Momen Merayakan Keragaman

Penulis: MI Pada: Rabu, 14 Feb 2018, 08:51 WIB IMLEK
Momen Merayakan Keragaman

Warga melakukan tradisi melepas burung sebagai simbol kemakmuran dan murah rezeki di Vihara Dharma Bhakti, Petak Sembilan, Glodok, Jakarta Barat, Jumat (9/2)------MI/Usman Iskandar

PADA 16 Januari mendatang, masyarakat Tionghoa Indonesia akan kembali merayakan pergantian tahun penanggalan Tiongkok atau sering disebut sebagai Imlek. Tahun baru 2569 dalam penanggalan Tionghoa menandai tahun Anjing Tanah dalam siklus tahunan Tiongkok yang sering disebut dengan shio.

Keran perayaan Imlek yang dibuka sejak era Presiden Abdurrahman Wahid kini kian dirasakan masyarakat Tionghoa dan warga Indonesia. Siapa tak mengenal barongsai dan wayang potehi yang banyak dipertunjukkan di beberapa area publik menjelang perayaan Imlek.

Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid atau yang karib disapa Yenny Wahid, putri sulung Gus Dur--panggilan Abdurrahman Wahid--mengatakan, peradaban Tionghoa merupakan subkultur yang mewarnai Indonesia. Kehadiran beragam budaya Tionghoa menjadi bagian dari keragaman Indonesia.

“Ini yang patut kita syukuri dan kita anggap sebagai berkah yang luar biasa. Tidak ada negara lain di dunia ini yang punya kultur seperti di Indonesia. Komitmen kita untuk terus menguatkan dan mengikat persaudaraan harus dilakukan secara aktif, karena itu tanggung jawab kita semua sebagai warga negara Indonesia,” kata Direktur The Wahid Institute itu, awal Februari silam.

Catatan pengamat budaya Tiongkok, Ardian Cangianto menyebutkan, kebudayaan Tionghoa sudah mewarnai Indonesia sejak 100 M, saat Dinasti Han berkuasa di daratan Tiongkok. Mereka datang dengan berbagai motif ke Nusantara.

Beberapa motif kedatangan warga etnik Tionghoa ke Nusantara saat itu antara lain untuk berdagang, mencari relasi politik, dibuang kerajaan, hingga yang berniat mencari hidup baru. Nusantara yang saat itu dikuasi kerajaan Hindu-Buddha juga menjadi tujuan dari para pemuka agama Tiongkok.

“Ini terlihat dari catatan I Tsing saat ia datang ketika Nusantara dikuasai Sriwijaya. Ia melihat, sudah banyak biksu asal Tiongkok yang belajar agama. Sementara dari segi perdagangan, saat itu banyak gudang yang harus dijaga, sehingga banyak warga Tiongkok yang tinggal di sini menjaga gudang,” katanya.

Tak ayal, kehadiran warga etnik Tionghoa yang sudah lama menetap di Nusantara itu menghasilkan kekayaan budaya melalui proses akulturasi. Misalnya, dari segi kuliner dan sejumlah serapan bahasa yang berasal dari bahasa Mandarin.

Ardian menyebutnya dengan akulturasi yang terlihat (tangible) dan tidak terlihat (intangible). “Yang terlihat itu ya dari segi kuliner ya. Tapi, kemudian kan juga ada inovasi dalam hal kuliner tersebut. Misalnya saja, toge goreng, kecap manis, teh hijau, dan sebagainya. Akulturasi juga berlaku sebaliknya, seperti budaya masuk kelenteng yang melepas alas kaki. Di Tiongkok daratan tidak seperti itu, hanya di Indonesia karena terpengaruh budaya Islam.”

Memperkaya budaya
Sekretaris Jenderal Perhimpunan Indonesia Tionghoa (Inti), Ulung Rusman mengatakan, proses integrasi masyarakat Tionghoa ke Indonesia berjalan dengan mulus tanpa diwarnai konflik. Bersama-sama dengan warga pribumi, warga etnik Tionghoa yang lahir dan besar di Indonesia juga ikut memberikan kontribusi pada kemerdekaan Indonesia.

Seusai reformasi, ia melihat warga etnik Tionghoa pun semakin berkontribusi pada pembangunan Indonesia. Contohnya, warga etnik Tionghoa di Singkawang, Kalimantan Barat, yang bersama warga lokal bahu-membahu memyelenggarakan Festival Cap Go Meh Internasional.

“Hasilnya kan pasti masuk ke devisa Indonesia. Warga Tionghoa di Sumatra Utara pun menunjukkan keunikan tersendiri, tetapi tetap dengan identitas Indonesia. Budaya Tionghoa hadir untuk memperkaya budaya Indonesia. Jadi, proses akulturasi berjalan dengan baik,” katanya.

Karena itu, Ketua Umum Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI), David Herman Jaya menyebut, akulturasi budaya Tionghoa dan Indonesia sudah selesai dan melebur menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia.

Merefleksikan Imlek 2569, David mengajak semua warga negara untuk bekerja keras memberikan sumbangsih bagi Indonesia. (S-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More