Surat untukmu, Tjoe

Penulis: Robbyan Abel R Pada: Minggu, 28 Jan 2018, 13:30 WIB Weekend
Surat untukmu, Tjoe

SELAMAT pagi, Tjoe. Kuduga hampir jam 08.01 surat ini bakal sampai di depan rumahmu setelah tiga hari sebelumnya kukirim pada jam yang sama. Ketika surat ini sampai barangkali kamu sedang sibuk bersiap ke kantor. Aku punya selusin teman di Jakarta, mereka semua punya rutinitas yang sama: pagi-sore adalah kantor. Terkadang aku mengira mereka semua adalah orang yang sama. Tetapi kuharap kamu mau duduk sebentar walau kutahu kamu kurang suka melihat tulisan-tulisan berparagraf. Di sampingku ada anakmu. Ia duduk mengawal surat ini, sudah dua gelas susu dihabiskannya. Ia berjaga kalau-kalau dalam surat ini akan ada salah kata yang menyakitimu. Ia menurutimu untuk memperbanyak minum yang sehat-sehat meski terkadang anakmu minum vodka bersamaku tiap sabtu malam. Seminggu lalu, kami pun melakukan rutinitas tersebut--sehari setelah ujian sekolah berlalu. Anakmu mabuk dengan mengomeli banyak kondisi dari yang remeh-temeh hingga yang paling menyakitkan: agama.

”Tuhan tidak butuh makan buah di meja persembahan itu untuk hidup,” protesnya padaku sambil meletakkan dengan tegas gelas yang isinya selesai ditenggak. Selama riwayat kami minum bersama, anakmu tidak pernah jatuh ke pundakku. Ia senantiasa menyisakan sedikit kesadaran untuk menolak jika disentuh.

Hari ini hari perempuan sedunia. Muncul lagi wacana pasaran yang menguntungkan para penjual buku, para aktivis karbitan, bahkan ide-ide prematur yang terpaksa bertarung terkait pembebasan gender dari belenggu konservatif. Barangkali mereka lupa, bahwa di tempat kita ini kebebasan bukan kerajaan besar. Banyak yang mendukung, pun tidak sedikit yang menolak. Anakmu berada di kelompok yang mendukung. Ia pengin membebaskan orang-orang yang teralienasi dari apa pun. Betapa anakmu ini berperi kemanusiaan, Tjoe. ”Cinta tak boleh dibatas-batasi,” ungkapnya. Perkenalan kami dimulai dengan membahas sejarah hidupnya. Mulai dari perpisahan teman sekolah, pertama kalinya ia menjalin hubungan secara intim dengan gurunya, bahkan tentang kecelakaan yang dialami rombongannya saat berlibur ke Paris. Kuyakin yang terakhir kamu belum diceritakan, Tjoe. Sesekali ia menyesali dirinya yang lahir pada kondisi menyedihkan ini. Baginya menyedihkan ialah ketika kita dilahirkan atas dasar keegoisan orangtua dan diberi kewajiban untuk meneruskan cita-cita mereka yang tidak tercapai. Sederhananya, seorang anak yang lahir untuk meneruskan hasrat duniawi orangtuanya adalah anak yang menyedihkan. Dan anakmu merasa demikian, Tjoe.

Aku mengenal anakmu belum setahun. Tapi aku merasa sudah mengenalnya lebih daripada itu. Anakmu memasang curiga pada semua orang dengan nilai tinggi, bahkan aku sekalipun. Ini diwariskan darimu selain jimat merah yang sering dibawanya setiap kami bertemu. Tidak mengherankan anakmu memiliki sedikit teman. Ia selalu berhati-hati saat memutuskan berteman dengan seseorang atau tidak. Terlebih lelaki. Bukan karena tidak nyaman dengan topik perbincangan yang itu-itu saja, tetapi ia takut suatu saat akan mengecewakan orang-orang itu. Dan ia berasumsi bahwa akulah orang yang akan kuat menghadapi kekecewaan itu jika tiba waktunya. Kudengar kamu juga senang piknik. Sadarilah, Tjoe. Aku lahir di Papua untuk menyiapkan itu. Di sana kamu bisa menemukan banyak bukit hijau dengan panorama mengagumkan. Lepas dari rutinitas kantormu, tidak ada suara-suara telepon yang wajib dijawab, khususnya suara kemacetan yang pasti sering menjadi keluhan kebanyakan orang--sering pula jadi topik kampanye calon pejabat. Namun, di Papua, Tjoe, terlalu banyak penindasan. Yang mereka alami mirip seperti yang menimpamu belasan tahun lalu. Kurasa kita memang perlu memaklumi tahun-tahun ’98. Negeri kita ini mengalami kesulitan dalam memperhatikan penindasan. Jika saja hidup tidak butuh banyak syarat, kita pasti sudah bertemu sejak aku jatuh cinta dengan anakmu, Tjoe. Dan aku tidak perlu mengenalmu sebagai orang Cina. Tjoe, kami sering membicarakan ini, kami selalu memikirkan strategi untuk melampaui batas-batas agama itu supaya kami bisa berdiri paling tinggi lalu berpegangan tangan di atas orang-orang yang mendongak melihat langit.

