Ketombe Klub Otomotif yang Beragam

Penulis: Abdillah M Marzuqi Pada: Minggu, 11 Feb 2018, 07:15 WIB Weekend
Ketombe Klub Otomotif yang Beragam

MI/MOH IRFAN

SAAT memasuki arena latar, pemandangan lazim terlihat seperti layaknya tempat parkir mobil. Puluhan kendaraan roda empat berjejer rapi dengan merek berbeda-beda. Tidak ada mobil unik yang berjejer dalam jumlah besar. Padahal, lazimnya acara kumpul bareng klub otomotif, selalu mudah dijumpai berbagai kendaraan unik dan antik.

Begitu juga tidak terlihat tanda ada acara sebuah klub otomotif, meski terdapat 10 mobil unik. Pada 27-28 Januari lalu memang berlangsung acara family gathering #20dekade Ketombe Auto Klub, di Desa Wisata Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur.

Acara tersebut dihadiri para pencinta otomotif, mulai anak-anak, para suami, hingga istri. Nuansa kebersamaan dan kekeluargaan begitu kuat dalam klub tersebut. Setiap anggota bisa tertawa lepas dan mengobrol bebas. Anak-anak bermain dengan sebayanya, sedangkan ibu-ibu juga bergabung dalam keseruan bersama.

“Selalu seperti itu (membawa anak istri). Karena generasi dulu kan sudah begitu semua. Kalau generasi sekarang tinggal bawa badan. Tapi nanti mereka juga,” terang pendiri Ketombe Eko Prihastanto, 35.

Nama klub otomotif itu memang unik, yakni Ketombe dan telah bertahan selama 20 tahun.

Awalnya didirikan tujuh remaja yang berdomisili di Jakarta Timur pada 1997. “Awal berdirinya Ketombe pada zamannya SMP. Satu sekolah semua di SMP 109 Jakarta Timur,” ujar Eko mengawali ceritanya.

Hobi yang sama itu terus berlanjut menjadi sebuah perkumpulan pecinta otomotif. Awalnya nama ketombe diambil dari salah seorang anggota yang memang punya riwayat ketombe. Nama itulah yang lalu diputuskan menjadi nama klub, dengan pertimbangan agar mudah diingat.

“Sudah terbentuk, kita bermain mobil. Terus kita mencoba eksis di dunia drag race. Waktu itu 1999 kita sudah di Sentul. Setelah itu udah bosen dengan dunia balap, kita pindah ke dunia kontes. Sampai sekarang ini kita eksis,” tambahnya.

Kental kekeluargaan
Kini anggota aktif Ketombe berjumlah ratusan dan tujuh pendiri Ketombe juga masih ada gathering itulah yang berfungsi sebagai wadah silaturahim dari pendiri sampai anggota terbaru.

“Tujuan pertama, kita merayakan 20 tahun Ketombe Autoclub Jakarta. Kedua, kita mau ngumpulin yang lama-lama dari pendiri sampai generasi ketujuh (sekarang),” lanjut Eko.

Lebih lanjut, ia menuturkan nama Ketombe singkatan dari kerumunan tempat orang mau berkreasi. Namun, kepanjangan itu sempat didahului keturunan orang males tapi beken. Kepanjangan Ketombe itu lalu diubah dengan pertimbangan tidak enak didengar dan anggota Ketombe tidak malas.

Alasan para anggota untuk bergabung dengan Ketombe pun bermacam-macam. Ada yang sekadar ingin menambah pengetahuan tentang otomotif sampai tertarik dengan aktivitas Ketombe. Namun, umumnya mereka jatuh hati dengan kentalnya kekeluargaan di Ketombe.

Gak tau ya. Sejiwa aja gitu. Mungkin di sini feel-nya dapat banget. Kekeluargaannya dapat, solidaritas dapat. Jadi ngerasa Ketombe itu keluarga lain selain keluarga di rumah,” ujar Ketua Ketombe Autoclub Jakarta Anindito, 27, yang mengendarai Kijang lawas berbentuk kotak.

Alasan itu juga dibenarkan Cendekia Bayu, 24, yang kini dipercaya menjadi Ketua Ketombe Autoclub Indonesia. Menurutnya, Ketombe tidak mensyaratkan anggota memiliki kendaraan roda empat, bahkan roda dua pun boleh. Yang terpenting anggota menjunjung tinggi semangat kekeluargaan dan kebersamaan.

“Semakin ke sini klub ini gak hanya melihat dari kendaraannya apa? Modifikasinya seperti apa, tapi ya sudah nyaman, seperti keluarga sendiri,” lanjut pria yang berdomisili di Semarang, Jawa Tengah itu.

Menurutnya, Ketombe mempunyai kegiatan rutin tahunan, yakni baksos dan gathering nasional. Setiap tahun, gathering akan berpindah-pindah lokasi. Kini, Ketombe mempunyai cabang di 11 kota di Indonesia.

Lebih lanjut, ia mengatakan, mempertahankan klub seperti Ketombe tidaklah mudah sebab klub itu tidak mendasarkan pada kesamaan jenis atau merek suatu kendaraan.

“Kalau ATPM (agen tunggal pemegang merek) yang sejenis itu lebih gampang,” sambung Anindito.

Sebaliknya, Ketombe berangkat dari sekumpulan pencinta otomotif dan berlanjut tetap seperti itu. “Enggak ada kriteria khusus untuk bergabung di Ketombe. Kalau kita basisnya klub otomotif ya sesama pecinta otomotif saja,” terang Bayu.

Pernyataan itu pun dipertegas Eko bahwa yang terpenting kemauan para calon anggota untuk berkumpul dengan para anggota lain.

Gak punya mobil pun kalau mau kumpul ya silahkan. Punya motor mau kumpul ya silahkan,” tegasnya. (X-7)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More