Diet Kekinian ala Kaum Urban

Penulis: Rizky Noor Alam Pada: Minggu, 18 Feb 2018, 15:07 WIB Jeda
Diet Kekinian ala Kaum Urban

THINKSTOCK

SUDAH sejak remaja artis Tina Toon melakukan diet, alasannya karena kesehatan. Pasalnya, perempuan berusia 24 tahun tersebut sudah merasa overweight sejak kecil. Tina mengaku tidak ada metode khusus yang dilakukannya saat berdiet. Diet yang dilakukannya sendiri tergolong sederhana, yaitu hanya mengurangi konsumsi nasi, tidak makan malam, dan rutin berolahraga.

"Dulu waktu umur 17 tahun, turun 25 kg dalam waktu 8 bulan. Alasannya dulu yang namanya remaja memang ingin kurus dan alasan utamanya memang untuk kesehatan, karena dulu sudah overweight waktu kecil, jadi pengen lebih kentang aja," ungkap Tina kepada Media Indonesia (14/2).

Dalam berdiet pun, Tina mengaku tanpa melakukan konsultasi dengan dokter. Dirinya belajar secara autodidak dari internet dan disesuaikan sendiri dengan kondisi tubuhnya. "Kalau kendala yang sering dirasakan itu paling ya lapar sama kita butuh effort yang besar untuk berolahraga," imbuh perempuan yang memiliki nama asli Agustina Hermanto tersebut.

Sebagai seorang public figure, Tina pun sudah membagikan kiat-kiat suksesnya dalam berdiet dan menjalani hidup lebih sehat. Hal tersebut dilakukan guna menginspirasi masyarakat umum maupun para fannya mengenai bagaimana dirinya dapat bermetamorfosis seperti saat ini. Hal tersebut pun dituangkan melalui buku karyanya yang berjudul Tina Toon Metamorfosis yang terbit pada 2013, dan hal tersebut pun masih dilakukannya melalui video-video yang diunggahnya di akun Youtube pribadinya.

Sementara itu, Desak Made Hughesia Dewi atau yang lebih dikenal dengan Dewi Hughes juga memiliki pengalaman diet yang menarik. Artis multitalenta berusia 46 tahun tersebut mengaku juga sudah melakukan diet sejak remaja atas dasar ikut-ikutan temannya pada waktu itu. Beragam diet sudah dia coba.

"Masuk ke masa remaja baru berpikir kenapa orang-orang kecil sekali, lalu mulai melihat teman saya ke sana ke mari mencari dokter, minum obat pelangsing, dan saya ikut-ikutan teman dulu dan tidak ada yang berhasil," ungkap Dewi kepada Media Indonesia (14/2).

Dewi pun mengaku dirinya sudah mencoba beragam jenis diet seperti diet yang cuma makan daging saja atau yang dikenal dengan tiger diet dan tidak ada yang berhasil, karena begitu berhenti diet berat badan pun kembali ke ukuran semula bahkan lebih parah. "Saya juga pernah olahraga gila-gilaan tapi hasilnya sempat kurus tapi naiknya cepat sekali dan kembali lagi ke 150 kg," tambahnya.

Pada 2008, Dewi Hughes sudah mulai merasa sakit pada tubuhnya dan saat memasuki usia 40 tahun dirinya pun harus mengakui bahwa dia sudah obesitas. "Sudah dari 2013-2015 saya suntik pain killer, akhirnya di 2015 tersebut bukannya sembuh tapi sakitnya terus-terusan dan terakumulasi. Di 2015 akhir itu rasa sakitnya benar-benar sudah tidak mempan lagi pakai pain killer dan di situ saya tidak bisa bergerak, bergerak bisa tapi sakit," jelasnya.

Pada awal 2016 dirinya mulai melakukan diet, dan dietnya pun berhasil menurunkan berat badannya 11 kg dalam sebulan dengan kondisi perut yang terus kenyang. Sejak itulah teman-temannya menamai diet yang dilakoninya sebagai diet kenyang. "Saya menikmati banget makan sehat, makan kenyang, makan terus tapi berat badan saya turun terus," paparnya.

Diet keto fastosis
Selain itu, metode diet lainnya yang sedang digandrungi masyarakat ialah diet keto fastosis atau yang lebih dikenal dengan diet keto. Tyo Prasetyo Founder dari Protokol Fastosis yang digunakan di Komunitas keto-fastosis (KF) Indonesia sebagai pedoman gaya hidup keto-fastosis yang mengacu ke ancestral lifestyle menjelaskan bahwa keto-fastosis ialah gaya hidup berpuasa dengan membatasi jendela makan setiap hari, yaitu antara 4-8 jam jendela makan (intermittent fasting) sehingga mudah menciptakan pembatasan kalori dalam pola makan sehari-hari (calorie restriction).

