Cacat Diksi

Penulis: Meirisa Isnaeni/Staf Bahasa Media Indonesia Pada: Minggu, 28 Jan 2018, 03:01 WIB Opini
Cacat Diksi

blogspot.com

DALAM menggunakan bahasa Indonesia, penutur kerap kali keliru dalam menggunakan kata. Kasus seperti itu sering kali muncul dan kasusnya pun bermacam-macam. Misalnya, penutur menggunakan kata yang maknanya tertukar dengan kata lain, contohnya kata jengah. Kata jengah sering diartikan jenuh padahal artinya malu.

Namun, ternyata ada kesalahan yang hampir serupa dengan itu, dan terstruktur. Misalnya, pada judul berita Kembangkan Ekonomi Kreatif, Bekraf Gandeng Filantropi (www.bekraf.go.id, 7/10/2016), Filantropis Indonesia, Dato’ Sri Tahir, Bantu Rp13 Miliar untuk Pengungsi Suriah (Kompas.com, 27/10/2016), Taylor Swift Sosok Filantropi Sejati (Sindonews.com, 6/9/2017), dan Tiga Orang ini Menginspirasi Tahir Jadi Filantropi (Detik.com, 22/5/ 2017). Kesalahan serupa juga terjadi pada judul berita Miliki Ajian Semar Mendem, Pedofilia Incar Mangsanya (Republika.co.id, 8/1/2018), Indonesia masih Dianggap sebagai Lahan Subur bagi Pedofilia (BBC Indonesia, 14/7/2017), dan Lagi, Pedofilia Australia Mencoba Masuk ke Indonesia­ ( Tem­po.co, 18/10/2016).

Jika diselisik dengan cermat, kesalahan pada judul-judul berita itu terletak pada kata filantropi dan pedofilia. Mengapa demikian? Filantropi dan pedofilia pada judul berita tersebut mengacu pada pelaku/orangnya. Padahal, sebenarnya filantropi dan pedofilia mempunyai arti yang berbeda.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Pusat Bahasa Edisi V, filantropi bermakna cinta kasih (ke­dermawanan dan sebagainya) kepada sesama, sedangkan pedofilia mempunyai arti kelainan seksual yang menjadikan anak-anak sebagai objek seksual. Dengan kata lain, pedofilia mengacu pada kasusnya, sedangkan filantropi mengacu pada tindakannya.

Jadi, kata yang tepat untuk kedua judul itu ialah filantrop yang berarti pencinta kemanusiaan; dermawan, dan pedofil yang artinya pelaku pedofilia.

Selain itu, kasus sejenis terjadi pada beberapa judul berikut. Fasilitasi Pejalan Kaki, Ibu Kota Terus Menata Pedestrian (Liputan6.com, 16/7/2017), Semester I 2017, Kota Surabaya Bangun Pedestrian Sepanjang 5,2 Km (Detik.com, 20/7/2017), Pedestrian Sisi Barat Malioboro Mulai Dibangun (Metrotvnews.com, 19/7/2017), dan Tahun Depan, Pemkab Bekasi Bangun 3 Pedestrian bagi Pejalan Kaki (Sindonews.com, 27/11/2017).

Pedestrian pada judul berita tersebut mengacu pada tempat atau jalan/trotoar. Padahal dalam KBBI, pedestrian mempunyai arti pejalan kaki. Pedestrian pada judul tersebut seharusnya diganti dengan kata trotoar, yang artinya tepi jalan besar yang sedikit lebih tinggi daripada jalan tersebut, tempat orang berjalan kaki.

Selain contoh-contoh tersebut, ada juga kesalahan kata yang merujuk atau mengacu pada si pelaku. Misalnya, kata buronan. Buronan Kasus Narkoba ini Dibekuk BNN di Rumah Sakit (Sindonews.com, 20/1/2018), Setnov Resmi Jadi Buronan (CNN Indonesia, 16/11/2017), Duit Rakyat Habis untuk Buru Buronan (Media Indonesia, 13/8/2011), dan Wakil Ketua DPRD Bali Jadi Buronan Kasus Kepemilik­an Sabu (Liputan6.com, 7/11/2017).

Dalam KBBI tidak ada istilah buronan, tetapi yang ada kata buron. Buron memiliki arti orang yang (sedang) diburu (oleh polisi); orang yang melarikan diri (karena dicari polisi).

Dari paparan tersebut sangat jelas kata atau diksi apa saja yang seharusnya dipakai dan tidak dipakai. Penutur dan penulis hendaknya cermat dalam memilah diksi yang tepat yang sesuai dengan konteksnya agar tidak merusak tatanan makna.

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More