Murid Kinasih

Penulis: Ono Sarwono Pada: Minggu, 11 Feb 2018, 09:15 WIB PIGURA
Murid Kinasih

Dok.MI

KEJI. Sejujurnya sungguh sulit mencari kata yang bisa mewakili perilaku murid yang melakukan kekerasan terhadap gurunya yang berujung maut. Peristiwa ini terjadi di Sampang, Madura, Jawa Timur. Ahmad Budi Cahyono, guru honorer, yang mengajar kesenian di SMAN 1 Torjun, tewas di tangan anak didiknya, Kamis (1/2).

Dalam cerita wayang, yang notabene penuh konflik, pun tidak pernah ada lelakon seedan itu. Jangankan membunuh, menghindar atau membantah apa yang diperintahkan sang guru saja, tiada murid yang berani. Adabnya, murid itu nurut, patuh, dan senantiasa sendika dhawuh, siap menjalankan apa pun yang disampaikan guru.

Salah satu contoh murid yang baik itu ialah Bratasena alias Werkudara, panenggak (anak kedua) Pandawa, putra Pandudewanata-Kunti. Saking baiknya, gurunya selalu memanggilnya dengan kata ‘anakku’.

Dituduh memihak
Guru Bratasena yang sangat ia hormati itu bernama Resi Durna alias Bambang Kumbayana. Bratasena menjadi siswanya sejak usia remaja hingga menjadi orang tua. Baktinya kepada sang guru ditunjukkan dengan kesetiaan dan kepatuhannya yang utuh.

Di antara kisah tentang kepatuhannya kepada sang guru, bisa disimak dalam lakon Dewa Ruci atau Bima Suci. Dalam ceritanya, apa pun yang diperintahkan Durna ia laksanakan dengan tulus dan ikhlas meskipun itu mengancam jiwa raganya.

Bratasena meyakini tidak ada guru yang menjerumuskan siswanya. Semua yang diajarkan pasti bertujuan agar anak didiknya pintar dan berilmu. Selama hayatnya ia tidak memiliki praduga negatif terhadap gurunya.

Itu berbeda dengan pendapat kritis keempat saudaranya--Puntadewa, Arjuna, Nakula dan Sadewa--yang menganggap Durna, karena posisinya juga sebagai penasihat Duryudana (Kurawa), memiliki agenda politik dalam setiap langkahnya demi kepentingan Raja Astina tersebut.

Awal ceritanya ketika Bratasena nyuwun (meminta) kepada Durna untuk diwedhar (diberikan) rahasia ilmu sangkan paraning dumadi atau asal usul kehidupan. Durna menyanggupinya karena, akunya, Bratasena merupakan salah satu murid yang ia kasihi.

Pada saat bersamaan, Duryudana sedang gelisah akan masa depannya. Ia melihat Pandawa kian hari kian kuat serta memiliki banyak sekutu. Ini ancaman atas kekuasaannya, yang sesungguhnya itu merupakan hak Pandawa.

Duryudana memerintahkan semua nayaka praja berusaha sekuat tenaga melemahkan atau menghancurkan Pandawa tanpa menunggu pecahnya Perang Bharatayuda. Durna, sebagai paranpara, pun diminta mencari akal sehingga keinginan sang raja dapat terealisasi.

Patih Sengkuni menyindir Durna yang dianggap berpihak kepada Pandawa. Itu sikap tidak tahu diri karena selama ini hidupnya yang nikmat di Astina atas kebaikan Duryudana. Sengkuni berteori, sama-sama muridnya, Kurawa bodoh dan lemah, sedangkan Pandawa pintar dan sakti.

Durna menolak keras tuduhan Sengkuni yang ia nilai serampangan. Menurutnya, Kurawa tidak keru-keruan karena semuanya malas dan tidak mau prihatin. Sementara itu, Pandawa adalah siswa yang rajin dan tekun belajar serta gemar menjalani tapa brata.

Singkatnya, Durna lalu menegaskan dirinya berpihak kepada Duryudana hingga tetes darah penghabisan. Sang raja kemudian meminta wujud semua pernyataan yang membanggakannya itu.

