Rama Mamuaya Narasi tentang Teknologi dan Perusahaan Rintisan

Penulis: M Taufan SP Bustan Pada: Kamis, 22 Feb 2018, 06:33 WIB Humaniora
Rama Mamuaya Narasi tentang Teknologi dan Perusahaan Rintisan

MI/M TAUFAN SP BUSTAN

SITUS itu mengisahkan teknologi buat mereka yang bergiat di dunia yang teramat cepat berubah itu, pun bagi yang awam.

Kisah tentang Dailysocial.id identik dengan kecintaan Rama Mamuaya, sang pendiri, terhadap teknologi. Sejak usia 7 tahun, ia sudah tidak asing dengan komputer. Gairah besar itu menjadi bahan bakarnya mendirikan perusahaan rintisan, Dailysocial.id.

"Kami merupakan media teknologi yang terfokus kepada informasi, opini, dan discovery. Situs ini peleburan dari Dailysocial.net yang fokus ke konten bisnis teknologi serta Trenologi.com yang fokus ke konten seputar gaya hidup teknologi sehingga kini pun Dailysocial.id terbagi menjadi dua kategori yakni, bisnis dan gaya hidup," kata Rama kepada Media Indonesia di kantornya di kawasan Tebet, Jakarta, Rabu (31/1).

Bisnis sampingan
Pria kelahiran Sukoharjo 23 Juli 1985 ini bercerita, Dailysocial.id dirintis mulai 2008, berawal dari pekerjaan sampingan yang belum diketahui prospeknya juga sumber penghasilannya.

Saat itu Rama baru saja lulus kuliah dan bekerja sebagai programer di beberapa start-up yang jadi memang jadi minatnya.

"Saya sempat bekerja di Propertikita.com sebuah perusahaan Singapura dan agensi digital Bubu Jakarta."

Saat itu ia awas pada pergerakan start-up. Namun, ternyata kiprah mereka itu luput dari publikasi media. Padahal, kata Rama, secara bisnis dan teknologi mereka semua itu keren dan berdampak pada pergerakan ekonomi. Sebut saja waktu itu ada Tokobagus.com, Bukalapak.com, dua market place terkemuka, pun start-up lain.

Rama kemudian menuliskan kisah sukses orang-orang muda entrepreneur itu. "Karena saya suka dengan dunia teknologi, saya sering menuliskannya di blog tentang perusahaan-perusahaan teknologi itu."

Terus menulis, Rama belum terpikirkan pada dampak karya tulisnya. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, Rama mengamati, makin lama makin banyak orang datang dan membaca karyanya hingga berkomentar.

Merespons tanggapan pembacanya, Rama lalu mengajak rekannya untuk mendirikan Dailysocial.id.

"Kami mengerjakan Dailysocial.id setelah pekerjaan utama kami selesai. Pokoknya belum tahu akan jadi apa, kami terus menulis kisah-kisah orang sukses itu. Setiap hari kami lakukan seperti itu hingga akhirnya apa yang kami buat itu, banyak yang melirik. DailySocial.id pun makin kami kembangkan," terangnya.

Anak pertama tiga bersaudara itu belum menganggap kiprahnya juga berpeluang bisnis. "Namun, karena semakin banyak yang membaca, saya mulai tersadar akan potensi bisnis ini, apalagi waktu itu industri teknologi di Indonesia sedang berkembang pesat."

Raih investor
Bersama mitranya, Rama terus belajar dan bertemu pendahulunya yang sudah lebih dulu sukses membangun start-up hingga akhirnya mendapatkan pendanaan awal dari Merah Putih Incubator.

"Itu inkubator bisnis milik Grup Djarum. Mereka investor awal kami. Setelah bergabung dengan mereka, kami dapat banyak pelajaran penting," ungkap Rama.

Optimismenya memacu Rama berani keluar dari pekerjaannya untuk fokus pada start-up-nya meski saat itu pekerjaan sudah mapan dengan penghasilan cukup tinggi. "Saya sadar, setelah menjadi entrepreneur, pemasukan atau gaji turun menjadi setengah adalah hal wajar."

