Merajut Kejayaan Kopi Indonesia

Penulis: Tesa Oktiana Surbakti/X-6 Pada: Selasa, 30 Jan 2018, 07:09 WIB Nusantara
Merajut Kejayaan Kopi Indonesia

MI/AGUNG WIBOWO

AROMA rempah-rempah dalam kopi itu menciptakan sensasi tersendiri. Itulah sajian dari salah satu stan Festival Kopi bertajuk Nusantara dalam Secangkir Kopi yang berlangsung pada 29-30 Januari 2018. "Kopi ini hanya ada di Hotel Papandayan, Bandung, Jawa Barat. Kopinya dari tanah Sunda," kata Asep sang peracik.

Minum kopi semakin menjadi tradisi di berbagai penjuru Tanah Air, terutama bagi masyarakat perkotaan. Sayangnya, menjamurnya kedai kopi belum mencerminkan tingginya konsumsi kopi di Indonesia.

Konsumsi domestik, misalnya, baru 1,5 kg per kapita per tahun, masih rendah. Bandingkan dengan Jepang 4 kg, Malaysia 4 kg, dan Norwegia 13 kg.

"Media Indonesia melihat kopi sebagai komoditas ekspor unggulan dan produk kekinian, perlu dijaga keberadaannya. Dari lapisan pemangku kepentingan harus mengambil peran bagaimana menjadikan kopi Indonesia menjadi nomor satu di dunia, khususnya dari sisi pemasaran. Mengingat pemasaran global masih dikuasai Brasil," ujar Direktur Pemberitaan Media Indonesia Usman Kansong dalam pembukaan festival.

Dalam festival itu tercatat ada 48 jenis kopi dari perkebunan Nusantara yang siap memanjakan lidah pengunjung, mulai kopi gayo, mandailing, lampung, flores bajawa, toraja, java preanger, hingga wamena.

Andanu Prasetyo alias Tyo, pemilik Kopi Tuku, Salah satu peserta festival, yang membuka usaha pada 2015 di kawasan Cipete, Jakarta Selatan, melihat untuk meningkatkan konsumsi kopi, ia memegang teguh prinsip tidak akan menggurui konsumen.

"Ada anggapan menikmati kopi yang sebenarnya itu kopi aja, enggak pakai gula. Tapi ini konteksnya (untuk) konsumsi. Tamu bayar, masak kita tentuin cara minumnya," tutur Tyo.

Kepala Produksi Wibrosky Coffee Oky Herusatmoko berpendapat, untuk menaikkan posisi Indonesia, petani kopi kita sebaiknya memanfaatkan teknologi pascapanen guna mengoptimalkan produksi. Brasil pun melakukannya dalam meraih kejayaan.(Tesa Oktiana Surbakti/X-6)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More