Tyo menjelaskan makanan yang dimakan harus yang sangat rendah karbohidrat. Hal tersebut bertujuan agar dapat menjaga kemampuan tubuh untuk tetap mudah mempertahankan adaptasi kemampuan membakar lemak (fat adapted) dan juga mudah mengakses cadangan lemaknya sendiri dari sel-sel lemak (body fat) yang tersimpan banyak di dalam tubuh ketimbang menggunakan glycogen (cadangan glukosa sementara) yang terbatas jumlahnya.

Dengan demikian, tubuh manusia akan menjadi sangat efisien untuk mengoptimalkan utilisasi sumber energi dari cadangan lemak ditubuh, di mana sel-sel otak sebagai konsumen energi terbesar ditubuh setiap saat, akan mendapatkan bahan baku energi konstan setiap saat pula melalui utilisasi Ketone yang berasal dari konversi lemak di liver.

Dengan metode diet tersebut, sel-sel lain ditubuh akan juga menjadi lebih efisien dalam menggunakan lemak untuk kebutuhan energi melalui proses respirasi di dalam sel (mitochondria) dan juga menggunakan glukosa dalam jumlah kecil yang diproduksi di liver (gluconeogenesis) untuk memenuhi kebutuhan sel-sel nonoksidatif seperti sel darah merah. Lemak sebagai sumber energi dominan ditubuh dan juga bahan baku ketone untuk sel-sel otak dapat diperoleh dari cadangan lemak (body fat) yang melimpah ditubuh melalui proses degradasi di dalam sel-sel lemak pada jendela puasa, maupun melalui sumber makanan melalui penyerapan lemak di usus pada jendela makan.

"Dengan demikian gaya hidup keto-fastosis yang melakukan pembatasan kalori setiap hari untuk dapat menjaga kesehatan metabolisme ditubuh, akan sangat mudah dilakukan tanpa perlu mengalami penurunan energi di otak (neuroglycopenia) maupun di fisik dalam kehidupan sehari-hari," imbuhnya.

Tyo memaparkan, untuk menjaga kondisi ketosis tetap baik, harus memperhatikan jumlah karbohidrat yang masuk dari makanan agar tidak menyebabkan kenaikan hormon insulin yang akan menekan utilisasi lemak dan ketone sebagai sumber energi utama ditubuh. Itu sebabnya disarankan untuk memperhatikan makronutrisi ketimbang nama makanan di gaya hidup keto-fastosis, sehingga mudah mengetahui jenis makanan apa yang memiliki kandungan karbohidrat tinggi dan menghindarinya.

Tyo menjelaskan bahwa pada komunitas keto-fastosis setiap orang saling tolong menolong dalam menjalankan protokol gaya hidup tersebut, dimana senior-senior yang sudah lebih dulu menjalankan keto-fastosis turut membantu membimbing member baru yang bertanya melalui media sosial seperti grup Facebook Keto-Fastosis Indonesia. Juga melalui aplikasi mobile seperti Whatsapp dan Telegram, yakni komunitas keto-fastosis memiliki banyak grup resmi yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia, dan setiap grup-grup tersebut memiliki FIC (fastosis in charge) yang merupakan bagian dari manajemen keto-fastosis, yang bertugas menjaga protokol keto-fastosis dan membantu member-member keto-fastosis untuk menjelaskan bagaimana menjalankan protokol secara baik dan benar.

Sementara itu, dalam kesempatan berbeda, Grace Judio, dokter dan pemilik dari klinik penurunan badan Lighthouse menjelaskan bahwa metode-metode diet yang ditawarkan dalam kliniknya bermacam-macam disesuaikan dengan pola hidup dan banyaknya penurunan berat badan yang diinginkan.

"Tetapi kami juga melakukan DNA test untuk mengetahui kecenderungan genetik seseorang apakah dapat mencerna karbohidrat, lemak, atau protein dengan baik. Lalu, kita sesuaikan pola makannya dengan gen tersebut," jelas Grace kepada Media Indonesia (15/2).

Menurutnya, agar diet dan asupan gizi tetap terjaga, dibutuhkan latihan mengontrol diri yang dibarengi dengan pengetahuan yang cukup tentang nutrisi dan dapat memodifikasi sendiri pola makan yang sesuai dengan situasi, misalnya saat acara keluarga, ke luar kota, atau liburan. Butuh latihan dengan pendampingan ahli gizi. (M Taufan SP Bustan/Abdillah M Marzuqi/M-2)

rizkynoor@mediaindonesia.com

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy meminta sekolah untuk melakukan pengecekan surat keterangan tidak mampu (SKTM) dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB). Hal itu dilakukan untuk menghindari penyalahgunaan SKTM agar diterima di sekolah negeri. Pasalnya, dalam Permendikbud 14/2018 tentang PPDB disebutkan kuota minimal untuk siswa tidak mampu sebanyak 20%. Apakah Anda setuju pihak sekolah harus melakukan pengecekan dan tidak langsung menerima begitu saja SKTM tanpa verifikasi ke lapangan?





Berita Populer

Read More