Menggeliatkan kembali Desa Gerabah Rendeng

Penulis: Administrator Pada: Selasa, 23 Jan 2018, 01:16 WIB Features
Menggeliatkan kembali Desa Gerabah Rendeng

FOTO ANTARA/Aguk Sudarmojo

PULUHAN siswa Taman Kanak-Kanak Al Falahiyah, Bojonegoro, Jawa Timur, berbaris dan duduk berhadapan. Kuas di tangan kanan, celengan di tangan kiri. Perlahan kuas itu dicelupkan ke dalam kotak plastik yang berisi cat. Kuas kemudian diusapkan perlahan ke celengan yang terbuat dari gerabah. Diawali dengan warna putih. Warna putih dahulu, kemudian kuning, dan biru. Tak lama kemudian dilengkapi dengan warna hitam dan merah. Para siswa sudah menyelesaikan seluruh pengecatan. Mereka menunggu cat mengering sehingga celengan gerabah ini bisa dibungkus plastik.

Kegiatan anak-anak dari TK Al-Falahiyah ini juga diikuti 78 siswa lainnya yang sengaja mendatangi Wahana Edukasi Gerabah (WEG) di Desa Rendeng, Kecamatan Malo, Bojonegoro, Jawa Timur. “Senang sekali bisa melukis celengan,” kata Madha, 3,5, siswa TK Al-Falahiyah saat ditemui Media Indonesia, Rabu (17/1). Tidak hanya siswa PAUD yang datang ke WEG, tetapi juga siswa SD, SMP, SMA, bahkan para guru juga senang berwisata di sentra perajin gerabah Desa Rendeng itu. “Dari semua kalangan datang ke sini. Tidak hanya anak TK, SD, SMP, bahkan banyak guru yang kemari,” terang Talkah, 50, perajin gerabah di Desa Rendeng Malo.

Beberapa tahun lalu, jarang orang mau berkunjung ke Desa Rendeng untuk sekadar melihat pembuatan gerabah. Apalagi, berwisata di daerah itu. Padahal, sejak dulu Desa Rendeng dikenal sebagai daerah produksi gerabah. Para perajin membuat gerabah secara turun-temurun. “Dari si mbah dan orangtua sudah membuat gerabah,” tambahnya.Kerajinan gerabah yang dihasilkan warga Desa Rendeng, antara lain cobek, kendil, kemaron (tempayan air besar), blanggah, kuali, wajan, kendi, celengan, serta sejumlah perabotan rumah tangga.

Usaha para perajin Desa Rendeng ini sudah dijual ke Jawa Tengah dan Jawa Timur. Belasan tahun lalu, jumlah perajin gerabah di Rendeng sekitar 100 orang, kini hanya tinggal separuhnya. Sebagian perajin beralih membuat batu bata pada musim kemarau dan bertani. Mereka menganggap membuat gerabah ialah pekerjaan sampingan. Alasannya, penghasilan yang diperoleh tidak menentu. “Terkadang dalam seminggu hanya dapat uang Rp150 ribu-Rp200 ribu, Praktis ini pekerjaan untuk mengusir sepi dan mengisi waktu luang,” imbuhnya.

Di tengah kelesuan produksi gerabah, sejumlah pemuda ingin gerabah Desa Rendeng kembali terangkat. Sekitar 2015, mereka berhimpun dalam Badan Usaha Milik Desa Karya Mulya. Bumdes ini mengembangkan sayapnya dengan mendirikan WEG, sebagai salah satu unit usahanya. Direktur WEG, Robert, menjelaskan usaha gerabah kembali terangkat sejak ada WEG. “Setiap bulannya terjual 2.000 celengan,” terang Robert. Pada 2015 jumlah pengunjung di Rendeng tercatat sekitar 6.000. Pada tahun berikutnya kunjungan wisatawan meningkat jadi 12 ribu orang, dan tahun lalu sebanyak 13.099 wisatawan. (M Ahmad Yakub/N-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More