Keturunan Tionghoa yang Doyan Makan Jengkol

Penulis: Ghani Nurcahyadi, Sumantri Handoyo Pada: Rabu, 14 Feb 2018, 08:58 WIB Humaniora
Keturunan Tionghoa yang Doyan Makan Jengkol

Sejumlah warga Cina Benteng generasi ke-3 menari di atas panggung di salah satu pusat perbelanjaan di Tangerang, Banten---ANTARA/Rivan Awal Lingga

PERPADUAN budaya masyarakat lokal dalam peranakan Tionghoa Benteng sangat kental. Ada salah satu yang unik akibat akulturasi budaya Betawi dalam peranakan Tionghoa Benteng. Ya, itu kesukaan makan jengkol.

Meskipun begitu, warga keturunan Tionghoa yang tinggal di wilayah Tangerang, Banten, tersebut justru masih kuat mempertahankan sejumlah tradisi leluhur mereka. Salah satunya penggunaan pakaian adat dari Dinasti Manchu yang digunakan saat upacara pernikahan.

Menurut pengamat budaya Tiongkok, Ardian Cangianto, tidak ada peranakan lain Tionghoa yang doyan makan jengkol. Inilah contoh akulturasi yang paling khas.

“Terkait pakaian adat dari Dinasti Manchu, mereka ingin menunjukkan kebudayaan sendiri. Padahal biasanya di Tiongkok juga tidak ada yang menggunakan pakaian tersebut karena itu merupakan pakaian pejabat kerajaan pada saat kaisar berkuasa,” tutur Ardian saat dihubungi, kemarin.

Dinasti Manchu atau Dinasti Qing merupakan kekaisaran terakhir di Tiongkok yang berakhir pada 1912. Ardian menyebutkan mayoritas peranakan Tionghoa Benteng sebenarnya berasal dari Dinasti Ming yang berkuasa sebelumnya.

Julukan Tionghoa Benteng merujuk pada keberadaan Benteng Makassar yang dibangun VOC di wilayah tersebut. Sekarang daerah itu sudah berganti menjadi pusat perbelanjaan.

Tionghoa Benteng juga punya ciri berbeda dengan peranakan lain Tionghoa. Warna kulit mereka lebih gelap jika dibandingkan dengan umumnya yang berwarna putih.

Namun, dalam pandangan Ardian, warna kulit yang lebih gelap sejatinya tidak bisa disebut sebagai bagian akulturasi. “Soalnya, di Tiongkok Daratan pun ada subetnik yang berkulit gelap,” dalih Ardian.

Selain proses akulturasi, titian sejarah Tionghoa Benteng juga diwarnai kisah kelam saat pembantaian terjadi pada 1946. Ada dugaan peranakan Tionghoa Benteng bekerja sama dengan Belanda dalam menggagalkan kemerdekaan Indonesia.

Namun, selepas reformasi, kehidupan Tionghoa Benteng berjalan makin harmonis dengan masyarakat setempat. Ini terbukti dengan ekspresi kebudayaan mereka yang sangat terasa di kawasan Pasar Lama Tangerang. (Gnr/SM/S-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More