Kisah Inspiratif, Ibu Berdaya dan Anak Tunanetra

Penulis: Ferdian Ananda Majni Pada: Sabtu, 17 Feb 2018, 16:10 WIB Humaniora
Kisah Inspiratif, Ibu Berdaya dan Anak Tunanetra

Ist

"FOKUSLAH pada kelebihannya, bukan meratapi kekurangannya yang tak bisa melihat, mendengar, ataupun berjalan. Seseorang yang memiliki kekurangan dalam pancaindra tidak selalu tak membanggakan."

Pagi yang riuh di sepanjang jalan Merdeka, puluhan bemo roda tiga mendominasi area gedung wali kota. Diikuti beberapa angkot-sering kali disebut 'mobil honda', becak dan sepeda motor. Hanya segelintir mobil pribadi yang melintas. Udara pagi yang segar mengalirkan semangat hari Jumat, perasaan jadi lebih happy karena besok sudah berakhir pekan.

Berbekal radio walky talky, saya menjelma menjadi anak gaul Bandung yang kerap menghabiskan akhir pekan nongkrong bersama teman-teman. Ini gawai anak gaul zaman dulu. Cara kerja walky talky sama dengan radio biasa, yaitu mengunakan gelombang untuk menghubungkan satu orang dengan orang lainya.

Untuk semakin mempererat jalinan pertemanan di udara, teman-teman sepakat membentuk grup dan mengadakan kopi darat setiap bulan. Dengan merekalah saya aktif mengadakan gathering, spesialis menjadi seksi komunikasi.

Di bagian seksi dokumentasi, pria berkemeja putih terlihat sibuk memainkan kamera. Ia tampak asing. Berperawakan sedang, wajahnya tak terlalu tampan, tetapi memancarkan keramahan.

"Tuty, itu siapa?" tanya saya setengah berbisik sambil menyikut lengan Tuty. Saya mengarakan pandangan ke cowok asing itu.

"Oh, itu Tom, anggota baru. Agus berhalangan, jadi dia yang menggantikan tugas seksi dokumentasi. Dia fotografer hari ini," jelas Tuty.

Saya ber-oh datar. Ini toh, yang bernama Tom. Di radio walky talky, dia jarang bersuara.

"Belum kenal, ya. Sini aku kenalin." Belum sempat saya mengiyakan, Tuty sudah menyeret saya menghampiri Tom.

"Tom, kenalin, ini Nina, Dia seksi konsumsi." Kami bersalaman, menyebut nama masing-masing. Tom tersenyum ramah.

Sejak malam itu, Tom semakin gencar mendekati saya. Ia kerap mengajak saya makan malam, menonton, atau sekadar jalan. Hanya enam bulan melakukan pendekatan, Tom melamar dan Nina mengiyakannya.

Buku Ibu Pilihan Tuhan ini ditulis dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami. Rizka Azizah, penulis buku mengisahkan memoar ibu yang membesarkan anak tunanetra.

Ia membangun kerangka tulisan dalam buku ini dengan apik, mendeskripsikan pertemuan tokoh ibu dan ayah dalam suasana romantis di 'Kota Kembang'. Kita seakan bernostalgia dengan suasana 1980-an seperti tulisan awal dari buku ini.

Selanjutnya, penulis yang juga mantan wartawan ini mulai memainkan emosi pembaca setelah tokoh Nina mendapatkan perlakukan kasar dari suami dan keluarganya.

Begitu juga ketika ia mengandung dan melahirkan, sifat buruk suaminya yang sering memaki dan menghina akibat hal-hal sepel tidak kunjung berupa.

Seperti diceritakan dalam halaman 37, hal itu membuat saya semakin stres. Perasaan saya jadi sangat sensitif, mudah marah, dan gampang bersedih. Sikap Tom yang cuek dan seenaknya sendiri bikin saya kin tertekan. Kondisi saya sangat lemah saat hamil. Ironinya tak meluluhkan hati Tom maupun keluarganya. Mereka tetap angkuh dan cuek.

