Mencari Orang Hilang dengan Identifikasi DNA

Penulis: Eijkman/national geographic/Grt/L-2 Pada: Sabtu, 24 Feb 2018, 05:16 WIB Eksplorasi
Mencari Orang Hilang dengan Identifikasi DNA

THINKSTOCK

Kehilangan anggota keluarga atau kerabat tak pernah diinginkan siapa pun.

Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa negara telah mengembangkan tes DNA untuk mencari anggota keluarga hilang.

Beberapa negara yang telah mengembangkan tes DNA untuk mencari korban hilang antara lain Amerika serikat dan Indonesia.

Cara ini biasanya merupakan tindakan terakhir yang dilakukan keluarga korban. Di New York, misalnya, telah dilakukan upaya nasional untuk mengumpulkan materi genetik dan mencocokkannya dengan jenazah yang tidak dikenal.

"Orang tidak akan pernah berhenti mencari," ungkap Barbara Sampson, kepala pemeriksa medis New York.

Sampson dan timnya mengambil sampel DNA dengan menyeka air liur keluarga terdekat korban. Mereka juga mengambil DNA dari barang-barang peninggalan korban, seperti sisir, sikat gigi, pisau cukur, hingga pembalut wanita.

Dengan cara ini, Sampson dan timnya berhasil mengidentifikasi sekitar 50 orang hilang setiap tahun.

Tak hanya di Amerika Serikat, uji DNA untuk menemukan anak hilang juga telah ada di Indonesia sejak beberapa waktu lalu.

Wakil Ketua Laboratorium Forensik Lembaga Eijkman Loa Helena Suryadi mengatakan DNA orang tua bisa digunakan untuk mencocokkan dengan DNA anak-anak yang ditemukan dalam kasus perdagangan anak.

"Barangkali ketika ada penangkapan kasus perdagangan anak. Kita tinggal cek dengan DNA," ujar Helena.

Sejarah penggunaan

Uji DNA untuk pencarian orang ini dipelopori Kantor Pemeriksa Medis Kota New York, tempat Sampson bekerja saat ini. Cara ini pertama kali digunakan pada peristiwa 9/11. Teknik itu berhasil mengidentifikasi puluhan ribu sisa manusia di reruntuhan World Trade Center.

Program pencarian orang dengan menggunakan DNA terus dikembangkan. Salah satunya ialah dengan mengambil sampel DNA dari serpihan tulang.

Hal tersebut dilakukan karena hingga saat ini uji DNA hanya menggunakan sampel yang berasal dari darah atau air liur. Padahal, keduanya sangat mudah hancur.

Teknologi genetika terbaru memungkinkan beberapa sel direproduksi untuk DNA yang dapat diidentifikasi tak terbatas.

Caranya, bahan genetik yang telah dihancurkan kemudian diputar dalam mesin pemisah. Selanjutnya dihasilkan cairan bening yang dituangkan ke dalam tabung reaksi. Tabung berisi cairan tersebut diberi kode batang dan disimpan dalam lemari besi terkunci.

Setelahnya dilakukan analisis dari tes tersebut untuk menghasilkan profil genetik. Profil genetik inilah yang dicocokkan ke bank data yang disebut National Missing and Unidentified Person System (AS).

Sistem ini mampu mencari kesamaan DNA yang mengindikasikan dua orang terkait. "Tugas kami membantu mengidentifikasi orang yang Anda kasihi dan mengembalikannya kepada Anda," kata Mark Desire, asisten direktur separtemen pemeriksa medis Biologi Forensik New York.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More