Pedagang Nikmati Angpau Tebal

Penulis: Aries Munandar Pada: Senin, 19 Feb 2018, 07:06 WIB IMLEK
Pedagang Nikmati Angpau Tebal

MI/ARIES MUNANDAR

MOMENTUM Tahun Baru Imlek menebarkan banyak angpau bagi warga Tionghoa, termasuk para pedagang. Tek Song alias Asong merasakan keberkahan itu sejak sebulan menjelang pergantian tahun berdasarkan penanggalan Tionghoa tersebut. Pemasukan itu diperolehnya dari keterampilan merangkai replika meihwa.

”Saya memulainya sekitar tiga minggu lalu. Mereka ada yang membeli secara eceran. Ada pula borongan,” kata lelaki berusia 48 tahun tersebut di Pontianak, Kalimantan Barat, Sabtu (10/2).

Meihwa merupakan sejenis sakura yang banyak tumbuh di daratan Tiongkok. Bunganya bermekaran pada setiap musim semi bersamaan dengan pergantian tahun Imlek. Meihwa pun identik dengan perayaan Tahun Baru Imlek sehingga replikanya dijadikan hiasan yang menyimbolkan harapan, kebahagiaan, dan keuletan.

Replika meihwa seperti yang dibuat Asong berbentuk bonsai. Batangnya berasal dari akar pohon berkayu dan dikelir hitam. Bunga imitasi digunakan sebagai kuntum replika. Jumlahnya sebanyak 30 hingga 150 kuntum setiap replika. Pangkal batang replika dicor di pot agar bisa berdiri tegak.

Asong sudah lima tahun menggeluti bisnis itu. Dia mengkreasikan meihwa dengan berbagai bentuk dan ukuran. Sebentuk replika dilegonya sebesar Rp300 ribu hingga Rp3 juta. Semakin besar dan tinggi, harganya semakin mahal karena membutuhkan banyak bahan baku dan waktu pengerjaan.

”Ukuran kecil bisa diselesaikan dalam satu hari dan ukuran besar butuh tiga hari,” ujarnya.

Lelaki berperawakan besar itu harus merogoh sekitar Rp20 juta sebagai modal awal setiap tahun. Sedikitnya ada 100 replika yang dia bikin dan habis terjual saban menjelang Tahun Baru Imlek. Dari situ dia bisa menangguk keuntungan sekitar Rp15 juta hingga Rp30 juta dalam sebulan.

Asong membuat langsung replika meihwa di lokasinya berjualan, yakni di teras salah satu ruko di Jalan Purnama. Itu menjadi lokasi berjualannya yang keempat. Walaupun sering berpindah tempat dengan jarak berjauhan, Asong tidak pernah kehilangan konsumen setia.

Mi asin
Tahun Baru Imlek juga mendatangkan keberkahan tersendiri bagi keluarga Sunyoto Tedjo alias The Ngak Chun. Produksi mi asin mereka menggeliat kembali dalam sebulan terakhir. Mi yang biasa hanya diproduksi seminggu sekali sekarang mampu mencapai tiga kali seminggu karena permintaan melonjak.

”Sekali produksi sekitar 35 kilogram pada hari biasa maupun menjelang (Tahun Baru) Imlek. Cuma pembuatannya bisa 2-3 kali seminggu setiap menjelang (Tahun Baru) Imlek,” tutur Venddy, 30, putra bungsu Sunyoto.

Mi asin merupakan mi kering dan berasa asin. Rasa tersebut berasal dari penggaraman selama proses produksi. Mi asin menjadi menu khas dalam setiap perjamuan besar menjelang Tahun Baru Imlek. Namun, mi ini dapat pula direbus atau disajikan sebagai campuran sup.

Mi asin merupakan produk sampingan yang diproduksi keluarga Sunyoto. Produk utama mereka ialah mi basah dan pangsit. Namun, menjelang Tahun Baru Imlek posisi mi basah digeser mi asin. Sunyoto, yang karib disapa Achun, mematok Rp30 ribu untuk setiap kilogram kemasan mi asin.

”Mi kering pada hari biasa jarang laku, tetapi menjelang (Tahun Baru) Imlek cepat habis,” ujar lelaki berusia 67 tahun tersebut.

Selain mi asin, ada pula kue keranjang yang khas muncul saat Tahun Baru Imlek. Pesanan yang melonjak menjelang hari raya tersebut juga mendatangkan keuntungan bagi Tan Joe Lie alias Alie, 56. Sedikitnya Rp40 juta hingga Rp50 juta terkumpul dari penjualan kue keranjang buatannya.

Alie meneruskan usaha warisan keluarga. Mereka memproduksi kue keranjang hanya pada saat menjelang perayaan Tahun Baru Imlek. Mereka biasa menghabiskan sebanyak 3 ton tepung ketan dan 1 ton gula pasir untuk membuat sekitar 3 ton kue keranjang. (S-4)

aris@mediaindonesia.com

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy meminta sekolah untuk melakukan pengecekan surat keterangan tidak mampu (SKTM) dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB). Hal itu dilakukan untuk menghindari penyalahgunaan SKTM agar diterima di sekolah negeri. Pasalnya, dalam Permendikbud 14/2018 tentang PPDB disebutkan kuota minimal untuk siswa tidak mampu sebanyak 20%. Apakah Anda setuju pihak sekolah harus melakukan pengecekan dan tidak langsung menerima begitu saja SKTM tanpa verifikasi ke lapangan?





Berita Populer

Read More