Arena Atletik masih Bermasalah

Penulis: (Rul/Beo/R-2) Pada: Selasa, 13 Feb 2018, 05:31 WIB Olahraga
Arena Atletik masih Bermasalah

ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

ARENA atletik Asian Games Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) dinilai masih bermasalah. Konstruksi lintasan lari dan bak pasir untuk lompat jauh dan lompat jangkit dianggap tidak sesuai dengan standar Asosiasi Atletik Asia (AAA). Jika tidak dilakukan perbaikan, nomor lompat jauh dan lompat jangkit terancam dicoret.

"Ketika keselamatan atlet sangat mengkhawatirkan. Kami tidak akan mengizinkan mereka untuk berpartisipasi di sini. Di Asian Games tentu kami berharap ada kualifikasi yang mana itu harus berlangsung di venue yang sama oleh penyelenggara yang sama. Jadi, kami tidak dapat menggelar perlombaan itu di stadion ini dengan fasilitas yang sama dan lintasan lompat jauh yang masih sama," ujar Cuddi Kotta Valson, anggota tim AAA yang melakukan peninjauan di SUGBK, Senin (12/2).
Valson mengatakan sejatinya pihaknya telah menyampaikan masukan kepada pihak kontraktor SUGBK untuk memperbaiki arena lomba khusus dua nomor itu sejak tiga bulan yang lalu. Namun, sayangnya tidak ada respons positif dari mereka untuk melakukan perbaikan.

Dari cabang dayung, lokasi pelatnas di Situ Cileunca, Pengalengan, Jawa Barat, kemungkinan akan dipindah. Hal itu terkait dengan kejadian yang menimpa atlet dayung Dewi Yuliawati yang tersengat arus listrik saat berlatih.

Dalam menanggapi peristiwa tersebut, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi menyarankan lokasi pelatnas dayung dipindahkan. Menurut Imam, sebaiknya mereka berlatih di Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat.

"Kalau bisa dan ada waktu ya lebih baik geser dari Pengalengan ke Waduk Jatiluhur sehingga bisa semua terpusat di sana dan saya juga kontrolnya enak dan bisa lebih detail lagi memantaunya," ujar Imam.

Sementara itu, Pengurus Besar Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (PB Forki) menyatakan mundurnya empat karateka dari pelatnas disebabkan keinginan mereka. Keempat karateka itu ialah Sisilia Ora (kata perorangan), Srunita Sari Sukatendel (kumite -50 kg), Cok Istri Agung Sanistyarani (kumite -55 kg), dan Ahmad Zigi Zaresta Yuda (kata perorangan putra).

"Mereka menyatakan tidak ingin dilatih pelatih yang ditunjuk Forki. Mereka juga keberatan juga dengan sistem seleksi yang dilakukan. Jadi, kabar yang menyebut mereka kabur dari pelatnas tidak benar," kata Sekjen Forki Lumban Sianipar. si.

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More