Mengudar Kapasitas

Penulis: Administrator Pada: Minggu, 11 Feb 2018, 15:00 WIB BIDASAN BAHASA
Mengudar Kapasitas

MICOM/VICKYG

PERSOALAN kapasitas lembaga permasyarakatan (LP) ternyata bukan menjadi domain Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) Yasonna Laoly dan kementeriannya saja. Masalah itu ternyata juga merembet ke ranah kebahasaan. Meski masalah yang ditekankan Pak Menteri Yasonna sama dengan masalah kami para pemerhati bahasa, yakni soal kapasitas LP, sudut pandang yang kami sorot berbeda. Pak menteri 'pusing' dengan kekurangan jumlah daya tampung (kuantitas), kami 'pusing' dengan logika berbahasa yang muncul saat masalah itu dibahas berbagai media massa. Mari sejenak kita mengudar (membahas) masalah kapasitas LP yang pelik ini.

Persoalan kapasitas LP yang kurang banyak jika dibandingkan dengan jumlah tahanan yang ada saat ini bukan tugas yang mudah untuk Kemenkum dan HAM. Banyak media massa--baik cetak, elektronik, maupun daring--turut pula menyorot permasalahan itu dalam berita mereka. Dalam salah satu beritanya, Kompas.com, misalnya, menyajikan berita soal kapasitas LP itu dengan judul Kelebihan Kapasitas Lapas dan Rutan masih Jadi Catatan 'Mengerikan' Kemenkumham (20/12/2017). Cnnindonesia.com menulis judul Lapas di Jakarta Kelebihan Kapasitas hingga 16.624 Jiwa (17/8/2017) Antaranews.com menulis Penghuni Lapas Jawa Timur Kelebihan Kapasitas (12/9/2017).

Dari contoh judul berita yang saya ambil itu, ada satu istilah yang menjadi sorotan utama, yakni istilah kelebihan kapasitas. Istilah yang diterjemahkan dari bahasa Inggris, overcapacity, itu menurut saya cukup mengganggu dalam logika berbahasa. Bagaimana tidak? Jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Kelima, kata kelebihan itu salah satunya berarti 'keadaan yang terlampau banyak'. Jadi, kalau muncul istilah, semisal, kelebihan berat badan, kelebihan pesanan, kelebihan dosis, itu menunjukkan arti 'berat badannya terlampau banyak daripada rata-rata', 'pesanannya terlalu banyak', dan 'dosis yang dipakai terlampau banyak daripada takaran'.

Jika itu menjadi acuannya, seharusnya kelebihan kapasitas mengandung arti 'kapasitas yang ada terlampau banyak'. Inilah yang mengganggu logika berbahasa kita karena fakta sebenarnya yang terlampau banyak itu bukan kapasitasnya, melainkan jumlah tahanannya. Kesalahan berlogika itu menjadi kian fatal saat akhirnya makna kapasitas itu jauh bercampur hingga dikaitkan dengan jumlah jiwa/orang. Lihat contoh judul dari Cnnindonesia.com yang menulis judul Lapas di Jakarta Kelebihan Kapasitas hingga 16.624 Jiwa. Ukuran yang dipakai untuk menentukan luas kapasitas atau daya tampung suatu tempat tentu bukan jiwa, kan?

Pangkal masalah kelebihan kapasitas itu ialah kesalahan dalam menerjemahkan kata overcapacity hanya secara harfiah, tanpa memahami lebih dahulu maksud dan makna sesungguhnya. Kita bisa saja menerjemahkan overweight, overdose, atau overproduction menjadi 'kelebihan berat', 'kelebihan dosis', atau 'kelebihan produksi', karena memang faktanya yang terlampau banyak itu ialah berat, dosis, dan produksinya. Akan tetapi, untuk istilah overcapacity, bisa saja yang terlampau banyak itu bukan kapasitasnya. Menurut saya, overcapacity lebih tepat diterjemahkan menjadi 'melebihi kapasitas'. Kata melebihi mengandung arti 'lebih (besar, banyak, dsb) dari'. Jadi, istilah melebihi kapasitas mengandung arti 'lebih (besar, banyak, dsb) daripada daya tampungnya'.

Riko Alfonso, Asisten Redaktur Bahasa Media Indonesia

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More