Kembali Bersolek Jelang Imlek

Penulis: Ramdani Pada: Minggu, 28 Jan 2018, 02:01 WIB Foto
Kembali Bersolek Jelang Imlek

MI/Ramdani

SISA-SISA bangunan terbakar masih terlihat dalam bangunan induk ruang ­utama sembayang, khusus­nya kayu penyangga yang berwarna hitam pekat. Kebakaran yang terjadi pada 2 Maret 2015 itu menimpa Wihara Dharma Bhakti yang berumur ratusan tahun di Jalan Kemenangan III, Kelurahan Glodok, Tamansari, Jakarta ­Barat. Patung-patung pemujaan ikut terbakar. Untunglah, patung Dewi Kwan Im yang ber­usia lebih kurang 300 tahun bisa ­diselamatkan.

Dalam buku Klenteng-­klenteng dan Masyarakat Tionghoa di ­Jakarta karangan Claudine ­Salmon (2003), wihara ini menyimpan legenda dan sejarah, khususnya peradaban Tionghoa di Jakarta. Wihara ini dibangun pada abad ke-16, tepatnya 1650. Saat itu ­Jakarta masih bernama Batavia, yang dikuasai persekutuan dagang pengusaha Belanda (VOC).

Menjadi kelenteng tertua membuat Wihara Dharma Bhakti banyak dikunjungi, baik untuk sembahyang ataupun sekadar berwisata, termasuk menjadi tempat favorit berburu foto bagi fotografer profesional dan amatir.
Menjelang Tahun Baru Tionghoa 2569 atau Imlek, diperkirakan ­banyak umat yang datang ke wihara ini. Tidak semata dari ­Jakarta, tapi juga luar kota.

Dalam menyambut umat yang akan datang pada 16 ­Februari ­mendatang, Wihara Dharma ­Bhakti pun berbenah. Tempat ibadah sementara sudah dibangun di belakang bangunan induk yang terbakar.

Ya, tidak salah ada tempat ­ibadah sementara. Pasalnya merenovasi bangunan cagar budaya ini butuh waktu. Ketua Yayasan Dharma Bhakti, Tan Adi Pranata, menjelaskan sebagai bangunan cagar ­budaya, wihara memerlukan waktu 3-4 tahun untuk di­bangun kembali. Pembangunannya ­tidak meninggalkan bentuk asli, ­menggunakan kayu jati. Dana yang dipergunakan untuk renovasi ­berasal dari umat dan donatur. (M-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More