[BIDASAN BAHASA] Misadaptasi

Penulis: Ridha Kusuma Perdana, Staf Bahasa Media Indonesia Pada: Minggu, 04 Feb 2018, 10:10 WIB BIDASAN BAHASA
[BIDASAN BAHASA] Misadaptasi

Dok.MI

BAHASA Indonesia merupakan bahasa yang sangat terbuka, baik terhadap perkembangan zaman maupun bahasa asing. Terbukti, banyak istilah dan kata baru yang dimasukkan ke Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi V seiring dengan perkembangan teknologi, ekonomi, dan politik. Setidaknya hingga saat ini ada 100 ribuan lebih lema yang ada di dalam KBBI Edisi V.

Bahasa Indonesia juga kerap menyerap kata-kata baru, baik dari bahasa asing atau bahasa daerah, yang sekiranya kata itu memang tidak ada konsepnya dalam bahasa persatuan ini.

Contoh kata-kata itu ialah netizen, yang diserap menjadi warganet meskipun netizen tetap ada dalam entri, lalu tablet tetap diserap menjadi tablet (konsepnya tidak ada dalam bahasa Indonesia), financial technolo­gy menjadi teknologi finansial, dan omnichannel menjadi omnikanal.

Namun, proses penyerapan dari bahasa asing dan bahasa daerah itu bukan berarti dilakukan tanpa kaidah. Dalam praktiknya, ada aturan dan standardisasi yang harus dipatuhi, tidak asal serap, yaitu penyerapan melalui adopsi (tablet tetap tablet), adaptasi (communication menjadi komunikasi), pener­jemahan (training camp menjadi tempat pelatih­an), dan kreasi (mass rapid transit menjadi moda raya terpadu/MRT).

Akan tetapi, di dalam implementasinya, terutama di jejaring sosial, pengguna bahasa Indonesia kerap keliru dalam menggunakan kata yang diserap dari bahasa asing, terutama dalam proses adaptasi, entah itu karena kekurangpahaman (kurangnya kompetensi) atau kekeliruan (perfomansi).

Parahnya lagi, kekeliruan atau kesalahan tersebut tersebar bak virus, menyebar tak terkendali, menjamur di media-media, baik media massa maupun media sosial, dan meninggalkan jejak digital yang tak terhitung jumlahnya.

Kesalahannya memang terlihat sepele, misalnya, hanya berbeda satu huruf, salah peletakan huruf, atau kurang satu huruf, misalnya, carrier jadi karir (seharusnya karier), extreme jadi ekstrim (semestinya ekstrem), dan negotiation jadi negoisasi (seharus­nya negosiasi).

Namun, jika kesalahan atau kekeliruan tersebut terus dibiarkan dan tidak ada tindak­an untuk mencegahnya, hal semacam itu pasti akan terus berulang dan tidak tertutup kemungkin­an akan menyebabkan kesalahan lain, atau yang lebih parah merambat pada tingkat kebahasaan yang lebih tinggi.

Berkaitan dengan masalah itu, media massa sebenarnya mempunyai peran yang sangat penting. Sebabnya, media massa punya ruang yang luas dalam mengampanyekan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Terlebih sekarang ada ruang tak terbatas bernama internet, lebih spesifik ke media sosial.

Jangan sampai media massa yang seharusnya memberikan pemahaman kebahasaan yang baik dan benar kepada masyarakat malah ‘ikut andil’ dalam penyebaran kesalahan-kesalahan berbahasa tersebut.

Berita Terkini

Read More

Poling

TEKA-teki kontestan Pilpres 2019 terkuak sudah. Joko Widodo akhirnya memilih Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin sebagai cawapres sedangkan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno. Mereka saat ini tengah melengkapi persyaratan dan akan mendatangi KPU pada Jumat (10/8) di batas akhir pendaftaran Capres/Cawapres 2019. Dari dua pasangan itu, siapa pilihan Anda?





Berita Populer

Read More