Petugas Ibu

Penulis: Ono Sarwono Pada: Minggu, 28 Jan 2018, 13:15 WIB Opini
Petugas Ibu

FATSUN politik yang berkembang di internal parpol di negeri ini ialah semua kader merupakan petugas partai. Maka, bilamana ketua umum atau pemimpin tertinggi parpol memerintahkan kader untuk suatu tugas tertentu, yang bersangkutan tidak boleh menawar, apalagi menolak. Setiap kader hanya punya satu pilihan, yakni harus siap melaksanakannya.

Dalam dunia wayang, etika semacam itu juga diteguhkan Dewi Durgandini kepada semua ‘kadernya’. Praktik politik bernuansa kekeluargaan ini dibangun-tegakkan sejak putri Negara Wiratha itu terpilih sebagai permaisuri raja Astina Prabu Sentanu.

Dalam perjalanannya, politik Durgandini inilah yang melahirkan Pandawa, lima kesatria hebat yang menjadi idola titah marcapada dan kesayangan para dewa di kayangan.

Dilamar Sentanu
Alkisah, Durgandini kembali ke rumah, Istana Wiratha, setelah sembuh dari penyakit kulit akut yang membuat keluarga besarnya malu. Putri Prabu Basuparicara itu sehat dan jadi cantik bersinar setelah gentur menjalani laku prihatin sebagai tukang penyeberang di Sungai Yamuna.

Penolong Durgandini ialah petapa muda bernama Palasara dari pertapaan Sapta Arga. Pertemuan keduanya bukan hanya terhenti pada hubungan antara sang penyembuh dan pasien. Lebih dari itu, keduanya saling jatuh cinta dan kemudian menikah. Dari perkawinan mereka lahirlah buah hati laki-laki yang diberi nama Abiyasa.

Awalnya, Basuparicara tidak mengetahui gadisnya sudah melangkah begitu jauh tanpa izinnya. Maka, ketika mendengar kabar tentang pernikahan putrinya tersebut, ia buru-buru mengutuskan putranya, Durgandana, menjemput adiknya, Durgandini, pulang ke istana.

Perintah lain yang diemban Durgandana ialah membatalkan pernikahan adiknya. Dengan kekuasaannya, Palasara dipaksa harus melepaskan Durgandini. Namun, Palasara berhak mengasuh Abiyasa.

Seiring dengan berjalannya waktu, pada suatu ketika Durgandini dilamar Raja Astina Prabu Sentanu. Saat itu Sentanu sudah memiliki putra laki satu bernama Dewabrata. Ia mengasuh anaknya sejak jabang bayi karena ibunya, Dewi Gangga, harus kembali ke kayangan.

Basuparicara senang dengan lamaran Sentanu karena itu jaminan putrinya akan menjadi orang terpandang. Namun, keputusan sepenuhnya diserahkan kepada putrinya, apakah menerima atau menolak. Durgandini menyatakan menerima tetapi dengan bebana (permintaan).

Syaratnya, bila nanti memiliki anak dari pernikahannya, ialah yang akan menjadi raja di Astina di kelak kemudian hari. Semula, Sentanu keberatan karena ada Dewabrata. Sesuai dengan paugeran (aturan) negara, bila dirinya mangkat, Dewabrata yang mesti menggantikannya duduk si singgasana.

Namun, demi kebahagiaan orangtuanya, Dewabrata menyatakan legawa tidak menjadi raja. Bahkan, ketika komitmennya itu diragukan Durgandini, ia bersumpah wadat. Sumpah sucinya itulah yang menjadikan Dewabrata mendapat nama Bhisma yang maknanya sumpahnya luar biasa.

Dari pernikahan Sentanu-Durgandini lahirlah dua putra bernama Citranggada dan Wicitrawirya. Dewabrata sangat senang dan menyayangi kedua adiknya dan ikut momong serta mendidik mereka.