Konsistensinya kini berbuah, Dailysocial.id tumbuh pesat, dari seorang diri, kini dikawal 30-an karyawan. Laba dijaring, pun investor terus bertambah, dari lokal, Singapura, hingga Jepang.

"Sekarang ada empat investor, mulai Merah Putih Incubator (Indonesia), Optimatic Pte Ltd (Singapura), B Dash Ventures (Jepang), dan Emera Kapital (Indonesia)," ungkap ayah dua anak ini.

Tiga lini bisnis
Saat ini Dailysocial.id fokus kepada tiga lini bisnis, media industri teknologi, riset seputar teknologi, dan membantu korporasi-korporasi besar, seperti bank, terjun ke digital. Pendapatan Dailysocial.id pun bersumber dari tiga lini bisnis itu.

"Terkait media, pengguna bisa mengetahui update tentang teknologi yang tengah booming di dunia termasuk Indonesia. Kami tidak menjual iklan atau pun advertorial, layaknya pemasukan media pada umumnya, namun lebih mengedepankan promosi berita seputar teknologi."

Sampai saat ini sekitar 1 juta pengguna setiap bulan masuk ke laman Dailysocial.id, mayoritas pegiat start-up. "Kami hanya fokus kepada orang-orang yang cinta teknologi. Jadi, tidak semua orang ketika masuk pada isi Dailysocial.id, berbeda dengan mereka yang paham teknologi," jelas Rama.

Kini buat bertahan dan senantiasa eksis, Rama berupaya selalu berinovasi, termasuk dengan membangun komunitas yang rutin berkumpul. "Namanya Selasa Startup. Itu wadah yang kami buat untuk bertemu dengan anggota-anggota komunitas, termasuk pembaca kami," ujar Rama.

Kuncinya, sukses meriset
Dari komunitas itu, Rama melihat dunia start-up semakin berkembang. Dari data Dailysocial.id saja, tidak kurang 700-san start-up bermunculan sepanjang 2017. Beberapa kemudian kandas karena minimnya riset.

"Riset adalah kunci utama ketika ingin membangun start-up. Banyak entrepreneur baru, risetnya dangkal. Apalagi kalau sebuah produk yang ingin dikembangkan mencontek dari negara luar. Akhirnya ketika baru mulai, langsung kandas. Meskipun modalnya besar, kalau tidak ditunjang riset produk yang pas dengan pasar, susah."

Rama mencontohkan, start-up di bidang perjalanan yang banyak bermunculan. Faktor lain, komitmen untuk total dan fokus. "Ketika seseorang hanya memberikan 50% waktunya, pasti tidak akan sesuai harapan," tegas Rama.

Kolaborasi di kampus
Kiprah panjang Rama di dunia teknologi dirintis sejak kuliah kendati di awal ia memutuskan tak terlampau serius karena merasa apa yang diajarkan sudah ia ketahui. Karena itu, di dua tahun pertama ia hanya datang ke kelas dan tanda tangan absen, tetapi tidak pernah serius belajar.

"Tidak mengherankan, IP semester pertama saya cuma 2,5. Ayah saya kaget. Di semester kedua, IP saya jatuh menjadi 1,9. Tetapi ayah tidak mempermasalahkan karena beliau tahu saya sudah paham," ujarnya.

Di semester lima, Rama mulai serius karena waktu itu ia sudah mengajar programming pada senior-seniornya, setahun di atas Rama.

"Waktu itu juga saya sudah bekerja sebagai asisten lab," kenangnya. Dari situ, Rama bertemu dengan hal-hal dan orang-orang baru. Ia pun berinteraksi dengan perusahaan-perusahaan besar, seperti Microsoft dan Oracle, yang berkolaborasi dengan kampusnya.

"Jadi, dengan sendirinya saya terekspos dengan orang-orang hebat itu," katanya. (M-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More