Inspirasi dari Keterbatasan

Penulis: Siti Retno Wulandari Pada: Sabtu, 24 Feb 2018, 03:01 WIB KICK ANDY
Inspirasi dari Keterbatasan

Dari kiri Untung Subagyo, Dissa Ahdanisa, Andy F Noya, Rachmita Harahap, Putri Sampaghita Santoso, dan Slamet Tohari. MI/SUMARYANTO BRONTO

Putri Sampaghita Santoso, Mimpi Peluang Usaha

KERAP mendapat penolakan tidak membuat langkah Putri Sampaghita Santoso mundur. Justru ia semakin bersemangat untuk bisa membuktikan keterbatasannya bukan penghalang untuk bisa sukses. Perempuan tunarungu ini pun lantas mendirikan yayasan yang diperuntukkan penyandang disabilitas tunarungu agar mereka memiliki keahlian dan mampu mandiri secara ekonomi. Sampaguita Foundation memberikan beragam pelatihan secara cuma-cuma sebagai bekal mereka untuk mencari pekerjaan. Mulai tata boga, membuat aksesoris, hingga menjahit.

Pelatihan tersebut juga mendapat dukungan dari banyak relawan yang ahli di bidangnya. Bahkan, aksesori buatan kaum disabilitas sudah dipasarkan secara daring hingga menyentuh pembeli dari Kanada. Sementara itu, bagi kaum disabilitas yang mahir menjahit, Putri membantu menyalurkan mereka ke industri garmen. Perempuan lulusan sarjana desain komunikasi visual dari Universitas Bina Nusantara memiliki mimpi kaum disabilitas dapat menciptakan peluang usaha.

Slamet Tohari, Kesetaraan dan Hak

KETERBATASAN fisik yang diikuti dengan keterbatasan ekonomi sempat memupuskan harapan Slamet Tohari untuk mengenyam pendidikan tinggi. Terjangkit polio sejak balita membuat pertumbuhan kaki Slamet tidak sempurna. Dirinya pernah berkecil hati pada dunia pendidikan. Tekad kuatnya justru muncul dan kini ia mencapai gelar master dari University of Hawaii dengan tesis Disabilitas dalam Sejarah Masyarakat Indonesia.

Saat ini Slamet memperjuangkan kesetaraan dan hak para penyandang disabilitas pada Pusat Studi dan Layanan Disabilitas di Universitas Brawijaya. Atas perjuangan dosen sosiologi ini, berbagai akses ramah disabilitas tersedia. Ia pun memberikan pendampingan bagi kaum disabilitas yang ingin kuliah di Universitas Brawijaya (Unibraw). Pihak kampus pun mengadakan seleksi khusus bagi kaum disabilitas. Karena itu, Unibraw menjadi pelopor kampus ramah disabilitas.

Rachmita Harahap, Kenali Potensi Diri

SUDAH 48 tahun Rachmita mengalami kehilangan indera pendengarannya. Meski dunianya sunyi, ia mampu membuat dirinya berarti. Yang dipegang hanya semangat dan kemauan untuk pantang menyerah. Kini Rachmita mendirikan yayasan yang bertujuan membuat seseorang dengan keterbatasan bisa tetap mandiri.

Semangat dosen dari perguruan tinggi swasta di Jakarta ini pun diakui anak didik. Jika ada penjelasan yang kurang bisa dipahami, mahasiswa tak segan untuk bertanya kembali. Pada 2001 Mita mendirikan Yayasan Sehat Jiwa dan Raga. Tujuannya menyediakan info lapangan kerja serta memberikan pendidikan bagi kaum disabilitas. Ia pun memotivasi kaum tunarungu dan mengajarkan pengenalan potensi dalam diri. Perempuan yang kini sedang melanjutkan pendidikan strata tiga di ITB ini menyerukan kunci keberhasilan ialah sabar, tabah, serta tekun.

Untung Subagyo, Gratis Angkat Berat

KETERBATASAN fisik karena polio yang diidapnya sejak usia satu tahun tidak membuat Untung Subagyo menyerah pada keadaan. Ia justru mengisi hidupnya dengan hal-hal produktif, tak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga berbagi dengan orang lain.

Salah satu kegiatan yang digelutinya ialah olahraga angkat berat hingga Untung berhasil meraih medali emas dalam sebuah kejuaraan. Kini Ketua Nasional Paralympic Komite Gunung Kidul ini membuka tempat latihan gratis olahraga angkat berat di halaman rumahnya. Siapa pun boleh datang dan berlatih.

Namun, bukan hal mudah untuk meraih apa yang didapatnya hari ini. Pandangan sebelah mata dan dikucilkan kerap menghampirinya. Ia tidak mau menyerah, pekerjaan demi pekerjaan tetap ia coba, termasuk menjadi petugas administrasi di sekolah dasar. Baginya, diskriminasi akan hilang dengan kesuksesan.

Dissa Ahdanisa, Perkenalkan Bahasa Isyarat

AKTIF dalam kegiatan sosial membuat sikap berbagi sudah tertanam kuat dalam diri Dissa Ahdanisa. Seusai menyelesaikan pendidikan di Australia, ia pulang ke Indonesia dan mendirikan kafe dengan penyandang tunarungu sebagai pramusaji. Kafe tersebut bernama Deaf Cafe Fingertalk di wilayah Tangerang Selatan. Pemberdayaan yang ia lakukan ini bahkan mendapat pujian dari Presiden Amerika Serikat Barack Obama.

Dissa mengaku terinspirasi dari sebuah kafe pelatihan bagi tunarungu di Kota Granada, Nikaragua, saat dirinya menjadi relawan di kota tersebut. Perempuan yang kini berusia 27 tahun ini ingin mengenalkan bahasa isyarat kepada masyarakat umum. Ia pun menyajikan lembar bahasa isyarat pada menu kafe agar setiap pengunjung bisa berkomunikasi.

Bahasa isyarat dipelajari Dissa selama satu tahun di Singapore Association for The Deaf. Mimpinya ialah bisa mendirikan pusat vokasional yang praktis bagi tunarungu agar bisa mandiri, kompeten, dan sejahtera.

(M-4)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More