Mengatasi Nyeri Pinggang dengan Laser

Penulis: Administrator Pada: Rabu, 07 Feb 2018, 14:00 WIB Kesehatan
Mengatasi Nyeri Pinggang dengan Laser

THINKSTOCK

NYERI pinggang merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling banyak dijumpai di praktik klinik dokter. Data menunjukkan setiap orang dalam hidup mereka minimal pernah mengalami satu kali periode nyeri pinggang. Sebanyak 5%-20% dari mereka mengalami nyeri yang bersifat kronis atau berkepanjangan.

"Sekian banyak pasien yang datang ke klinik dokter atau rumah sakit umumnya sudah dengan kondisi nyeri pinggang yang kronis," jelas dr Mahdian Nur Nasution SpBS, pakar nyeri dari Klinik Nyeri dan Tulang Belakang, Gedung Onta Merah, Jakarta.

Dari sekian banyak penyebab nyeri pinggang, herniated nucleus pulposus (HNP) atau yang jamak disebut saraf terjepit merupakan penyebab nyeri pinggang kronik terbanyak.

HNP terjadi karena herniasi (penonjolan) gel pengisi bantalan sendi di ruas-ruas tulang belakang. Ketika tonjolan itu menekan saraf di sekitarnya, timbullah nyeri berkepanjangan. Gejalanya antara lain nyeri pinggang yang menjalar ke tungkai, kadang disertai kelemahan pada tungkai.

Mahdian menjelaskan, salah satu langkah penanganan untuk kasus HNP ialah metode percutaneous laser disc decompression (PLDD). Metode itu dilakukan tanpa pembedahan.

Prosedurnya, terang Mahdian, pasien dibius lokal. Lalu, dengan bantuan alat khusus dan panduan fluoroskopi, dokter spesialis bedah saraf akan memasukkan jarum berukuran 1 mm menuju bantalan sendi yang mengalami herniasi.

Setelah jarum tepat masuk di pusat dari bantalan sendi, energi laser disalurkan. Laser tersebut kemudian membakar inti bantalan sendi tulang belakang sehingga volume bantalan sendi berkurang. Berkurangnya volume inti atau bagian tengah bantalan sendi tulang belakang itu akan mengembalikan tonjolan batalan sendi masuk kembali sehingga tampak seperti bantalan sendi normal.

Dengan masuknya tonjolan itu, sambung Mahdian, tidak ada lagi tonjolan yang menekan saraf. Gejala-gejala seperti rasa nyeri saat berjalan, kebas, kesemutan saat bangun dari tidur atau duduk yang selama ini dikeluhkan pasien juga akan hilang.

"Tindakan PLDD tidak menyebabkan kerusakan pada jaringan sekitar, baik otot, ligamen, maupun struktur tulang belakang. Dari beberapa penelitian, efektivitas metode PLDD dalam penanganan masalah saraf terjepit berkisar 78%-85%, dilihat dari gejala yang dirasakan pasien," papar Mahdian.

Sebuah kajian dari beberapa literatur kedokteran di Cochrane Library menyebutkan PLDD memiliki tingkat keberhasilan yang sama dengan teknik operasi terbuka atau laminektomi dalam mengatasi masalah saraf terjepit. Bahkan PLDD memiliki lebih banyak keunggulan seperti luka sayatan yang minimal, penyembuhan pascatindakan yang lebih cepat, komplikasi minimal, dan harga yang relatif lebih murah.

Faktor risiko
Pada kesempatan sama, pakar rehabilitasi Klinik Nyeri dan Tulang Belakang, dr Sri Wahyuni SpKFR, menjelaskan terdapat beberapa faktor risiko terjadinya HNP. Faktor itu antara lain kebiasaan merokok, olahraga berat seperti angkat besi, atau aktivitas pekerjaan tertentu yang membuat seseorang sering mengangkat beban secara berulang.

"Dalam beberapa penelitian juga dikatakan, orang yang sering mengendarai sepeda motor memiliki risiko lebih besar untuk terjadi HNP, mencapai 2,7 kali lipat," imbuhnya. (Nik/H-2)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More