Kevin Mintaraga Saatnya Ekspansi Wedding Vendor Indonesia

Penulis: Ferdian Ananda Majni Pada: Kamis, 15 Feb 2018, 02:45 WIB Humaniora
Kevin Mintaraga Saatnya Ekspansi Wedding Vendor Indonesia

MI/ADAM DWI

DENGAN menempati gedung lantai satu Bellezza Shopping Arcade Jl Letnan Jendral Soepeno, Jakarta Selatan, tepat berada di sisi kanan eskalator, Kantor Bridestory begitu mudah ditemukan. Aktivitas mereka terlihat sepi. Setelah menunggu beberapa menit, Media Indonesia disambut dengan ramah oleh Kevin Mintaraga, Rabu (7/2).

Peraih Young Entrepreneur of The Year 2013 itu menceritakan, berawal dari pengalamannya menikah pada 2012 dan mengalami kesulitan mencari wedding vendor, ia pun tergerak mendirikan market place yang bisa dengan mudah diakses para calon pengantin.

"Dulu kami mengalami kendala mencari wedding vendor karena tidak adanya informasi yang dapat saya temukan melalui internet. Setelah menikah, saya melihat banyak opportunity untuk membuat sebuah market place yang memudahkan para calon pengantin mencari weeding vendor yang tepat, di mana pun dan kapan pun mereka mau melangsungkan pernikahannya," kata Kevin.

Kevin menjelaskan, sebagai market place, tentunya mereka sangat bergantung terhadap vendor-vendor yang bergabung di dalam platform bridestory. Meski demikian, menurutnya, meyakinkan mereka tidak mudah, pasalnya mereka telah melakukan bisnis cukup lama.

"Sebagai platform baru, bukan hal yang mudah untuk meyakinkan mereka. Terlebih mereka telah menekuni profesinya cukup lama dan nyaman dengan cara mereka berbisnis," sebutnya.

Dengan adanya teknologi, Bridestory tampil guna mengubah cara berbisnis dan mengandalkannya. Kata Kevin, tentunya itu dilakukan guna menjawab perubahan perilaku konsumen dalam mencari wedding vendor.

"Dengan adapnya perubahan teknologi, tentunya kami melakukan disturb the market. Dalam hal ini, terus melakukan edukasi bagaimana teknologi berperan penting dalam melakukan pemasaran dalam memudahkan calon pengantin untuk mencari wedding vendor," jelasnya.

Guna meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap Bridestory, juga dilakukan verifikasi terhadap vendor. Kevin mengaku, proses verifikasi dilakukan dengan banyak tahap dan penting untuk keberlangsungan bisnis tersebut. "Salah satu cara yang dilakukan agar membuktikan bahwa ini benar-benar vendor tepercaya dan tidak melakukan wanprestasi. Kami memiliki tim yang fokus melakukan verifikasi terhadap bisnis mereka, baik pengecekan kantor, alamat telepon, e-mail dan lainya untuk make sure mereka memiliki bisnis yang legal dan valid," terangnya.

Menemukan inspirasi
Untuk bergabung di Bridestory, ia menambahkan, para vendor diberi akun trial dan berhak atas 10 kredit serta akan berkurang jika dikunjungi para calon pengantin. Kata Kevin, setelah itu, vendor harus melakukan membership subscribe serta dikenai biaya tahunan.

"Akun trial dimana mereka bisa mencoba setup account di Bridestory. Kami juga memberikan mereka 10 kredit, itu sistem di Bridestory. Jadi setiap mereka mendapat incurred dari pengunjung atau calon pengantin secara otomatis akan dipotong kreditnya," jelasnya.

Kevin menegaskan, pihaknya tidak pernah membandingkan Bridestory dengan platform serupa. Pasalnya, tim Bridestory hanya fokus melakukan pengembangan dan prospek ke depannya. Upaya itu diyakini mampu menjawab kebutuhan vendor dan konsumen dalam mengakses Bridestory.

"Jadi, kami fokus terus memimpin inovasi di bidang wedding industry. Kami melihat itu salah faktor, kenapa kami terus berada terdepan dan memimpin di industri ini. Jadi, kami tidak membandingnya, di sini bikin apa dan di sana bikin apa meski apa yang kami lakukan sering di-follow up dengan adanya digitalisasi. Kami percaya, apa yang dibutuhkan vendor dan konsumen, nah itu yang terus dilakukan inovasinya," tegasnya.

Jika masyarakat mengakses situs atau platform lainya, Kevin menjelaskan, guna memastikan jumlah pengunjung melalui telepati independen, baik Google analytics, alexa, dan similarweb, dipastikan Bridestory berada di urutan nomor satu.

