KPK Berikan Pendampingan Dengan Tulus

Penulis: Eko Suprihatno Pada: Jumat, 02 Feb 2018, 22:39 WIB Features
KPK Berikan Pendampingan Dengan Tulus

Dok. Komunitas Peduli Kasih

WAJAH Fathurrahman, 9, terlihat ceria ketika melihat teman-temannya bermain di lapangan. Bahkan tubuhnya ikut melonjak-lonjak di baby walker karena kegirangan.

Fathurrahman hanyalah satu dari sekian banyak anak-anak yang akhir pekan lalu ikut berdarmawisata ke Taman Bunga Wiladatika, Cibubur, Jakarta Timur. Bocah ini didiagnosa menderita Ensefaliti (radang jaringan otak) sejak usia 1 tahun.

Ia merupakan bagian dari pasien asuh Komunitas Peduli Kasih (KPK). Ini sebuah komunitas yang anggotanya fokus pada pendampingan orang-orang dengan masalah penyakit yang nyaris tak bisa sembuh, seperti kanker, dan berbagai kelainan seperti jantung, pembuluh darah, otak/motorik, ginjal, paru, tulang belakang, dsb.

Mengobati? Tidak. Itu karena mereka bukan lembaga kesehatan. Tugasnya hanyalah memberikan kenyamanan kepada para pasien dengan latar belakang kurang mampu, yang sedang menjalani pengobatan jangka panjang/seumur hidup.

"Bisa dibayangkan bagaimana jenuhnya mereka yang menjalankan pengobatan seperti itu. Jadi kami berupaya membantu dengan membuat kenyamanan saja agar mereka tidak jenuh," ujar Max Indra, salah satu anggota komunitas KPK di Jakarta, Jumat (2/2).

Max menceritakan bahwa KPK tidak 7x24 jam mendampingi sekitar 35 pasien tersebut. Pendampingan hanya jika diperlukan saja bila tak ada keluarga yang bisa mendampingi dalam proses pengobatan misalnya. Salah satunya KPK melakukan penjemputan pasien asuh di rumah singgah Sodakoh Rombongan.

"Tapi kami mulai mengajarkan kepada sesama pasien untuk saling menolong, agar sama-sama bisa saling menguatkan. Mereka dari berbagai latar belakang dan segala usia," imbuh Max.

KPK memiliki visi 'Belas kasih dan cinta mengalahkan segalanya'. Sedangkan misi yang dimiliki ialah 'Bersama bergandengan tangan melayani sesama dengan penuh cinta & kasih sayang tanpa memandang status, suku dan agama.'

Pasien asuh, begitu komunitas ini menyebut para penderita penyakit tersebut, begitu antusias ketika diberitahukan akan berdarmawisata. Mereka pun datang dari rumah masing-masing menuju titik kumpul, untuk kemudian bersama-sama menuju tempat wisata.

"Sejauh ini kami baru mampu mengajak mereka ke tempat-tempat yang murah meriah seperti ke taman bunga ini. Pernah juga ke TMII atau lokasi yang biayanya tidak mahal," ungkap Max.

Komunitas yang ini hanya mengandalkan donatur dan kocek pribadi anggota-anggota. Sehingga dalam setahun maksimal hanya dua kali berdarmawisata.

Itu sebabnya, komunitas ini hanya mampu memberikan bimbingan/pendampingan, transportasi pasien dari dan ke rumah sakit, makanan sehari-hari pendamping pasien, vitamin, susu, hingga tisu basah.

"Memang baru sebatas itu yang kami mampu. Kalau ada sponsor atau pihak yang ingin membantu, tentu sangat kami apresiasi demi menolong sesama. Ada banyak pasien asuh yang ingin mendapatkan pendampingan, tapi karena banyak keterbatasan dalam komunitas inilah yang membuat kami terpaksa menolak," tandas Max.

KPK masih sebiji gandum karena terbatas dana maupun personelnya. Kendati tak banyak yang bisa dilakukan, namun komunitas ini sudah berbuat selangkah lebih baik tanpa perlu gembar gembor unjuk jasa.

"Ke depan KPK ingin punya rumah singgah, ingin punya usaha yang hasil bersihnya untuk para pasien asuh. Semoga saja harapan ini bisa terwujud," tutup Max. (OL-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More