Aroma Kenikmatan dari Kedai Kopi

Penulis: Lina Herlina Pada: Selasa, 23 Jan 2018, 11:10 WIB Nusantara
Aroma Kenikmatan dari Kedai Kopi

MI/Lina Herlina

BARU turun dari kendaraan, aroma khas kopi segar yang baru saja di-roasting dan digiling membuat hidung mengembang.

Kedai kopi yang diberi nama Doble Shot itu masih terlihat sepi, hanya ada empat orang di dalamnya.

Pria muda muncul dan membawa dua gelas kopi dingin ke meja depan yang diisi seorang ibu dan anak. Lalu berbalik dan bertanya di meja sebelahnya.

"Pesan apa?" Dijawab tiga orang yang baru datang tersebut, "Kopi vietnam, kopi biasa, dan satu cappucino," kata mereka menimpali.

Setelah mendengar pesanan itu, Nurul, barista di tempat itu, langsung telaten mengambil bubuk kopi yang baru saja digilingnya, memasukkannya ke tatakan dan menuangkannya ke gelas lalu membuat kopi pesanan dan mengantarnya ke meja pemesan.

"Baru kali ini saya minum kopi seenak ini. Di tempat lain juga sering minum kopi, tapi cita rasanya beda dengan di sini. Rasanya pas di lidah," aku Fadli, pengunjung yang baru kali pertama ke tempat itu karena direkomendasi temannya.

Pengunjung pun bolak-balik datang.

Kedai ini bukan tempat nongkrong seperti kafe atau warung kopi kebanyakan yang menyiapkan stopkontak listrik dan wi-fi bagi pelanggan agar betah.

Tempat itu murni kedai kopi biasa.

Namun, yang menarik kedai itu hanya menyajikan kopi lokal toraja.

Kedai kopi tersebut milik Koh Heri. Pemilik kedai itu pun tiba-tiba muncul, masuk, dan membuat kopi sendiri sembari ngobrol dengan barista-nya.

Ia pun mengaku, kedai itu dibukanya baru empat tahun terakhir.

Itu bermula dari usahanya jual kopi lokal toraja, yang diambilnya dari sejumlah perkebunan kopi di Toraja.

Ketimbang hanya menunggu orang beli biji kopi, ia pun membuka kedai tersebut.

"Kopi itu kita ambil dari petani di beberapa lokasi di Toraja, seperti Alla, Pango-Pango, Sapan, dan Awan. Di sini hanya jual kopi lokal toraja," serunya sambil menunjuk ke stoples-stoples berjejer berisi kopi kering siap roasting.

Jadi, sebelum membuka kedai kopi, Koh Heri hanya menjual kopi bagi para pemilik kafe yang ada di Makassar.

Menurutnya, hampir semua kafe mengambil kopi dari kedai yang ada di Jalan Bali, Makassar, itu.

Oleh-oleh kopi

Biji kopi yang dijual pun harganya variatif, Rp100 ribu hingga Rp200 ribu per kilogramnya. Itu sudah dengan proses roasting-nya.

Sedikit berbeda dengan Doble Shot, di Jalan Somba Opu, yang merupakan daerah pasar oleh-oleh di Kota Makassar, terdapat sebuah toko.

Namanya Toko Ujung.

Di sana dijual berbagai jenis kopi dalam kemasan dalam bentuk biji siap giling.

Tempat itu juga bisa buat minum kopi.

Yang punya toko menyiapkan tiga meja buat pembeli yang menunggu dan bisa sambil memesan kopi untuk diminum di tempat.

"Yang membeli di sini rata-rata buat oleh-oleh," aku Mimi, barista di sana.

Seorang bapak dengan dialek Jawa pun masuk toko dan langsung melihat ke jejeran kopi dalam kemasan warna hitam dan gold.

Ia membaca nama-nama kopi yang tertera. Ada kopi toraja robusta, toraja siuluk, dan toraja ambeso. Ia membalik kemasan kopi dan melihat harga kopi Rp85 ribu per 250 gramnya. Ia pun mengambil dua bungkus.

"Ini masih dalam bentuk biji ya? Bisa digiling di sini? Saya tidak tahu, teman yang pesan kopi ini punya alat giling atau tidak," kata bapak itu.

"Bisa, Pak. Mari, silakan tunggu, saya gilingkan dulu," sahut pelayan toko lalu berlalu menggiling kopi yang bapak itu pesan dan memasukkannya ke kemasan yang sama lalu ditutup ulang.

Bapak itu memilih antre dan pesan kopi sambil menunggu kopinya digiling yang memakan waktu tidak sampai 5 menit untuk dua bungkus kopi yang dipesannya.

Kopi dalam toko itu pun ternyata juga diambil langsung dari petani kopi di Toraja.

Jadi baik Doble Shot maupun Toko Ujung mengaku mengambil langsung kopi dari petani, bukan dari pengumpul. (LN/M-2)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More