Sulitnya Menjaga Wilayah Konservasi di Jabar

Penulis: Putri Rosmalia Octaviyani Pada: Jumat, 16 Feb 2018, 06:30 WIB Lingkungan
Sulitnya Menjaga Wilayah Konservasi di Jabar

ANTARA FOTO/Fahrul Jayadiputra

BALAI Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat menargetkan merehabilitasi hutan dan lahan sekitar 2.000 hektare (ha) terdegradasi agar dapat berfungsi dan dipulihkan menjadi kawasan lindung pada 2018.

Di wilayah Jawa Barat terdapat 50 kawasan konservasi dengan luas hampir 83 ribu ha lebih dari Pangandaran sampai Pulau Sangiang. Dari luasan itu sekitar 3.500 ha lahan di lima kawasan open akses terdegradasi dengan berbagai penyebab. Seperti kebakaran hutan, perambahan, penggembalaan liar, penambangan batu dan pasir, dan sedikit karena pembalakan.

Lima kawasan itu, antara lain Taman Buru Masigit Kareumbi, Taman Wisata Alam Kawah Kamojang, Suaka Margasatwa Cikepuh, Cagar Alam Cibanteng Sukabumi dan Taman Wisata Alam Gunung Pancar Bogor.

Untuk menekan ancaman dan perambahan lahan di kawasan konservasi alam, BKSDA Jawa Barat melibatkan masyarakat untuk mempertahankan kawasan lindung dan konservasi dengan konsep inklusivitas kawasan konservasi.

"Untuk mengatasi itu berbagai hal dilakukan. Termasuk pelibatan masyarakat dalam mengelola dan ikut menjaga kawasan konservasi. Kita mau selain kerja antarlembaga terkait, juga melibatkan masyarakat untuk menjaga hutan," ujar Kepala BKSDA Jawa Barat Sustyo Iriyono.

Pelibatan masyarakat ini, memakai konsep jasa lingkungan atau ekowisata sehingga masyarakat bisa menerima manfaat ekonomi sekaligus menjaga kawasan konservasi.

Sustyo mengatakan, wilayah Jawa Barat memiliki kepadatan populasi penduduk cukup tinggi dibanding wilayah Jawa lainnya. Di tengah situasi itu ada kondisi lapar lahan karena over capacity.

"Kita berupaya mempertahankan kawasan konservasi. Kita harus berpikir 5-10 tahun lagi masih bisa mendapatkan air baku yang baik, pertanian yang sehat. Keberadaan hutan bisa memberikan udara dan mata air yang baik," katanya.

Jawa Barat lanjutnya, memiliki 14 taman wisata alam. Hutan konservasi memiliki empat jenis yakni cagar alam, taman wisata alam, suaka margasatwa dan taman buru.

Menurutnya, kawasan konservasi di Jawa Barat merupakan representasi hutan hujan tropis. Untuk tahun 2018, rehabilitasi atau penanaman kembali pada 2.000 ha hutan yakni di Taman Buru Masigit Kareumbi Sumedang dan Taman Wisata Alam Kawah Kamojang Garut dan DAS Citarum seluas 1000 ha. Sedangkan, 1.000 ha lainnya di beberapa taman wisata alam yang berada di wilayah DAS Cimanuk.

Sementara itu, pengembang wisata alam kawasan konservasi terus ditingkatkan. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan pemanfaatan hutan tanpa harus menebang kayu. Karena saat ini, hasil hutan dari kayu hanya 5 persen.

Kepala Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Djati Witjaksono Hadi mengatakan, selain hasil hutan kontribusi terbesar lainnya justru dari jasa lingkungan hutan baik air, udara, pengaturan tata air, kesuburan tanah hingga ekowisata.

"Memanfaatkan hutan tanpa harus menebang kayu bisa memberikan manfaat yang lebih besar. Tidak hanya bagi lingkungan tapi juga masyarakat sekitar, itu yang terus kita sosialisasikan," ucapnya. (X-12)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More