Derita Warga Rawa Bokor Dikepung Proyek Tol JORR

Penulis: Akmal Fauzi Pada: Rabu, 21 Feb 2018, 20:41 WIB Features
Derita Warga Rawa Bokor Dikepung Proyek Tol JORR

Dok. MI

JANAH, 38, duduk termenung di bangku teras rumahnya. Ia sesekali berteriak memanggil anaknya, Fikri, 6, agar tidak bermain di lokasi proyek tol Jorr II ruas Cengkareng-Batu Cepar-Kunciran yang persis di belakang rumahnya, Rawa Bokor, Kelurahan Benda, Tangerang.

Kekhawatiran saban hari menghinggapinya. Maklum, proyek tol yang yang menghubungkan Bandara Soekarno-Hatta hingga Cibitung itu 'mengepung' rumahnya dan lima rumah lainnya

Akses mereka terputus oleh gundukan tanah setinggi dua meter dari proyek tol tersebut. Jika hujan turun, genangan air tidak jalan berimbas banjir tak kunjung surut.

"Anak saya enggak sekolah pas hujan, saat Imlek kemarin banjir satu meter baru surut tiga hari, enggak bisa ke mana-mana. Tapi sekarang di dalam rumah saya masih banjir, di kamar, dan di dapur," ujarnya saat ditemui di rumahnya di RT 02/01, Kampung Rawa Bokor, Rabu (21/2). Ia ditemani Yusnina, 38, tetangganya yang mengeluhkan hal yang sama.

"Kalau hujan jalan becek itu gundukan tanah merah licin semua. Anak-anak kasian, banjir, bisa-bisa tenggelam rumah kami," tambah Yusnina

Di tempat itu, hanya tersisa enam rumah yang ditinggali sekitar 30 jiwa yang masih bertahan di tengah proyek tol Jorr II. Lahan mereka tidak dibebaskan oleh Direktorat Jendral Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumaha Rakyat (Kemen PUPR) sebagai penanggung jawab proyek tol Jorr 2 itu.

Tetangga mereka yang tinggal di RT 02/01 sekitar 150 KK sudah dibebaskan lahannya, dan diganti rata-rata senilai Rp8 juta per meter. Namun tidak bagi enam rumah yang saat ini masih berdiri.

"Di sini ada anak kecil sekitar 10 orang setiap hari main di tengah proyek. Ada jompo juga sudah stroke nangis mulu apalagi kalau dengar suara mesin (alat berat)," ungkap Yusnina.

Alasannya rumah mereka tak dibebaskan karena lahan yang ditempati tidak masuk trase dampak dari pengerjaan proyek. Namun, posisi rumah mereka terkepung antara proyek tol Jorr dan tembok perumahan Taman Mahkota.

Bahkan, gundukan tanah proyek tol JORR II saat ini sudah mulai dibangun tembok pembatas. Praktis akses jalan mereka yang selama ini melintasi gundukan tanah akan terputus.

"Uang berisik (suara alat berat pengerjaan proyek) pun enggak dibayar. 24 jam pengerjaan suara alat berat juga mengganggu," keluh Yusnina lagi.

Bahkan, saat Media Indonesia mengunjungi ke lokasi, Rabu (21/2) getaran dari eskavator yang meratakan gundukan tanah begitu terasa. Beberapa bagian dari rumah itu retak akibat getaran yang ditimbulkan.

Kondisi diperparah dengan sampah sisa banji yang berserakan di tengah pemukiman warga. Sementara saluran air terlihat sudah mampet tumpukan sampah.

Praktis saluran air dari rumah ke luar tidak jalan. Warga jika ingin keluar harus melintasi gundukan tanah merah proyek setinggi dua meter. Jika hujan turun berimbas jalan licin dan cukup membahayakan warga.

Andi, 37, warga lainnya menceritakan, nasib mereka terkatung-katung sejak 2013 saat sosialisasi proyek tol Jorr II ke warga oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Kegiatan Pengadaan Tanah Tol Jorr II, dan Badan Pertanahan Nasional (BPN) mengukur bidang lahan milik warga.

"Enggak lama keluar hasilnya kalau ada tiga bidang lahan yang saat ini dihuni enam rumah enggak masuk trase pengerjaan," ujar Andi.

Meski tidak terkena secara langsung proyek tersebut, dari awal rencana pembangunan, berdasarkan hasil kesepakatan musyawarah bersama BPN dan pihak PPK diikuti Kecamatan Kelurahan, tiga bidang tanah tersebut disepakati akan dibebaskan bersamaan dengan bidang-bidang lain

"Tapi sejak 2014 kami meminta kejelasan ganti rugi belum jelas. Kami dilempar-lempar dari BPN Kota, Kanwil BPN Provinsi Banten. Sekarang katanya masih dibahas di Kemen PUPR belum ada kabar lagi," tandas Andi.

Hingga pada 2017 pengerjaan mulai dilakukan dengan pengurukan tanah. Rumah-rumah yang bermukim selain keenam rumah itu sudah dirobohkan. Sampai sekarang nasib mereka belum ada kejelasan.

"Kami meminta kejelasan jangan sampai warga digantung seperti ini. Tinggal dikepung proyek gak ada akses," ujarnya

Andi saat ini memilih mengontrak bersama anggota keluarganya tak jauh dari lokasi. Rumahnya kosong dan masih tersisa genangan air di dalam rumah. Bahkan, listrik rumah miliknya sudah diputus tanpa alasan jelas akibat pengerjaan proyek.

Sekretaris Kelurahan Benda Syukur Yakub mengatakan, pihaknya bersama perwakilan warga sudah beberapa kali bertemu pihak PPK Pengadaan Lahan Tol Jorr II untuk membahas nasib 3 bidang tanah yang tidak mendapat pergantian lahan itu.

"Prosesnya sekarang di Kemen PUPR. Masih dibahas bagaimana kelanjutannya. Belum ada lagi kelanjutannya," tukas Syukur.

Ia kemudian menunjukan surat dari Kemen PUPR ke BPN Pusat perihal permohonan petunjuk penyelesaian sisa dan tanah terdampak yang dikirim 25 Januari 2018. Di surat itu tertulis permohonan petunjuk dan kriteria atas tanah ihwal ganti rugi lahan.

"Sampai sekarang belum ada kabar lagi. Dampaknya memang cukup mengkhawatirkan mereka enggak ada akses, hujan bisa banjir lama surut," ujarnya

Ia menjelaskan, di wilayahnya ada 224 bidang di RW 01 dan 03 yang terkena dampak proyek tol JORR II itu.

"Sekarang tersisa enam rumah ini yang belum jelas bagaimana nasib ganti rugi lahannya," kata Syukur lagi. (OL-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More