Singa Putih Terbaru Perkaya Taman Safari Indonesia

Penulis: Dede Susianti Pada: Selasa, 20 Feb 2018, 08:59 WIB IMLEK
Singa Putih Terbaru Perkaya Taman Safari Indonesia

MI/Dede Susianti

SEKARANG Taman Safari Indonesia memiliki koleksi fauna terbaru buat para pengunjung. Hewan itu ialah singa putih asli alias bukan albino.

Singa itu bernama Link, berusia 4 tahun. Link menjadi pelengkap lima singa putih lain yang telah ada di Taman Safari Indonesia.

Seluruh singa putih itu didatangkan dari Kanada. Para pengunjung sejatinya telah dapat melihat lebih dekat penghuni baru di lembaga konservasi itu sejak Tahun Baru Imlek atau Jumat (16/2).

Menurut Direktur Taman Safari Indonesia Jansen Manansang, setelah menjalani masa karantina, satwa itu akan diperlihatkan ke publik di tempat bernama Baby Zoo sebagai bagian dari program pendidikan.

“Saat ini singa-singa itu terus dalam pengawasan maupun perawatan keeper perawat,” kata Jansen.

Drh Dita menambahkan Link memiliki bobot mencapai 200 kilogram. Enam singa putih yang berada di Taman Safari Indonesia terdiri dari 2 pejantan dan 4 betina.

Salah satu perawat singa putih itu bernama Angga. Ia selalu setia memberikan makanan kepada hewan buas itu.

“Makanan singa itu berupa daging segar. Kami biasa memberikan daging kanguru sebanyak 5 kilogram per hari,” tuturnya.

Di antara singa putih itu terdapat singa jantan bernama Link. Ada pula singa betina bernama Ghost dan Loki.

Jansen Manansang berharap singa-singa putih itu dapat berkembang biak dengan baik. Putihnya kulit singa bukan disebabkan albino atau rekayasa gen, tapi memang pigmen putihnya lebih banyak daripada yang cokelat.

Sekadar informasi, satwa asli asal Timbavati, Afrika Selatan, itu pertama kali ditemukan pada 1938. Singa putih tergolong spesies satwa langka yang ada di dunia.

Keberadaan singa putih kini hanya sekitar ratusan ekor. Karena warna kulitnya yang putih, raja hutan itu sulit berkamuflase di alam liar sehingga sukar mencari mangsa. Seperti kita tahu, singa di Afrika pada umumnya memiliki kulit berwarna cokelat. (DD/S-4)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More