Senja di Tepi Kuil Fajar

Penulis: Akmal Fauzi Pada: Minggu, 04 Feb 2018, 08:25 WIB Weekend
Senja di Tepi Kuil Fajar

Wat Arun di tepian sungai Chao Phraya---MIAkmal Fauzi

RUNTUHNYA Ayutthaya pada 1767 akibat serangan Dinasti Konbaung dari Myanmar membuat ibu kota Kerajaan Siam dipindahkan ke Thonburi, di tepian Sungai Chao Phraya. Di lokasi itu terdapat kuil Buddha yang dulu disebut Wat Makok. Raja Taksin mengubah namanya menjadi Wat Chaeng.

Kuil itu runtuh dan ditinggalkan. Barulah pada masa Raja Rama II di abad ke-19, kuil ini dipugar kembali. Kemudian ditambahkan sebuah stupa atau prang setinggi sekitar 70 meter yang kini menjadi ciri khas Wat Arun. Orang banyak menyebutnya Temple of Down atau Kuil Fajar.

Namun, saya yang berkunjung di sela kegiatan Wonderful Indonesia yang diikut­i Kementerian Pariwisata belum lama ini justru menilai kuil Wat Arun lebih cantik dinikmati pada saat senja. Terletak persis di sisi bagian barat Sungai Chao Phraya atau Sungai Para Raja, panorama indah menyembul saat matahari terbenam sejajar dengan puncak stupa perpaduan Khmer dan gaya Thai itu.

Sore yang cantik
Belum lagi, burung-burung hinggap di tepian Dermaga Tha Tien, akses masuk Wat Arun, menambah cantik suasana sore itu. Lalu lalang feri yang mengangkut wisatawan mancanegara menyusur Sungai Chao Phraya, pun menjadi bagian dari panorama.

Wat Arun dibangun dengan arsitektur dan detail hiasan yang unik. Terbuat dari batu bata yang dilapisi semen dan ribuan keping porselen Tiongkok berwarna-warni. Detailnya cantik berbentuk bunga-bunga.

Ada banyak patung yang merupakan wujud beberapa karakter cerita epik Ramayana dan Dewa-Dewa Buddha dipasang di beberapa sudut bangunan. Ada juga patung gajah berkepala tiga di setiap arah mata angin.

Selain stupanya, ornamen lain sarat akan pengaruh asing seperti India dan Tiongkok. Seperti porselen dan patung prajurit Tiongkok yang ikut menghiasi kuil.

“Setiap hari lebih dari 1.000 orang masuk ke (dermaga) Tha Tien untuk ke Wat Arun. Mereka suka sejarah dan gaya arsitektur di sini,” kata Samorn Phawta, salah satu petugas di sana.

Jika Anda ingin berbelanja, tempat ini juga sudah dilengkapi pasar yang berjualan cendera mata khas Thailand. Para pedagang rupanya cukup akrab dengan warga Indonesia. Selain sedikit mampu berbicara bahasa Indonesia, beberapa pedagang menerima transaksi menggunakan rupiah.

“Bapak Ibu (warga) Indonesia banyak ke Wat Arun,” ujar Tossapon Thongmak, pedagang cendera mata di Wat Arun.

Kota Lama di tepian Sungai Raja
Selain Wat Arun, saya menyusuri Sungai Chao Phraya untuk melihat eksotisnya bangunan Kota Lama Bangkok dengan menggunakan feri yang dikenai tarif 15 baht. Terlihat perkampungan asli, hingga beragam kuil nan eksotis. Itu sebabnya, sungai ini menjadi tujuan wajib pelancong di Bangkok.

Di seberang Wat Arun terdapat ba­ngunan Kuil What Pho dan Grand Palace (istana raja) yang bisa dilihat dari tepian sungai dengan menggunakan feri. Sungai yang membelah Kota Bangkok ini memiliki banyak fungsi, mulai irigasi, pasar terapung, hingga transportasi. Tak salah jika sungai sepanjang 372 kilometer ini disebut sebagai urat nadi kehidupan Bangkok.

Dikabarkan, menurut legenda, nama sungai ini ialah Mae Nam Chao Phraya. Kata mae dalam bahasa Thailand berarti ibu, sedangkan nam berarti air. Sementara itu, nama Chao Phraya diambil dari julukan pada masa lampau, yakni Chao Pi’a.

Nama itu menunjukkan Sungai Chao Phraya menjadi sungai utama pada masa kejayaan Kerajaan Siam. Karena itu, sungai ini dikenal dengan julukan The River King atau ‘Sungai para Raja’. (M-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More