Perempuan di Pesantren Harus Berdaya

Penulis: Mohammad Ghazi Pada: Kamis, 25 Jan 2018, 07:40 WIB Inspirasi
Perempuan di Pesantren Harus Berdaya

DOK PRIBADI

"SAYA melakukan apa yang saya yakini itu benar," kalimat itu dilontarkan Achoe Sunhiyah Muqsid kepada Media Indonesia ketika ia memaparkan kiprahnya yang dikenal cerdas tetapi pemberontak terhadap tradisi, oleh sekitarnya.

Dibesarkan di lingkungan pesantren, bukan menjadi halangan bagi Ning Achu untuk melontarkan gagasan-gagasan soal perlawanan terhadap tradisi serta gerakan pemberdayaan perempuan.

Ia memanfaatkan betul statusnya sebagai calon doktor di salah satu perguruan tinggi negeri di Yogyakarta sekaligus keluarga besar pengasuh Ponpes Annuqayah Guluk-Guluk, salah satu pesantren terbesar di Kabupaten Sumenep, madura, Jawa Timur.

Ning Achu ialah salah satu cucu KH Abdullah Sajjad, sang pendiri pesantren, ibunya, Zainab Khobirah ialah salah satu anak ulama berpengaruh tersebut.

Ning Achu dijumpai di rumahnya, Rabu (17/1).

Saat pertama kali masuk ke ruang tamu rumahnya yang sederhana di Wisma Latee Ponpes Annuqayah, Guluk-Guluk, kesan pertama dari sosok dosen di Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) itu, ia gemar membaca.

Di ruangan itu, ratusan buku dan kitab tertata rapi di lemari.

Ada tiga lemari yang semuanya berisi buku dan kitab Islam di ruang tamu berukuran 3 meter persegi itu.

Sebuah komputer yang biasa dia gunakan untuk mengakess informasi dan menulis makalah, berada di pojok ruangan.

Ruangan itu tidak seperti layaknya ruang tamu, lebih mirip perpustakaan atau ruang baca.

Ditambah, suara santri yang sedang belajar menegaskan, lingkungan itu sarat aktivitas belajar. Sesekali suara sedikit dikeraskan saat berbincang.

"Agak ramai, karena sekarang jam masuk sekolah," ujarnya. Saat itu memang jam menunjukkan pukul 10.45 WIB.

Karena banyaknya santri, ruang kelas tak lagi kuasa menampung.

Sebagian siswi Madrasah Aliah (setingkat SMA) pun, terpaksa belajar di musala, persis di depan rumah perempuan yang sejak masih kuliah sudah ditugasi mengasuh santri itu.

Awalnya, OSIS bagi siswa perempuan

Jejak pergerakan Ning Achu dimulai ketika perempuan yang berpisah dengan suaminya pada 2010 itu merintis Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) di sekolahnya, MA.

"Seperti juga pesantren lain di Madura, sekolah santri putra dan putri dipisah. OSIS hanya ada di sekolah putra. Saya di sekolah putri dan bersama teman-teman dengan idealisme yang sama, menggagas pembentukan OSIS kami. Saat itu kami harus menyampaikan alasan-alasan yang rasional dan bisa diterima pengurus dan pengasuh pesantren agar rencana kami direstui," kata Ning Achu.

Pada periode kepengurusan OSIS kedua, jelas Achoe, beberapa kegiatan berbau perlawanan terhadap tradisi mulai dilaksanakan.

Di antaranya, pelatihan pemahaman gender, halaqah, atau seminar keperempuanan dan aneka kegiatan lainnya.

Organisasi yang digagasnya itu pun mulai membuka jalan bekerja sama dengan organisasi yang bergerak dalam isu perempuan, salah satunya, Yayasan Rahima Surabaya.

"Saat itu kami mulai membuka wawasan tentang pandangan Islam terhadap perempuan, yang ternyata tidak seperti anggapan kebanyakan orang di kala itu. Sempat dianggap merusak tatanan, tapi kami terus jalan hingga akhirnya kegiatan semacam itu sampai saat ini masih bisa dilaksanakan," jelas Achoe.

Koalisi perempuan

Ketertarikannya terhadap pergerakan perempuan makin kuat sejak ia kuliah di UIN Yogyakarta, saat itu masih bernama Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga.

Pascareformasi, 1998, ia mulai bergabung dengan Koalisi Perempuan Indonesia (KPI), berawal dari perkenalannya dengan Nursyahbani Katjasungkana.

Di KPI, aktivitasnya makin padat, berkeliling ke berbagai daerah, sebagai fasilitator. Di antaranya, pendampingan perempuan nelayan di Muara Angke, Jakarta, dan beberapa daerah lain di luar Jawa.

Kini, Ning Achu menjabat sebagai salah satu presidium di Koalisi Perempuan Indonesia Jawa Timur.

Ia terlibat dalam pembentukan cabang-cabang di Jawa Timur, mulai Madura, di antaranya Sumenep, sedangkan kabupaten lainnya dalam proses penjajakan.

Meneliti lesbian

Selain itu, ia juga tercatat sebagai anggota organisasi Dipayoni Surabaya yang mewadahi kaum lesbian.

Ia melayani konseling dan penelitian.

"Tesis saya soal konseling kaum lesbian," jelas dia.

Meski sibuk di berbagai kegiatan pergerakan, Ning Achu tidak serta-merta meninggalkan dunia akademik dan kewajibannya sebagai salah satu pemangku pesantren.

"Saya harus menjaga tanggungjawab dan kepercayaan keluarga",kata perempuan yang tengah memperjuangkan regulasi bimbingan konseling anak usia dini itu.

Ning Achu mengakui, di Madura, perempuan pergi jauh seorang diri masih dianggap tabu.

Namun, kini masyarakat sekelilingnya telah maklum jika sesekali ia harus ke Jakarta seorang diri.

Ketua Yayasan Anak Alam, Lumajang, Jawa Timur, Aak Abdullah Alkudus, yang kerap berinteraksi dengan Ning Achu menyatakan, menemukan sosok pejuang hak perempuan yang gigih dan berpegang kuat pada kebenaran.

"Keyakinan yang dia pegang teguh itu bukan membabi buta, melainkan atas berbagai pertimbangan dan kajian. Ia juga tidak melepaskan diri dari berdiskusi dan berkonsultasi dengan orang-orang yang dipercaya," kata Aak. (M-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More