[CERPEN] Tiada Tuhan selain Keinginan

Penulis: Ranang Aji SP Pada: Minggu, 11 Feb 2018, 09:09 WIB Cerpen
[CERPEN] Tiada Tuhan selain Keinginan

MI/ Pata Areadi

AKU mengenalnya sebagai Rose. Orang-orang memanggilnya si periang. Ketika bertemu di antara bebatuan yang tumbuh bunga-bunga, semacam lily kecil berwarna kuning, aku sudah merasa takjub. Bukan pada bunga-bunga yang tumbuh di antara batu, tapi tubuhnya yang menyerupai kisah-kisah dalam angan-angan para penyair yang jatuh cinta. Setiap membayangkan tubuhnya aku seperti diteror oleh perasaan yang hanya bisa digambarkan oleh para pengutuk yang gemar mabuk dan lupa ingatan. Setelah perjumpaan yang menurutku mengesankan, aku juga berharap dia bisa merasakan hal yang sama, aku mulai suka bermimpi.

Di suatu senja yang setengah mendung dan berpelangi, aku mencoba memberanikan diri menemuinya yang tengah tertawa senang pada sesuatu yang tak terlihat. Tapi tawanya menghalangiku dan membuatku terhenti di persimpangan jalan, antara gelak tawanya dan keseriusanku untuk mengatakan sesuatu yang tak pernah disampaikan oleh angin pada rerumputan dan ranting-ranting pada dahan. Sebagai orang yang tertahan dalam penjara hasrat yang membawa beban berat di antara tulang sulbi dan dada, aku tiba-tiba tidak bisa beranjak karena serangan demam di tubuhku. Lalu, Rose kulihat pergi dengan segala keriangannya yang tak pernah kering, meninggalkanku tanpa melihatku.

Sadar melihat kepergiannya, aku mencoba bangkit dan mengejarnya, tapi seorang pria tua yang wajahnya dipenuhi tahi lalat tiba-tiba muncul secara misterius menghadangku dan membawaku pada ruang pengap di dalam sebuah rumah yang sunyi dan berbau rempah-rempah dan juga bangkai tikus yang kulihat sudah setengah mengering tergantung di atas pintu kamar. Aku tiba-tiba merasa takut dan tubuhku bergetar. Sepertinya ia melihatku ketakutan dan lantas mengatakan sesuatu yang tak jelas, tapi terdengar seperti tak peduli. Mungkin seperti itu, tapi aku rasa ia tengah menertawaiku. Aku mulai berpikir dan berontak. Orang tua ini benar-benar sialan tiada tara dan tak tahu diri mencegat dan menculikku yang tengah mengejar Rose si periang, dan membawaku pada kegelapan yang murung. Tak berapa lama kemudian, kulihat orang tua itu mengambil banyak peralatan yang biasa digunakan para tukang sihir. Alat-alat yang tampak menakutkan itu semakin membuatku kuatir dan ketakutan bukan kepalang. Ia menatapku dan menyeringai mengerikan. Ketika aku dalam puncak ketakutan, tiba-tiba orang tua itu berubah menjadi sosok Rose si periang, tapi aku telah keburu pingsan sebelum menyadari sesuatunya dengan lebih jelas.

Dalam kegelapan yang begitu pekat, tubuhku seperti mengayun ke atas dan ke bawah seperti halnya dalam ruang tanpa gravitasi. Hingga pada saat kesadaranku kembali waras secara samar-samar, segaris cahaya terlihat seolah membelah secara vertikal yang semakin lama semakin melebar. Tepat di tengahnya aku lihat sosok pria berkulit putih dan anehnya ia mengenakan sorban hitam duduk hampa di sebuah kursi tanpa meja dan mengaku bernama Johan Huzinga. Di depannya menumpuk kitab-kitab yang berisi seluruh sejarah di dunia. Diantaranya adalah kitab yang ia tulis homo ludens dari pelbagai tahun dan versi cetak yang ia keluhkan sebagai banyak kesalahan seperti maksud sebenarnya dari versi pertama tahun 1938. Ia berdiri menatapku sembari tersenyum dan memberi salam secara Islam, “assalamualaikum, wahai ahli kubur,” katanya penuh takzim. Ia kemudian menunjukiku sebuah kitab Alquran yang ia buka tepat pada ayat Al-Hadid: 20, “Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan,….” Dan demi Rose yang menguasai jiwaku, sungguh aku tak memahaminya. Ia tertawa parau dan menjelaskan bahwa Tuhan yang memiliki alam semesta sudah memperingatkan dengan ayat itu batas waktu manusia yang tak akan melebihi waktu itu sendiri. Semua hanya permainan. Katanya, orang-orang suka bermain dan mengklaim semua hal sesuai batas-batas keinginannya. Tapi, sekali lagi, aku benar-benar tetap tak mengerti ia bicara soal apa. Mungkin agama, mungkin filsafat mungkin juga bukan apa-apa. Bagiku toh, juga apa pentingnya memahami yang tak bersangkut-paut dengan urusan Rose. Tampaknya ia mengerti apa yang aku pikirkan, itu terlihat ketika tangannya turun lemas ke bawah dan memandangku dengan mata kosong serta kecewa. Setelah itu tak terjadi apa-apa –dan aku menemukan diriku meringkuk di antara pohon beringin di alun-alun kota dalam keadaan basah diguyur hujan. Linglung dengan semua yang telah terjadi, aku mencoba menyandarkan punggungku di badan pohon dan merasakan setiap tetesan air sebagai pemulihan kesadaranku.

