Bisnis Desain, Usaha tentang Cerita dan Manusia

Penulis: Fathurrozak Jek Pada: Minggu, 11 Feb 2018, 01:00 WIB MI Muda
Bisnis Desain, Usaha tentang Cerita dan Manusia

Lead Designer PoLA Artistry Cempaka Surakusumah----Foto: Dok. Pribadi

DESAIN grafis, bagian dari industri kreatif, kini berkembang pesat di Indonesia. Namun, posisinya yang cair dan tidak lepas dari berbagai keahlian lain, terkadang membuat pemahaman tentang profesi desainer grafis menjadi kabur.

Kendati begitu, agensi juga studio independen yang jumlahnya kian banyak, menunjukkan betapa besarnya potensi industri ini. Salah satu studio independen yang Muda datangi ialah PoLA Artistry, ia berfokus pada produksi undangan.

Desain-desain yang PoLA rancang, menarik dan elegan, sehingga undangan yang dikreasikan lebih artistik dan premium, tentu ada sosok di balik terciptanya konsep ini, termasuk yang mengembangkan produk.

Muda mewawancarai salah satu sosok di balik tim PoLA, Cempaka Surakusumah. Ia menjabat sebagai lead designer. Yuk, simak petikan wawancara Muda dengannya.

Boleh diceritakan dong, awal kemuncul­an PoLA Artistry?
Didirikan awal 2014, dimulai dengan perbincangan kami dengan Eric Widjaja sebagai pendiri Thinkingroom inc. Kami sepakat untuk membentuk PoLA Artistry, awalnya bergerak di layanan undangan, kemudian berkembang ke daily goods product.

Nama PoLA itu terinspirasi dari aktivitas keseharian manusia. Setiap orang memiliki rutinitas mereka, dari pagi hingga malam, ini membentuk pattern atau dalam bahasa Indonesia disebut PoLA. We want our pro­ducts and daily goods to be part oif everyone’s everyday life.

Industri desain grafis kini berkembang pesat, dan beragam bentuknya, bagaimana karakter PoLA sebagai studio independen?
Di awal, karena kita banyak berbicara mengenai hal yang sifatnya sehari-hari atau dasar, memengaruhi pendekatan visual PoLA ke arah bentuk-bentuk dasar atau geometric shape. PoLA banyak bermain dengan geometric shape dan composition. Namun, tidak membatasi hanya pada satu treatment saja, karena bisa berkembang kepada pendekatan visual lainnya, begitu juga dengan jenis-jenis produknya.

Karakter desain yang bold dan banyak menggunakan warna ialah salah satu karakter lainnya dari produk-produk PoLA.

Oh ya, siapa aja sih yang ada di balik PoLA?
Kami bekerja dalam satu tim yang melibatkan creative director, lead designer, junior graphic designer, dan copywriter. Sebagian besar dari kami berlatar belakang desain komunikasi visual.

Apa yang menarik dari lini bisnis perlengkapan pernikahan, termasuk undangan?
Berkecimpung di dunia wedding menjadi hal yang menarik untuk kami. Namun, PoLA invitation tidak spesifik ke wedding saja. Kedepannya juga bisa digunakan sebagai pendukung acara lainnya, seperti birthday cele­bration, ceremony, anniversary, baby shower, bridal shower, dan acara lainnya.

Sepertinya PoLA ingin menampilkan produk undangan premium, memang menyasar pasar yang berada di level itu?
Fokusnya sebenarnya bukan pada premium atau tidaknya produk undangan PoLA, melainkan kami ingin produk-produk kami untuk dekat dengan desain dan seni.

Bagaimana dengan kompetitor, atau bisa disebut persaingan yang ada di lini perlengkapan pernikahan dan produk undangan?
Kompetitor pasti selalu ada di industri apa pun. Fokus kami tidak hanya di produk undangan pernikahan, dan kami percaya antara satu bidang ke bidang lainnya saling terintegrasi satu dan lainnya. Jadi, kami tidak terlalu khawatir.

Nah, PoLA ingin dikenal seperti apa sih, oleh masyarakat dan dunia industri desain grafis?
Every products have their own story. Kami ingin orang-orang merasakan proses dan cerita yang ada di tiap produk-produk PoLA, baik dalam bentuk undangan maupun dalam produk-produk lainnya.

Sekarang desain grafis bisa dibilang tidak lepas dengan digital. Bagaimana PoLA beradaptasi dengan hal ini?
Saat ini PoLA memiliki toko digital yang bisa diakses melalui website, juga menjadikan sosial media Instagram sebagai platform promosi PoLA yang paling efektif.

Siapa pun bisa terjun ke dunia desain grafis, apa yang perlu diperhatikan?
Menurut saya, menjadi desainer grafis itu seperti mempelajari ilmu pengetahuan tentang kehidupan. Desain grafis bukan hanya art and communication, tapi juga history and psychology. Mempelajari banyak hal, memiliki pengetahuan yang luas, dan terbuka akan perkembangan-perkembangan yang ada, saya rasa menjadi hal yang perlu diperhatikan apabila ingin terjun ke dunia desain grafis. Bukan hanya membuat visual-visual dekoratif.

Masih ada mimpi enggak sih, bareng PoLA? Dan penginnya PoLA ini kedepannya seperti apa?
Mimpi itu jangan tanggung-tanggung, mumpung mimpi itu gratis. Jangan takut untuk memiliki mimpi yang besar. Mimpi bareng PoLA tentunya banyak, and we’re on our way to make it come true. (M-1)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More