Emosi pembaca kian diaduk ketika Nina digugat cerai dan harus menghidupkan anaknya seorang diri. Penderitaannya bertambah ketika anak semata wayang divonis mengalami glaukoma.

Titik balik

Nina yang sempat putus asa juga dicerita dengan baik di halaman 59. Tak dimungkiri, pada masa awal mengetahui kecacatan Vita, saya sempat merasa kecewa dan skeptis, saya bertanya pada Tuhan, dari sekian ibu di luar sana, mengapa harus saya yang mengalami ini? sudah janda, punya anak cacat dan harus membesarkan sendirian pula.

Namun, itu menjadi titik balik kebangkitannya. Mendekatkan diri kepada Tuhan membuat ia menyadari ada hal-hal tertentu yang sudah mutlak, tak bisa diubah. Itulah skenario Tuhan. Mungkin, kita bisa saja berbuat hal secara logika sudah tepat dan aman. Namun, jika Tuhan berkehendak lain, kita bahkan tak mampu mencegah apa pun yang tidak kita harapkan.

Segala kemungkinan bisa terjadi dan kita diuji untuk siap menerima, bertahan lalu bangkit. Di balik kesuksesan seorang anak, tentu ada sosok ibu hebat. Kisah Nina dan Vita yang tunanetra menginspirasi para single mom untuk selalu tegar dan pantang menyerah membesarkan anak sendiri.

Dalam buku setebal 210 halaman ini, Nina menyebutkan saya tak pernah merasa malu punya anak buta. Saya menjadikan kekurangan itu sebagai ruang kosong yang harus diisi. Maka, saya bertekad mengisinya dengan cara mengoptimalkan talenta dan mengupayakan yang terbaik untuk masa depannya. Disabilitas di kedua mata anak saya justru menyisakan semangat dan cinta yang besar.

Hidup terus berlanjut, Nina memutuskan menikah untuk kedua kalinya dan menetap di Australia. Meski ia mengalami sejumlah hambatan dan kesulitan, terbukti keputusan Nina pindah ke luar negeri tepat.

Menetap di Sydney, Vita menjalani hari demi hari dengan gumpalan semangat. Ia sulap segala kekurangan fisiknya menjadi cambukan yang membuatnya terus melaju. Bahkan, sang ibu juga belajar darinya bagaimana memelihara energi positif, apa pun kondisinya.

Dalam buku memoarnya, Rizka juga secara khusus menceritakan pola asuh yang dilakukan Nina untuk membesarkan, dan mendidik anaknya yang kerap dianggap remeh orang lain. Sebaliknya, ia menjadikan itu kekuatan untuk mampu berdiri sejajar dengan anak normal lainnya.

Kebiasaannya mengajar dengan sistem talking books kepada Vita yang tunanetra juga memudahkannya beradaptasi mengikuti pelajaran di sekolah. Bahkan melalui hasil tes IQ, ia masuk kategori superior (di bawah genius).

Pesan pentingnya, masa depan anak sangat bergantung pada pola asuh yang diterapkan orangtua. Tugas para orangtua dari penyandang disabilitas jauh lebih banyak. Jauh lebih berat daripada memiliki anak normal.

Pendidikan di Indonesia yang untuk siswa normal saja masih kasat kusut, mulai kurikulum masih sering ganti dan membingungkan serta akses pendidikan yang belum merata di seluruh Tanah Air.

Jangankan bermimpi menyediakan fasilitas memadai untuk penyandang disabilitas di seluruh ruang publik se-Tanah Air. Masih adanya pendidikan SLB di setiap daerah saja sudah harus bersyukur.

Meski demikian, sejak menandatangani Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas yang ditetapkan PBB 2007, Indonesia mulai berbenah dan berpihak terhadap kaum disabilitas.

Begitu juga, pada 2016, pemerintah telah menyepakati UU Penyandang Disabilitas sebagai pemenuhan hak penyandang disabilitas, baik secara ekonomi, politik, sosial, maupun budaya. (M-2)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More