Tiongkok Berhasil Transplantasi Telinga Buatan

Penulis: Administrator Pada: Sabtu, 10 Feb 2018, 12:30 WIB Eksplorasi
Tiongkok Berhasil Transplantasi Telinga Buatan

CIENCEALERT

TIM peneliti ahli jaringan dan ahli bedah plastik di Tiongkok berhasil mentransplantasikan telinga anak yang menderita mikrotia.

Sebanyak lima anak yang dilahirkan dengan cacat telinga mikrotia unilateral melakukan implantasi baru-baru ini. Kelima anak tersebut berusia 6 hingga 10 tahun yang menyandang mikrotia hanya pada satu telinga.

Mikrotia ialah kelainan bentuk bawaan yang menghasilkan telinga luar berukuran kecil dan tidak berbentuk. Gangguan ini terjadi pada 1 dari 5.000 kelahiran di dunia. Kebanyakan prevalensi penyandang mikrotia berada di wilayah Asia dan Amerika Latin.

"Mikrotia merupakan gangguan telinga pada bagian luar secara serius yang dapat memengaruhi kesehatan baik psikologi dan fisiologi anak-anak penderitanya," jelas salah satu peneliti, Guangdong Zhou.

Di Laboratorium

Telinga buatan yang ditransplantasikan itu dikembangkan di laboratorium dengan menggunakan kultur sel autologous yang diambil dari sel tubuh kelima anak tersebut dan dicetak 3 dimensi.

Dalam prosesnya, dengan bantuan tomografi terkomputerisasi atau CT scan, peneliti membuat cetakan tiga dimensi dari telinga yang normal yang disesuaikan dengan telinga penyandang mikrotia.

Replika telinga tiga dimensi itu di-cetak sesuai dengan bentuk aslinya dan terbuat dari material yang bisa diurai. Peneliti menggunakan sel tulang rawan dari telinga mikrotia.

Selama 12 pekan sel mulai tumbuh dan bahan lainnya pun mulai terdegradasi. Pengobatannya juga melibatkan penempatan ekspander jaringan di bawah kulit telinga yang terkena. Ini membantu meregangkan kulit.

Pada saat proses hampir mendekati akhir, telah tercipta lipatan kulit struktur telinga yang baru. Setelah telinga baru tumbuh di dalam cetakan, dokter akan memasangkannya ke anak lewat prosedur bedah plastik. Mereka akan menjalani operasi untuk menempel telinga ke kepala mereka.

Setelah 2,5 tahun implantasi, salah satu anak itu akan memiliki telinga yang tampak nyata. Namun, tidak jelas berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan keseluruhan perawatan. Para periset akan memantau masing-masing dari lima pasien tersebut selama lima tahun.

Dari lima pasien, satu pasien mendapatkan telinga yang cukup baik, empat pasien lainnya menunjukkan hasil yang kurang konsisten. Telinga baru satu anak gagal menghasilkan tulang rawan baru dan yang lainnya kurang halus secara estetis.

Tekniknya tentunya perlu disempurnakan. Hasil awal ini merupakan lompatan yang menjanjikan ke depan untuk bidang obat rekonstruktif.

"Inilah langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk membawa teknologi ini ke pasien," kata Jos Malda, profesor biofabrikasi dan regeneratif di Universitas Utrecht. "Ini sebuah prestasi."

Keberhasilan percobaan ini membuka kesempatan kepada anak-anak lain penyandang mikrotia untuk mendapatkan telinga normal. Hasil transplantasi ini dinilai merupakan sebuah terobosan signifikan dan perawatan yang revolusioner dalam rekayasa jaringan tulang muda telinga manusia.

Sebelum adanya temuan ini, ada metode yang digunakan untuk implantasi, yaitu mengambil tulang rawan dari tulang rusuk pasien kemudian dibentuk menjadi jaringan telinga.

Menurut makalah yang dipublikasikan di Ebiomedicine, metode tersebut menyebabkan cedera pada daerah donor dan meniru struktur telinga tiga dimensi yang kompleks sulit dicapai hanya dengan menggunakan keahlian tangan ahli bedah. (Newscientist/theSun/iflscience/dailymail/*/L-2)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More