Jalan Spiritual Menuju Damai

Penulis: Ferdian Ananda Majni Pada: Sabtu, 10 Feb 2018, 13:30 WIB Humaniora
Jalan Spiritual Menuju Damai

Ist

IBARAT seseorang yang dari awal membangun fondasi yang kuat untuk sebuah bangunan, tapi ketika bangunan tersebut belum ada 1 meter tingginya, ada orang lain berkata, "Sebaiknya kau jangan membangun di sini, tetapi bangunlah di tempat lain," kurang lebih seperti itulah Zaim mengambarkan perasaannya.

Kecewa dan lelah terus menghantuinya. Keberanian untuk meragukan segalanya tentang Islam mengantarkannya pada kekecewaan besar pada Islam yang ternyata tak dapat memberikan kedamaian batin untuknya.

Hingga pada suatu titik ia menyatakan diri tidak lagi percaya nilai-nilai agama dan juga percaya Tuhan meski ia tidak pernah mengungkapkannya sudah ateis. Aktivitas ibadah secara Islam tetap ia lakukan sebatas menutupi dari pergaulan dan keluarga.

Zaim menceritakan seluruh riwayat hidupnya. Mulai ia kecil hingga tumbuh sebagai remaja dalam kegalauan mencari ketenangan batin. Ia berpindah mondok dari pesantren hingga vihara demi selaras dengan alam; meditasi jalan-jalan satunya yang ia kejar untuk meraihnya.

Zaim berusia 27 tahun saat itu. Dia kuliah di Sekolah Tinggi Agama Buddha Nalanda. Pemuda ini sosok yang melintas iman dan menjalani lampah sufi sejak usia akhir belasan. Di Komunitas Plum Village, ia mendapatkan nama baru, Dai Dinh artinya Maha Samadhi karena Thay melihat ia sebagai murid yang khusyuk menjalani meditasinya.

Salah seorang yang ikut berkontribusi memuluskan perjalanan Zaim ke Plum Village, Maria Hartiningsih, dalam pengantarnya mengatakan, tak mudah bagi Zaim menghadapi benturan-benturan ini. Namun, harapan akan semakin berkembangnya Islam, sebagai agama iman dan cinta, tak pernah redup. Ia akan mengambil bagian dan membangun jalannya, setapak demi setapak dan ia mulai menyibak semak.

Memahami kekayaan spiritual

Dalam buku ini, Zaim mencoba mencari apa yang ia sebut kekayaan spiritual. Itu yang dia lakukan, lalu wujudnya ia mendapatkan sesuatu yang baru. Ketika dia meninggalkan Islam bukan dalam arti murtad dan tidak kembali. Bahkan ia kembali dengan keislamannya yang baru, bangunan keislaman yang baru. Tentunya sangat berbeda dengan aktivitasnya yang masih belajar di IAIN.

Zaim tumbuh sebagai muslim yang kaya dengan berbagai perspektif, ia tidak tumbuh sebagai muslim yang ekkslusif; hanya menganggap satu-satunya kebenaran itu Islam, tetapi tumbuh menjadi islam yang juga mengapresiasi keberadaan orang. Yaitu mengapresiasi kebenaran yang dimiliki orang lain.

Jika dipetakan, model keberagamaan seseorang itu tiga macam, yakni ciri ekkslusif; ketika seseorang hanya menganggap jalan keyakinan itu sebagai jalan satu-satunya kebenaran, di luar dia akan dianggap kafir atau sebagainya.

Yang kedua, ciri inklusif; yaitu orang yang beranggapan agama dia yang paling benar untuk menuju pada saat khalid. Namun, pada saat yang bersamaan ia tidak mau mengatakan orang lain kafir. Ia menganggap orang lain punya kesempatan yang sama.

Ketiga ciri pluralis; yaitu orang-orang yang tidak lagi menyanksikan keberadaan orang lain. Karena sama-sama punya kesempatan yang sama masuk surga. Jika memang mereka percaya adanya surga dan neraka.

Namun, seorang seperti Zaim atau para sufi tidak lagi memiliki orientasi pahala atau surga. Jadi ia beribadah karena memiliki kepentingan untuk bisa berkomunikasi dengan sang khalid.

Seperti halnya bukan karena tidak melakukan maksiat karena takut berdosa atau beribadah karena ingin mendapatkan pahala. Kondisi itu, aspek serendah-rendahnya makhluk.

Banyak orang beribadah karena pamrih, ingin mendapatkan pahala atau menghindari dosa. Orang-orang yang tekun berada pada jalan spiritual, tidak lagi seperti itu atau fisiknya.

Tetapi bagaimana perjalanan mereka itu memiliki nilai bermakna baik bagi orang lain. Apa pun pakaian casing yang dikenakannya.