Selain mendukung kebebasan mencintai tanpa sekat gender, anakmu juga mendukung orang bercinta tanpa pandang agama. Ini di luar dari dedikasimu sebagai ibu. Ia punya ideologi sendiri seiring perjalanan hidupnya. Begitu juga ketika ia memilih untuk beragama atau tidak, berpacaran atau tidak, menikah atau tidak, di dapur atau tidak, di ranjang atau tidak, hamil atau tidak, kaya atau tidak. Duh. Pokoknya banyak kemapanan yang tidak disetujui anakmu ini, Tjoe. Terkadang aku sering gengsi kalau berdiskusi dengannya. Pasti aku kalah telak. Ia lebih liar dari kecurigaanmu. Seandainya dunia ini tidak terbentuk dengan moral, jimat-jimat, hukum, dan tetek-bengeknya, anakmu pasti sudah melarikan diri dari rumah. Hanya saja butuh waktu lama meyakinkannya untuk melakukan suatu tindakan. Ia menyusun indikator dalam setiap bervisioner: harus objektif, berpihak pada rakyat, tidak merendahkan martabatnya sebagai perempuan, bermanfaat, dan tidak boleh untung sepihak. Harus imbang dan adil. Kalau semuanya sudah tersedia, kamu akan segera mendapat kesepakatannya.

Setiap pagi menjelang, kami sering sarapan di tempat yang sepi dan murahan. Ini kami sengaja guna menambah modal para pengusaha kecil untuk menghancurkan pasar pengusaha besar. Dengan begitu, terpantiklah peperangan ekonomi hingga menjatuhkan semua harga barang. Bagi kami peristiwa ini wujud dari hakikat kebahagiaan. Bahagia untuk kami, bahagia untuk mereka semua. Aku jadi ingat ketika ia menyelipkan cerita tentang perjuangan suamimu sewaktu merebut hati mertua. Kalian harus bersusah payah mengarang cerita di hadapan ibumu supaya ia tak perlu mengamuk jika mengetahui anaknya melahap makanan dengan kadar gizi rendah. Dalam arti lain mungkin juga dengan harga rendah. Kurasa perilaku itu tak perlu kucontoh di hadapanmu, Tjoe, aku sudah mengantisipasi betul kekecewaanmu jika banyak yang kusembunyikan darimu. Meski jujur pun kuyakin telah membuatmu kecewa berkedalaman.

Berasal dari agama yang sama, bahkan ras antaramu dan suamimu tidak berbeda. Perjuangannya kukira akan lebih mudah jika dibandingkan dengan aku pada anakmu.

”Tapi sesungguhnya tidak ada perjuangan yang bisa dianggap remeh,” katanya. Mewujudkan ekspektasi mertua menjadi lelaki yang berkecukupan tentu lebih berat daripada sekedar memberanikan diri hanya dengan mengirim surat. Uang bisa menjinakkan segala macam prinsip. Bukan begitu, Tjoe?

Anggap saja semua yang kutulis sekarang adalah laporan kebersamaanku dengan anakmu. Terlebih aku juga menghormatimu sebagai orangtuanya. Ia menitip salam supaya kamu jangan terlalu sibuk bekerja, luangkan waktumu untuk berlibur, perbanyak juga minum air sebelum di tempatmu air berubah menjadi debu. Dan belajarlah sedikit suka membaca seandainya suratku datang lagi dengan halaman yang lebih banyak. Namun, berhati-hati pula dalam memilih bahan bacaan. Terutama di media. Mereka memang pabrik informasi terbesar, tapi yang kau baca darinya belum tentu baik. Kusarankan berlanggananlah koran mingguan yang memiliki kolom sastra, dan kau sobek saja berita di halaman bagian depan itu. Semuanya. Sebab yang penting dari koran hanya obituari dan kolom sastra. Dan atau jika kamu memang seorang yang gemar memperhatikan pasar bebas, lembar tentang situasi ekonomi bisa kamu temui. Agar kamu tahu betapa memilukannya keadaan di sekitarmu sekarang. Juga jangan ragu memasang iklan di sana, banyak orang yang mesti kamu selamatkan. Salam pada suamimu, aku harap bisa bertemu langsung dengannya untuk sekedar bertukar rahasia, memberi tahu tentang koleksi barangmu. Supaya saat berkunjung nanti aku tidak bawa tangan kosong.

Oh, ya (Hampir lupa). Kesimpulan dari surat ini, bahwa, hal paling ekstrem dalam perjuangan sepasang kekasih yakni ketika mereka menjalin ikatan yang tidak melibatkan syarat kemapanan. Mungkin para anggota keluarga akan mempertimbangkan keberlangsungan hubungan mereka--Maksudku kami. Mereka akan menjadi dua kutub yang terpisah di antara bentangan: bentangan yang berisi cibiran masyarakat paling beradat, atau sejenisnya. Mereka yang saling mencintai adalah mereka yang gila. Tetapi merekalah yang paling sadar bahwa cinta menjadi cara lain Tuhan menyatukan hambanya. Tidak ada manusia yang memiliki otonom atas manusia lain dalam kebebasan mencintai, Tjoe. Ketika semakin banyak orang membangun kebenaran sendiri dan membentuk serikat-serikat gelap, kebebasan akan semakin purba. Dan para pembisik berdatangan pada kuping-kuping kami, ”Dosa itu lebih berakibat daripada patah hati!” Mungkin para pembisik itu lupa, kalau orang jatuh cinta kupingnya sedang gangguan.

”Apa tidak masalah kalau isi suratnya terlalu kasar?”
”Tenang. Aku tidak mencantumkan namaku.”

cerpenmi@mediaindonesia.com

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More