Pakar Reproduksi Dunia Berpulang

Penulis: RO-Micom Pada: Kamis, 01 Feb 2018, 11:15 WIB Obituarium
Pakar Reproduksi Dunia Berpulang

Ist

TELAH berpulang ke rahmatullah, seorang guru besar FKUI, pakar reproduksi dunia, Prof. Dr. dr. Biran Affandi SpOG(K) pada usia 72 tahun, Rabu (31/1) 2018 jam 14.20. di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta.

Seperti dilansir keterangan resmi, Kamis (1/2), seebelum dikebumikan, sebagai penghormatan terakhir jenazah Prof Dr. dr. Biran Affandi SpOG (K) disemayamkan terlebih dahulu di Lobi Bawah FKUI pada pukul 08.00 WIB. Rektor UI, Prof. Dr. Ir. Muhammad Anis, M.Met bersama Dekan FKUI, Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, memimpin upacara pelepasan jenazah.

Turut hadir pula para guru besar, direksi RSCM, mahasiswa, dan rekan almarhum semasa hidupnya. Setelah persemayaman, jenazah akan disalatkan di Masjid Arief Rahman Hakim, Salemba untuk kemudian dimakamkan di TPU Jeruk Purut.

"Beliau lahir di Manna Bengkulu 22 Februari 1946. Beliau menempuh pendidikan kedokterannya di FKUI dan lulus pada 1970. Kemudian melanjutkan ke program spesialis dengan mengambil spesialis Ilmu Obstetri dan Ginekologi di FKUI, lulus 1976. Di 1987, ia memperoleh gelar Doktor dalam ilmu kedokteran pada Universitas Indonesia, Jakarta, ”sandwich program” dengan Karolinska Institutet, Stockholm- Swedia," ujar Dekan FKUI Dr.dr.Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH,FINASIM, FACP, dalam keterangan tersebut.

Menurut Ari, disertasi doktor almarhum seputar kontrasepsi implant atau susuk KB menjadi tonggak sejarah pengembangan penggunaan susuk KB yang meluas bukan saja di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia. Pemerintah Indonesia di masa tahun 80-an sedang gencar-gencarnya mengkampanyekan program keluarga berencana.

"Penelitian beliau seputar penggunaan susuk KB untuk orang Indonesia menjadi arahan yang baik untuk pemerintah Indonesia dan dunia untuk menjadi susuk KB atau implant menjadi alat kontrasepsi utama dalam program keluarga Berencana," tutur dekan.

Dokter Puskesmas dan Bidan di seluruh Indonesia di latih bagaimana memasukan alat susuk ini ke para ibu yang ingin mengatur kehamilannya. Susuk KB sendiri merupakan alat KB yang ditanamkan pada bawah kulit wanita yang akan mengatur kehamilannya. Susuk akan efektif untuk mencegah kehamilan sampai 3-5 tahun. Berbeda dengan suntik KB yang hanya 1-3 bulan.

Prof. Biran sendiri dikenal luas oleh kalangan dokter di Indonesia, tulisan2 beliau seputar kontrasepsi menjadi bahan pembelajaran untuk para bidan, dokter, para calon dokter spesialis obstetri dan ginekologi.

"Beliau menjadi contoh bagaimana seorang dokter Indonesia berbuat untuk masyarakatnya," ungkapnya.

Berbagai jabatan profesi pernah dipegangnya baik dilingkungan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sebagai Sekretaris Jenderal, Perhimpunan Obstetri Ginekologi Indonesia sebagai Ketua Umum, Ketua Kolegium Perhimpunan Obstetri Ginekologi Indonesia, beliau juga aktif di organisasi regional dan internasional dengan beberapa jabatan penting.

"WHO juga menggunakan kepakaran beliau dalam program reproduksi dunia untuk mengendalikan jumlah penduduk dunia. Di lingkungan UI beliau pernah menjadi Ketua Dewan Guru Besar memimpin para Guru Besar UI, banyak terobosan yang beliau lakukan saat memimpin Dewan Guru Besar salah satunya menghadirkan para tokoh bangsa di FKUI menjelang pemilihan calon presiden yang lalu," tambahnya.

Prof Biran, lanjut dekan, menjadi contoh seorang pendidik yang melaksanakan tri dharma pengguruan tinggi, pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat. Menjelang akhir hayatnya walau penyakit kanker sedang menyerang dirinya beliau tetap mengajar dan berbagi ilmu bukan saja di FKUI tetapi seluruh Indonesia.

"Beliau tetap menjadi penguji nasional untuk dokter-dokter yang akan meraih brevet spesialis Obtetri Ginekologi dan datang ke senter2 pendidikan di Indonesia walau kondisi kesehatan tidak fit. Integritas dan profesionalisme tidak diragukan lagi," tuturnya.

Penelitian Prof Biran seputar susuk atau implant KB telah mencatatkan nama beliau pada hampir 50 publikasi internasional. Di sisi lain pengabdian masyarakat beliau juga luar biasa, sering menjadi nara sumber di berbagai kesempatan baik di media cetak dan elektronik. Bahkan beberapa waktu lalu beliau masih bersedia dan dengan sangat semangat berbicara pada simposium awam di RSCM Kencana.

"Jika kita simak google seputar kiprahnya untuk masyarakat, pendapat kepakarannya dibidang reproduksi kerap kali menjadi rujukan. Satu hal walau beliau ceramah tentang bagaimana mengatur kehamilan beliau tetap selalu menyampaikan bahwa alat kontrasepsi hormon seperti susuk KB hanya digunakan untuk yang sudah menikah dan tetap meminta anak muda untuk tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah," terang Dekan.

Prof. Biran telah menjadi contoh buat civitas akademika FKUI dan UI dimana budaya FKUI RSCM Integritas, profesionalisme, Keunggulan, Kolaborasi dan Kepedulian yang telah menjadi bagian hidup dan kehidupannya menjadi contoh buat kita semua.

Keunggulan penelitian beliau dalam bidang reproduksi khususnya impant atau susuk KB telah membuat Indonesia menjadi rujukan untuk program keluarga berencana dunia. Kepedulian terhadap sesama terus berbagi ilmu baik untuk kalangan kedokteran baik dokter maupun bidan dan kalangan masyarakat awam harus menjadi contoh buat kita semua walaupun diadalam tubuh beliau sebenarnya kurang fit.

"Salamat jalan Prof, selamat jalan guru besar Universitas, guru yang selalu menginspirasi kita semua," tutup dekan Ari. (OL-6)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More