Hari berikutnya menjadi waktu yang terasa panjang, aku mulai mencari Rose kembali. Tapi aku tak menemukannya di antara bebatuan yang tumbuh bunga-bunga. Karena mengingat Rose si periang menyukai tawa-tawa, maka kuputuskan mencari di setiap sudut kota yang dipenuhi gelak tawa. Tempat dimana orang-orang berkumpul makan dan berbahagia, mabuk dan bercinta –tak peduli yang sebenarnya atau pura-pura. Namun, aneh, setiap kali aku sampai pada suatu tempat yang kujumpai, hanya jejak tubuh, bau badan serta tawanya yang melebur dengan tawa-tawa lain. Nyaris putus asa, jiwaku pun menjadi kosong hingga melemahkan seluruh sendi tulang-tulangku. Ketika waktu menunjukkan kekalahan, seorang pria tua Latin bernama Florentino Ariza memandangku iba. Ia mendekatiku dan mengajakku berjalan menyusuri kota, hingga akhirnya sampai di sebuah tempat dimana gadis-gadis cantik tersenyum ramah dan menyambut kami bagaikan pria sejati. Florentino tertawa, meskipun aku merasakan ada nada kepiluan di balik tawanya. Ia memanggil seorang gadis yang tiba-tiba semirip Rose dan memintanya mengajakku memasuki salah satu kamar yang dipenuhi aroma semacam Rose tapi dengan warna yang berbeda. Aku tak ingin masuk, tapi Florentino yang belum aku kenal benar siapa dirinya, memaksaku dengan mendorong-dorong punggungku ditingkapi tawa manja gadis yang juga menarik tanganku. Sebelum akhirnya gadis itu menutup pintu, suara Florentino berteriak parau ke arahku.

“Seks akan menghiburmu selama kamu tak mendapatkan cinta.”

Aku mungkin abai dengan apa yang dikatakannya, tapi aku merasakan kebenarannya setelah aku bersama gadis itu dalam ayunan langit-langit yang mendesir dalam beberapa saat. Saat itu aku merasakan pesona Rose si periang seolah ada dalam diri gadis itu. Dalam beberapa waktu yang abai, aku seperti tak berjarak dengan jasad Rose. Usai dan sadar telah menipu diri sendiri secara menyenangkan, aku bersama Florentino Ariza kembali bertemu –yang kulihat secara samar menanggung seribu penderitaan di dalam lipat kulit wajahnya yang justru membuatnya tampak bijaksana dan kokoh. Ketika kami duduk di sebuah café untuk secangkir kopi dan rokok, ia mulai bercerita tentang perjalanan panjang mendapatkan cintanya yang berlari sejauh 51 tahun perjalanan waktu. Mendengar kisahnya, aku menjadi merasa malu dan tampak rapuh di hadapannya. Meskipun begitu, Florentino tertawa getir dan mengangkat cangkir kopi tanpa gulanya. Terlanjur terpesona dengan kisahnya, aku bertanya padanya perihal cinta yang tak sepadan dengan kehidupannya yang fana, persis firman Allah yang disampaikan Johan Huzinga. Kudengar ia tertawa dan mengatakan mungkin benar, tapi tidak di sisi yang lain.

“Umur tidak memiliki realitas kecuali di dunia fisik. Inti dari manusia adalah tahan terhadap berlalunya waktu. Hidup batiniah kita abadi, artinya roh kita tetap awet muda dan kuat seperti saat kita berbunga penuh. Pikirkanlah cinta sebagai keadaan rahmat, bukan sarana untuk apa pun, tapi sebagai alfa dan omega. Sebuah akhir dengan sendirinya. “ Kata Florintino Ariza dalam remang kabut asap rokok.

Untuk beberapa detik aku tertegun dan mencoba mencerna semua kalimatnya yang rasanya tak asing bagiku. Aku mencoba mengamati wajahnya secara seksama dan mengingat sebuah nama dan sebuah buku yang pernah dikirimkan seseorang padaku di masa lalu. Love in theTime of Cholera. Gabriel Gracia Marquez. Iya, aku seolah tak percaya dan mencoba mengamatinya sekali lagi lebih seksama. Florintino, wajah tua yang teguh itu mengangguk dan tertawa.

“Iya, aku anaknya Marquez,” akunya kemudian. Dalam beberapa detik kemudian ia sirna, meninggalkanku sendiri dalam keadaan resah, dan aku pun meneruskan perjalanan.

Pada saat itu, hitungan waktu telah sirna dalam diriku, sehingga aku tak mampu menandai setiap persinggahan. Tapi aku mulai menjelajahi teks-teks tanpa rasa sayah untuk menemukan keberadaan Rose si periang. Suatu ketika aku memutuskan kembali pada tempat semula aku mengenal Rose di antara bebatuan yang tumbuh bunga-bunga dan berharap mendapatinya bersama tawa riangnya. Namun, harapanku nihil. Di sana, hanya kutemukan sebaris tulisan yang terukir di salah satu permukaan batu. Begini bunyinya: “Sudahkah kau melihat orang yang menjadikan keinginannya sebagai tuhannya. Apakah kau akan menjadi pelindungnya?(Qs:25:43).

Aku berpikir keras dengan maknanya, dan merasakan ada korelasi yang kuat diantara kalimat yang tertulis itu dengan semua peristiwaku. Sejenak kemudian, aku memandang burung-burung camar di atas langit yang luas. Di cakrawala, aku juga melihat batas kecemasan dari keinginan yang tak berbatas. Aku merenung sejenak dan kemudian memutuskan berhenti mengejar dan hanya menunggu Rose si periang datang di antara bebatuan yang tumbuh bunga-bunga.

Esok harinya, ketika matahari pecah pertama kalinya, aku terbangun dengan tubuh pegal.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More