Oleh karena itu, Indonesia perlu orang-orang banyak seperti Zaim. Pemahamannya tidak hanya tentang teori tetapi justru paling penting, ketika kita pahami agama itu tidak hanya sebagai organisasi. Tetapi sebuah minhaj atau jalan.

Jika agama dipahami sebagai the nice religion. Pada akhirnya kita menganggap agama itu kadang-kadang menjelma menjadi Tuhan itu sendiri. Seolah-olah tidak bisa dikritik atau sebagainya.

Ahmad Wahib sebagai pemikir dan pembaharu Islam, tidak merasa tertekan ketika harus mempertanyakan segala sesuatu yang terkait dengan keyakinannya. Misalnya, ia pernah berkata, menurutku beberapa ayat Alquran dan Hadis itu tidak relevan dengan kondisi zaman saat ini.

Kita tidak pernah jujur dengan kondisi kita sendiri. Dalam hal spiritual atau dalam hal bagaimana kita beragama. Kita beragama orientasinya hanya sesaat. Karena kita memahami agama sebuah keharusan? Apakah agama itu sebuah keharusan atau apakah kita harus beragama?

Apakah kita bisa menumbuhkan kebenaran dari jalan agama? Ada juga orang-orang menemukan jalan di luar agama. Meski bagi sebagiannya tidak, ada beberapa orang memahami demikian.

Tentunya, kita tidak akan menemukan kebenaran atau bisa bertemu dengan Sang Khalid tidak hanya melalui jalan bernama agama. Oleh karena itu, kenapa semakin banyak orang memilih sebagai agnostik dan ateis karena mereka menemukan jalan di luar agama.

Namun, Zaim ingin keluar dari jalur itu dan masih setia pada yang disebut agama. Buku ini sebenarnya tidak hanya sebagai target biasa. Tetapi jika dimaknai dari aspek spiritual seperti orang puasa, yang merasakan lapar, tetapi kenyang hanya dengan memakan sepotong ketupat atau minum secangkir teh.

Tidak hanya di secangkir teh dan sepotong ketupat itu, tetapi luapan asapnya memberikan pencerahan bagi semua orang, paling tidak mengajak seseorang bertanya pada diri sendiri apakah jalan yang selama ini ditekuni sudah benar-benar sesuai kebutuhan atau prinsip hidup?

Setidaknya jujur pada diri sendiri agar tidak munafik. Buku ini bisa membuka mata untuk jujur dengan apa yang sekarang kita miliki dan gunakan. Tidak mengunakan agama sebagai topeng belaka?

Krisis Apresiasi

Selanjutnya, ada beberapa yang ingin disampaikan Zaim dalam buku Secangkir Teh dan Sepotong Ketupat. Di antaranya, keteguhan anak muda dalam menemukan apa yang ingin dicita-citakan.

Dewasa ini, di Indonesia juga sedang mengalami krisis apresiasi. Hal itu juga menjadi perhatian Zaim dalam bukunya. Betapa tidak, memulai kisahnya yang menjadi siswa biasa di sekolah dasar hingga ia gagal kuliah di kampus ternama di Surabaya lantaran kurangnya kepercayaan dan motivasi dari keluarganya.

Zaim mengatakan, secara umum juga Indonesia, jarang sekali mengapresiasi karya-karya anak muda. Tidak ada apresiasi ini, akhirnya membuat para pemuda memilih alternatif dimana mereka bisa dihargai. Seperti geng motor atau lainnya. "Jika kita kurang memberikan apresiasi, jika seorang seniman menggambar sebagus apapun akan tetap dilecehkan. Tentunya sakit hati, nah ini akan menjadi pakal kekerasan," katanya.

Ia menjabarkan keteguhan sangat penting dalam mencapai segala sesuatu, baik impian dan keinginan untuk menjadi lebih baik ke depan karena semua pasti akan tercapai.

Zaim juga mengambarkan banyak kegagalan dalam bukunya, tetapi justru itu menjadi titik baliknya, sebagai bahasa Tuhan kepada hambanya untuk mewujudkan ada jalan yang lebih indah untuk ditempuh.

"Spiritual itu bukan hanya monopoli satu agama. Semua tradisi, baik agama, kultur, dan budaya memiliki kandungan spiritual yang sangat dalam. Apalagi, jalan setiap orang itu berbeda dan setiap jalan hidup manusia itu pasti mengandung unsur spiritual," tegasnya.

Pesan Zaim, terus berjalan bagi mereka yang beragama atau tidak. Yang terpenting ketika kita hidup di Indonesia, kita mematuhi UUD yang berlaku. "Ketika kita mengikuti ajaran agama ya harus mematuhi aturan agama yang tidak melanggar UUD serta menyakiti yang lain. Kembali pada suara hati nurani, itu sangat penting," pungkasnya. (M-2)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More