Mencari syarat
Pada suatu hari, sesuai dengan waktu yang dijanjikan, Durna menerima Bratasena di Pedepokan Sokalima. Hadir di tempat itu sejak pagi Sengkuni. Durna mengatakan, sebelum menerima wedharan ilmu, Bratasena harus menyediakan syarat berupa tirta perwita sari mahening suci yang berada di Hutan Tikbrasara di Gunung Reksamuka.

Tanpa bertanya dan ragu, Bratasena lalu minta pamit dan meluncur ke tempat yang dimaksud. Kepada Sengkuni, Durda memastikan Bratasena tidak akan selamat berada di belantara angker tersebut. Mereka berdua kemudian terkekeh-kekeh sambil bersulang tuak.

Di tengah jalan, Kunti dan keempat anaknya, mencegah Bratasena yang tampak sengkut (semangat) menuju Tikbrasara, yang saking gawatnya diibaratkan jalma mara jalma mati, sato mara sato mati, titah apa pun--manusia dan hewan--yang datang pasti sirna.

Mereka menyarankan dan mendesaknya untuk tidak memenuhi perintah Durna karena sesungguhnya itu bagian strategi penghancuran Pandawa. Namun, Bratasena menolak nasihat orang-orang terdekatnya itu meski ia sendiri tahu bahwa tempat yang ia tuju sangat mematikan.

Ternyata, setelah mengobrak-abrik hutan seisinya, Bratasena selamat tanpa cacat sedikit pun. Malah ia bertemu Bathara Indra serta Bathara Bayu dan memberikan berkah berupa cincin druwendra atau sesotya maniking warih yang kesaktiannya bisa kalis dari air.

Durna sempat kaget ketika tiba-tiba Bratasena menghadapnya dalam kondisi segar bugar. Ia lalu buru-buru menjelaskan kepada muridnya itu bahwa syarat yang ia minta sesungguhnya memang tidak berada di Hutan Tikbrasara. Perintahnya yang lalu itu hanyalah untuk mengukur seberapa kuat tekad Bratasena ingin menguasai ilmu wingit.

Durna lalu menyuruh Bratasena mencari syarat yang dimaksud di dasar Samudra Minangkalbu, karena di sanalah tempatnya. Lagi-lagi, ibu dan kakak serta adik-adiknya mencegahnya karena tidak ada sejarahnya titah selamat di dasar samudra. Namun, Bratasena kembali mengabaikan semua saran orang-orang yang ia kasihi itu. Ia kukuh pada pendiriannya bahwa perintah guru harus dilaksanakan meski itu mengancam jiwa raganya.

Singkat cerita, Bratasena tidak mati. Ia bertemu dengan Dewa Ruci, ‘sang guru sejati’. Di sanalah ia mendapat wejangan tentang ilmu asal muasal hidup, bagaimana seharusnya hidup, dan ke mana akhir hidup.

Contoh kepatuhan
Moral cerita ini adalah kesetiaan dan kepatuhan seorang murid kepada sang guru. Keyakinannya, tidak ada guru yang mencelakakan murid. Karenanya, ia begitu percaya kepada guru. Seberat apa pun perintah itu, bahkan berisiko hilangnya nyawa, Bratasena tidak beringsut.

Barangkali kalau bukan Bratasena, perintah yang mengancam jiwa dan raga itu akan menjadi bumerang bagi sang guru. Namun, karena Bratasena tidak memiliki pikiran aneh-aneh, perintah gurunya itu terbukti yang mengantarnya menjemput impian.

Nilai yang bisa dipetik dari kisah ini ialah contoh bakti murid terhadap gurunya. Sikap seperti Bratasena inilah yang kini semakin terkikis dalam proses belajar-mengajar di negeri ini.

Adab bangsa ini mesti kembali ke jati diri sehingga tidak terjadi lagi murid berani, bahkan sampai melenyapkan nyawa gurunya.(M-4)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy meminta sekolah untuk melakukan pengecekan surat keterangan tidak mampu (SKTM) dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB). Hal itu dilakukan untuk menghindari penyalahgunaan SKTM agar diterima di sekolah negeri. Pasalnya, dalam Permendikbud 14/2018 tentang PPDB disebutkan kuota minimal untuk siswa tidak mampu sebanyak 20%. Apakah Anda setuju pihak sekolah harus melakukan pengecekan dan tidak langsung menerima begitu saja SKTM tanpa verifikasi ke lapangan?





Berita Populer

Read More