter.

"5,97 detik, lumayan, ada tambahan kecepatan," kata pelatih saat Mamis, panggilan akrab Miswanto menyentuh garis finis.

Catatan waktu lari sprint itu memang membuat Mamis dan teman-temannya semangat untuk terus berlatih, apalagi setiap harinya, catatan waktunya pada Selasa (9/1), itu kian meningkat.

Sementara itu, di sisi lain lapangan Stadion Patriot Chandrabraga, Bekasi, tampak Abdul Ramanto dan Adelia sedang pemanasan meregangkan otot-otot bersama atlet lain lari maraton dan jalan cepat. "Mereka anak binaan Cahaya Anak Negeri, kami menyalurkan kekuatan fisik yang sebenarnya telah mereka punya sejak berada di jalanan," kata Nadiah Abidin, pendiri Cahaya Anak Negeri (CAN).

CAN atau semula bernama Sanggar Anak Matahari merupakan sebuah wadah yang menaungi anak jalanan, yatim, duafa, dan masyarakat yang membutuhkan di Bekasi dan Sukabumi. CAN selalu berusaha membantu anak-anak itu dengan menyelenggarakan program orangtua asuh dan pembinaan.

Dari jalanan ke arena
Ya, para atlet lari ini memang berasal dari jalanan. "Sebelumnya saya tinggal bersama abang dan orangtua saya, mengamen. Tapi akhirnya saya diajak untuk tinggal di CAN saat masih usia 8 tahunan," kata Mamis yang menceritakan kisahnya sambil berjalan pulang dari Stadion. Mamis merupakan anak jalanan yang sejak bayi sudah diajak mengemis oleh ibunya. Usia 5 tahun ibunya meninggal dan ayahnya pergi, tak mengurus, dan membesarkannya. "Saya tidak sekolah SD, saya ambil paket beberapa tahun belakangan ini karena di usia 15 tahun saya baru memulai untuk belajar menulis dan membaca," kata Mamis yang kini berusia 18 tahun.

Tak hanya itu, pengalaman hidup di jalan pun dirasakan Dodi, Yoko (Prayoko), dan Iyung (Sunara) Dodi yang sempat menjalani keseharian menjadi ojek payung. Pengalaman pahit pun ia rasakan ketika Kamtib (Keamanan dan Ketertiban) menyembunyikan payung sebagai penyambung hidupnya dan keluarga.

Sementara Iyung, sejak bayi ditinggalkan ibunya, kemudian hidup bersama neneknya yang seorang pengemis. Yoko, ayahnya pemakai narkoba dan pernah dipenjara, sedangkan ibunya juga pengemis. Mereka kini tinggal di CAN bersama-sama karena saat ini tempat tinggalnya berganti menjadi gedung apartemen.

Saat kecil Yoko dan Iyung mengaku kerap mengamen bersama dari angkot ke angkot lainnya, meskipun mereka dulunya merupakan musuh beda wilayah. "Iyung itu bocah lapangan, aku bocah pasar karena rumah dekat pasar. Suka berantem kalau ketemu tapi enggak tahu lama-lama akur," kata Yoko sambil tertawa.

Dikejar kurang lama
Diselingi tawa renyah teman-temannya usai membersihkan diri dan salat Magrib, Iyung kembali mengingat ingatan tentang pengalamannya mengamen dan dikejar Satpol PP. "Dulu ketika ngamen di angkot, tahu-tahu ada Satpol PP, kami dikejar. Kami lari tanpa arah dengan kencang, enggak ngelihat kanan kiri," kata Iyung.

Ada perasaan senang ketika mereka berhasil lolos dari tangkapan Satpol PP, tapi ada juga perasaan menyesal karena rupanya Satpol PP tak mengejar hingga jauh. "Kami capek lari kencang dan jauh, eh pas kami tengok ke belakang Satpol PP itu ngejar-nya cuma bentar," lanjut Yoko.

Beruntung memang mereka tidak tertangkap, berbeda dengan Mamis yang pernah ditangkap beberapa kali, dan masuk ke rumah pembinaan dinas sosial.

Ya, rata-rata mereka memang pernah dikejar Satpol PP, sehingga secara tidak langsung fisik mereka pun terlatih untuk lari kencang.

Ikut kejuaraan lari
Mereka memang belum lama ini bergabung dengan Club Atletik Patriot Candrabhaga Kota Bekasi. Sebelumnya hanya Manto, sapaan akrab Abdul Miswanto yang lebih dahulu mengikuti pertandingan lari pada perayaan Ulang Tahun Kota Bekasi 2016.

Manto mengungkapkan saat itu ia merasa tidak percaya diri lantaran saingannya atlet profesional semua, sementara dirinya belum punya pengalaman lomba lari, juga jarang latihan. Tapi dengan semangat menjadi juara agar bisa membantu membuatkan rumah kayu orangtuanya di Sukabumi yang mau ambruk, Manto beberapa kali juara di nomor maraton 5 km. "Pertama kali ikut lomba lari langsung menang Harapan 2. Senang sekali rasanya bisa ngalahin atlet profesional lainnya," ucap Manto.

Inspirasi dari Manto
Kemenangan Manto membawa angin segar bagi yang lainnya. Mereka yakin bisa pula berjuang untuk menang, terlebih latar belakang mereka sama. Mamis, Yoko, Iyung, dan Dodi memilih cabang lari sprint yang mengharuskan mereka harus berlari dengan kecepatan penuh dengan jarak tertentu. "Ini mengingatkan kami lari saat dikejar Satpol PP, kami harus lari sekencang-kencangnya," ucap Mamis.

Ya, pengalamannya lari kencang sudah pernah ia lakukan, yang terpenting bagaimana mereka bisa menyalurkan kekuatan fisiknya itu pada hal-hal positif. Begitu pula Adelia, binaan CAN yang juga berjuang di nomor jalan cepat. Latihan yang intens dan serius pun harus mereka lakukan bersama para atlet lainnya. "Senang sekali sekarang bisa mengejar mimpi, kami gabung dengan para atlet yang sebelumnya sama sekali tidak terpikirkan," ucap Adelia.

Berlari di Porda
Kini, Iyung, dan Yoko pun bahkan menjajal kemampuan pada nomor lari estafet yang diadakan Pekan Olahraga Daerah atau Porda 2018. "Iyung dan Yoko telah masuk pada tahap kualifikasi sedangkan yang lainnya perlu tanding lagi," kata Nadiah.

Meskipun terlahir dan dibesarkan di jalanan, mereka tak menyerah pada nasib, mereka pun punya mimpi, berguna buat sekitarnya. Mamis ingin menjadi anggota pemadam kebakaran, sedangkan Dodi dan Iyung bermimpi menjadi TNI.

Dengan segudang prestasi yang dimiliki, menjadi siswa berprestasi SMK Teratai, juara Silat, juara futsal, hingga juara azan, mereka pun terus berjuang demi mimpi. Langkah awalnya, menjadi juara di cabang lari. Apa yang mereka lalui di jalanan, ada pahit juga manisnya, menjadi modal mereka untuk mengungkit kehidupan keluarga. (M-1)


 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More