Mutiara Hijau dari Toraja

Penulis: Administrator Pada: Selasa, 23 Jan 2018, 11:20 WIB Nusantara
Mutiara Hijau dari Toraja

MI/Lina Herlina

KOPI toraja di Sulawesi Selatan sangat terkenal karena cita rasa dan cara pengolahannya yang alami sehingga diminati hingga mancanegara. Sayangnya, ternyata produksi kopi di Sulsel, secara umum masih sangat rendah, masih di bawah 1 ton, atau masih di kisaran 600 kilogram per hektarenya.

Kekhasan atau karakteristik kopi toraja telah diteliti pada 2003 dan 2007 oleh para ahli di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia yang ada di Jember. Cita rasanya pun telah diteliti pada tahun yang sama.

Toraja Utara adalah daerah yang unik dan kaya budaya serta adat. Keunikan tersebut menjadi potensi ekonomi daerah, terutama di sektor pariwisata.

Budaya dan adat menarik kunjungan wisatawan mancanegara dan domestik.

Jumlah wisatawan mancanegara di Toraja Utara jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan wisatawan nusantara, perbandingannya 60:40. Pada 2015, Toraja Utara didatangi 87.462 orang wisatawan dan pada 2016 sekitar 90 ribu wisatawan dan 60% di antaranya turis asing.

Begitu lekat masyarakat Toraja Utara dengan adat dan budaya hingga pengaruhnya cukup besar pada efektivitas produksi serta kualitas kopi.

Bagi masyarakat Toraja, kopi ialah alat komunikasi sosial yang berkembang dan terus bertahan hingga sekarang. Setiap berkunjung ke rumah keluarga di Toraja, kopi menjadi penyambung atau alat komunikasi sosial pertama yang disuguhkan.

Produksi masih rendah

Kepala Dinas Perkebunan Sulsel Firdaus Hasan mengatakan memang produksi kopi masih rendah, tapi kualitas kopi Sulsel sangat bagus. Hal itu terbukti dengan tembusnya ekspor komoditas ini ke berbagai negara seperti Jepang, Tiongkok, Malaysia, Singapura, dan Australia.

Luas lahan pertanian kopi di Sulsel itu mencapai 58 ribu hektare. Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu'mang meminta agar daerah penghasil kopi di Sulsel memaksimalkan potensi agroklimatologinya.

Menurutnya, kopi di Sulsel, seperti kopi toraja, punya aroma yang tidak kalah dengan kopi daerah lain, bahkan di dunia. Kopi toraja mampu bersaing dengan Brasil dan Vietnam sebagai negara penghasil kopi terbesar di dunia.

"Sehingga kita harus serius mengolahnya. Di luar negeri kopi itu bisa mencapai Rp350 ribu per kilogramnya, di sini hanya Rp50 ribu. Pemerintah daerah, kabupaten yang punya lahan, harus melihat peluang itu," urai Agus Arifin Nu'mang.

Ketenaran kopi toraja tidak perlu lagi diragukan. Pada 2012, kopi toraja memenangkan lelang internasional speciality coffee, dengan harga fantastik, US$45 per kg.

Sayangnya, para petani di Tanah Toraja dan Toraja Utara ternyata tidak ikut menikmati mahalnya harga kopi. Sorreng, petani kopi di Rantepao, Toraja Utara, Sulsel mengaku sempat ingin meninggalkan kerjaan sebagai petani kopi.

Alasannya harga kopi murah. "Biasa ada orang datang beli kopi banyak, tapi mereka belinya hanya Rp15 ribu per kilogram. Kalau di koperasi, kami bisa menjual Rp18 ribu hingga Rp20 ribu per kilogram. Itu sangat murah. Padahal, katanya di kota itu harganya bisa sampai ratusan ribu," keluh Sorreng. (LN/M-2)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More