Lahir dua anak
Dikisahkan, pada suatu hari Sentanu berpulang. Berdasarkan perjanjian pernikahan, akhirnya Citranggada yang menjadi Raja Astina. Namun, walaupun ia yang sehari-hari menjalankan pemerintahan, sejatinya Durgandini yang memegang tongkat komando.

Kodratnya, kekuasaan Citranggada ibarat baru seumur jagung. Ia yang digadang-gadang sang ibu menjadi raja dengan predikat gung binathara (seagung dewa), gugur dalam peperangan ketika mempertahankan negara dari pembangkangan raja negara jajahan.

Pada saat itu sang raja belum memiliki anak. Maka, takhta Astina akhirnya kosong. Durgandini lalu menugasi putra yang lain yang juga adik Citranggada, yakni Wicitrawirya, menjadi raja muda. Tidak ada pilihan lain bagi si bungsu, selain melaksanakan tugas tersebut.

Namun, kisah Wicitrawirya berusia pendek. Ia menyusul kakaknya ke alam baka karena suatu penyakit. Ia meninggal tanpa anak keturunan. Maka, kepemimpinan Astina kembali kosong.

Kepergian Wicitrawirya ini benar-benar membuat Durgandini sedih karena tidak ada lagi keturunan dari Sentanu. Namun, tidak lama ia dilanda kemurungan karena tiba-tiba ingat putranya dari benih Palasara.

Ia ingin Abiyasa, yang bukan trah Astina, duduk di singgasana. Ambisinya ini bukan tanpa alasan. Ini dimungkinkan karena berdasarkan konstitusi, bila terjadi krisis kepemimpinan di Astina akibat tiadanya trah (keturunan) raja, yang wajib menduduki takhta ialah titah yang dianggap suci. Abiyasa, yang sejak ia kecil mengikuti jejak bapaknya sebagai petapa di Sapta Arga, dianggap memenuhi persyaratan.

Durgandini lantas mengutus nayaka praja ke Sapta Arga memanggil Abiyasa. Sang ibu memerintahkan putranya itu menjadi Raja Astina. Abiyasa, yang siang dan malam ‘napasnya’ demi menebalkan laku mahas ing asemun (semadi), merasa berat dengan perintah sang ibu.

Hanya karena hormatnya kepada sang ibu, ia sendika dhawuh, siap melaksanakan tugas. Namun, ia memohon, bila kelak sudah ada yang pantas menjadi raja, dirinya minta diizinkan kembali ke Sapta Arga.

Durgandini tidak hanya memerintahkan Abiyasa menjadi raja di Astina, tetapi juga masih ada tugas lain. Ia wajib menikahi dua janda Wicitrawirya, yakni Ambika dan Ambalika. Lagi-lagi, karena ‘fatsunnya’ demikian, tidak ada kata lain bagi Abiyasa selain siap melaksanakan tugas.

Setia terhadap parpol
Dari pernikahannya dengan Ambika, Abiyasa yang bergelar Prabu Kresnadwipayana, beroleh putra bernama Drestarastra. Dari rahim Ambalika lahir Pandu. Selain itu, Abiyasa memiliki istri dayang istana, Datri, dan melahirkan putra bernama Yamawidura.

Setelah Abiyasa lengser, takhta Astina diberikan kepada Pandu. Dari pernikahan Pandu dengan Kunti lahir Puntadewa, Bratasena, dan Arjuna. Sementara itu, dengan Madrim, lahir kembar Nakula-Sadewa. Kelima anak itulah yang kemudian disebut keluarga Pandawa.

Poin kisah ini ialah semua putranya tidak ada (tidak boleh) menolak apa yang diperintahkan Durgandini. Bila Durgandini diibaratkan parpol, demikianlah semestinya sikap kader terhadap parpol. Tanpa itu, parpol sesungguhnya kehilangan jati diri dan kekuatan. (M-4)

sarwono@mediaindonesia.com

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More