"Jadi, kami berada di urutan nomor satu jika dilihat melalui telepati independen. Jadi, kami mengunakan situs itu untuk memverifikasinya dan memang we are the leader in this space. Tentu itu tidak membuat kami berada di zona nyaman, tetapi tetap termotivasi untuk melakukan inovasi," lanjutnya.

Sejauh ini kendala yang masih dihadapi dalam pengembangan Bridestory, menurut Kevin, ialah edukasi terhadap vendor yang masih harus ditingkatkan. Pasalnya mereka merasa nyaman, dengan prosedur dan pemasaran lama yang telah dilakukan tanpa harus ada digitalisasi.

"Pemikiran dan proses kerja lama mereka yang harus dilakukan edukasi dan sosialisasi. Karena memang mereka sudah nyaman, tidak perlu sosial media dan proses digitalisasi. Tetapi memang ada beberapa yang open minded, karena mereka sadar konsumennya aktif di media sosial dan akhirnya mau berubah," paparnya.

Bayangkan Bridestory seperti sebuah online shopping mall yang menjual segala macam kebutuhan pernikahan. Setiap hari, Kata Kevin, ada ribuan calon pengantin dari berbagai negara yang datang ke Bridestory Mall untuk menemukan inspirasi dan vendor yang tepat agar pernikahan impian mereka bisa menjadi kenyataan.

"Dengan bertambahnya jumlah calon pengantin yang berkunjung ke Bridestory 550 ribu lebih calon pengantin per bulan, jumlah vendor yang terdaftar di online mall ini juga semakin bertambah sekitar 30 ribu. Melihat pertumbuhan ini, kami menyadari para vendor ingin mengetahui cara-cara untuk membuat profil mereka lebih menarik sehingga dapat memukau para calon pengantin," terangnya.

Karena itu, fungsi platform Bridestory, sebagai mitra, anak perusahaannya semata-mata sebagai pihak yang netral dan marketplace, dengan pengunjung atau pengunjung wedding dan vendor bisa dan mungkin terhubung melalui layanan atau produk tertentu. Bridestory tidak terlibat dan Bridestory tidak bertindak sebagai salah satu pihak untuk transaksi nyata antara Pengguna.

"Bridestory tidak memiliki kontrol atas kualitas, akurasi, keamanan, atau legalitas transaksi di situs. Bridestory juga tidak memiliki kontrol atas keakuratan daftar, halaman vendor, atau kemampuan vendor wedding untuk menyediakan barang atau jasa yang mereka promosikan. Bridestory tidak bertanggung jawab atas tindakan atau kegagalan pengunjung, pengunjung pernikahan, atau vendor," sebutnya.

Kevin menyebutkan, Bridestory yang terdepan, memiliki reputasi yang baik, dan paling besar sehingga menarik minat banyak kalangan. Bahkan, terdapat 7 juta calon pengantin mengunakan situs Bridestory selama 2017. Tidak terlepas artis Raisa Andriana dan Hamish Daud Wyllie juga memercayakan vendor mereka dalam merencanakan dan mewujudkan konsep pernikahan impian mereka.

"Artis seperti Raisa dan Hamish juga populer dan punya reputasi yang baik. Tentunya kami juga memiliki branding image yang positif dan sehat. Jadi kami juga saling menguntungkan dan Bridestory juga semakin dikenal setelah mewujudkan pernikahan istimewa Raisa dan Hamish," katanya.

Impian itu kemudian diterjemahkan oleh para vendor pernikahan di Bridestory ke rancangan dekorasi penuh bunga dalam tema modernrustic, busana dan riasan bergaya klasik yang timeless, serta agenda acara yang sarat makna dan penuh rasa kekeluargaan, sesuai keinginan kedua mempelai.

"Raisa dan Hamish pun membuktikan, menjadikan sebuah impian akan pernikahan idaman menjadi kenyataan bukanlah hal yang tidak mungkin, meski tidak mudah untuk mempersiapkan segala kebutuhan di tengah kesibukan masing-masing," lanjutnya.

Tantangan
Kevin mengatakan di balik kesuksesan Bridestory, di Indonesia, Singapura, dan Filipina, pihaknya telah melewati sejumlah tantangan. Bahkan edukasi yang dilakukan terhadap vendor yang terus ditingkatkan.

"Selama kami bisa melakukan edukasi terhadap mereka, dan mereka bisa melihat manfaatnya. Mereka akan sadar, karena memang saling membutuhkan dan mendukung," kata pria kelahiran 19 Januari 1985.

Ia juga berharap kepada seluruh pebisnis muda yang bergelut di start-up agar bisa sukses, tidak hanya di dalam negeri tetapi bisa ekspansi ke luar negeri sehingga start-up Indonesia bisa bersaing dan dikenal di mancanegara. (M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More