Aneka Bisnis, Banyak Kontribusi

Penulis: Suryani Wandari Putri Pertiwi Pada: Minggu, 21 Jan 2018, 07:16 WIB MI Muda
Aneka Bisnis, Banyak Kontribusi

MI/Duta

TAS punggung model selempang itu diburu anak-anak SMA ketika Kevin, mahasiswa semester 3 Universitas Prasetya Mulya, menjelaskan keunikan produk bermerek Vantra itu. Tas itu tidak hanya memakai bahan kanvas, tetapi juga terdapat kulit kayu yang diolah dan diproses hingga menjadi material lunak tapi kuat.

"Kayunya asli Indonesia, kayu kapuak dari Kalimantan. Masyarakat Dayak terbiasa memakainya untuk busana. Warna serabut kulit kayu ini dapat berubah warna sesuai pemakaian," kata Kevin dalam Entrepreneur Day, yang digelar kampusnya di mal kawasan Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (13/1).

Vantra bukan satu-satunya bisnis anak-anak muda yang inovatif dan kreatif yang berpameran. Ada banyak hasil kreasi mahasiswa bisnis kampus itu yang saling berebut perhatian, pun berlomba meraih omzet.

Dengan digelar di mal, para mahasiswa ditantang berpameran untuk mematangkan ide, sekaligus melakukan ujian akhir mata kuliah. Mahasiswa semester 1 menamatkan mata kuliah introduction to science/technology based business dan business creation bagi mahasiswa semester 3. Di tahapan yang lebih dalam ini, aplikasi teori diterapkan dalam bisnis yang nyata.

Stargation

"Tahun ini, kami mengangkat tema Stargation, singkatan dari Start gaze for innovation. Maknanya kami harus memulai menatap dan berorientasi pada inovasi terdepan yang dapat memberikan dampak positif kepada semua pihak, baik orang maupun lingkungan," kata Kenji Widyarta, Chairman Entrepreneur Day 2018.

Bukan cuma soal menuntaskan mata kuliah, Kenji menegaskan, banyak usaha yang dijalani para alumnus kampus dirintis dari kegiatan ini.

Tahap merintis, eliminasi dan mengembangkan

Kenji menjelaskan perjalanan memulai bisnis dilakukan bertahap. Dimulai dari semester 1, mahasiswa menggali ide terkait bisnis The Outdoor Activity Project, yang menjadi tema kali ini. Ada muatan soal kesadaran pada kelestarian dan lingkungan pada bisnis yang diusung.

"Kini teknologi kian canggih sehingga banyak orang terpaku dengan gadget dan hanya memiliki sedikit waktu melakukan aktivitas di luar ruangan. Project bisnis pun kemudian berkisar soal sepeda, joging, dan mendaki gunung," kata Kenji.

Edward dan Chistopher, di antaranya, membuat produk Kotidai alias kompor antibadai. Sesuai dengan namanya, kompor mampu menahan angin yang kerap mengganggu nyala api saat memasak di gunung atau berkemah. Inovasi mereka ialah membuatkan per pegas dengan lilitan kain tahan api di sekeliling kompor untuk menahan angin.

Ada pula inovasi yang dibuat Wisanggeni Eirene Mai dan Sherry Veronica, Helm 360. Helm ini dilengkapi kamera, kacamata, dan earphone. Selain merekam kejadian, helm berfungsi memperlihatkan apa yang terjadi di belakang kita dengan memunculkannya di kacamata dengan bantuan teknologi canggih.

"Ini ide kami, kami masih membutuhkan banyak biaya untuk merealisasikannya. Yang jelas helm ini akan membantu para pesepeda," kata Wisanggeni.

Ya, di semester ini, mereka memang harus berburu vendor atau pemasok bahan, jasa, produk untuk mewujudkan ide mereka, pun meningkatkan kinerja perusahaan.

Selanjutnya, di semester 3, usaha-usaha yang eksis ialah para juara, yang sukses menyisihkan bisnis milik teman-teman sekelas. Para pelaku bisnis yang tak lolos ide bergabung menjadi anggota pada bisnis yang dinilai lebih feasible atau memiliki kemungkinan lebih besar buat direalisasikan.

Para mahasiswa berbagi tugas, menempati aneka posisi dalam perusahaan, baik sebagai pemilik modal, direktur operasional, keuangan, pemasaran, hingga staf.

Presentasi pada juri

Nah, buat mereka yang sudah berada di tahapan ini, kesibukan tim bukan cuma berlangsung di arena pameran. Ada pula sesi penilaian dengan presentasi di hadapan para juri, sesuai dengan kategori bisnis mereka, yaitu fesyen, makanan dan minuman, kriya, kimia, kecantikan, serta teknologi.

"Dalam realnya kalian akan menjualnya ke mana saja? Dalam berapa lama kalian dapat untung? Berapa aset yang kalian miliki?" tanya Isti Budhi Setiawati, dosen Universitas Prasetya Mulya dalam penjurian kategori makanan, seusai para pebisnis itu presentasi.

Ya, karena di tingkatan ini, mereka bukan lagi menggali ide, mencari bahan, vendor, serta berbagai aktivitas mengkreasikan bisnis, melainkan sudah harus memikirkan strategi pengembangan. Salah satu yang paling penting, kiat menjual, misalnya fokus di bazar atau media sosial, hingga meng-endorse selebgram.

"Kita akan mengalkulasikan sebanyak 5 juta dalam beberapa kali unggahan erdorse, itu telah dimasukkan ke perencanaan anggaran," kata tim Seaweehee, produk makanan ringan yang mengolah rumput laut dan tepung beras, bercita rasa Indonesia.

Mereka pun yakin bisnis mereka akan lancar karena menurut survei dari KDB Daewoo Indonesia, pasar makanan ringan terus bertumbuh dalam beberapa tahun terakhir. "Kami ada peluang untuk mencari celah dalam pasar yang berjumlah 30 jutaan orang, berdasarkan riset lembaga itu."

Optimisme serupa juga diungkapkan tim What a Fries, produk kentang goreng dengan aneka topping, termasuk gerusan avokado yang kini tengah hit ditambahkan dalam aneka jajanan kekinian. "Karena pasar bergeser ke experience based consumption," ujar tim What a Fries pada para juri.

Lalu, apa bisnis kamu?

========================================

Opini Muda

Angeline Vedi Yanthi, semester 3, bisnis: Lumi

Kami menjual Lumi, yakni masker wajah, dimodifikasikan dengan masker kompres, nantinya harus disiram dengan esensial berbahan dasar mentimun, lidah buaya, dan green tea dalam botol. Masker ini cocok untuk dijadikan gift dalam pernikahan atau acara lainnya.

==================

Edward dan Christopher, semester 1, bisnis: Kotidai

Produk kami masih dalam bentuk prototipe, tapi nantinya akan menjadi kompor yang mudah dibawa ke mana saja, dengan harga cukup terjangkau. Selain ringan, alat kami bisa menghalau angin sehingga api stabil.

=============

Deborah dan Sheey, semester 1, bisnis: So Ball

Sekarang anak-anak lebih banyak main di gadget dan tak beraktivitas di luar ruangan sehingga kami berinisiatif membuat So Ball, yakni bola dengan sensor. Cara kerjanya, berbeda dengan bola biasanya. Bola ini akan menghindar ketika didekati.

======================

Aldi dan Rauf, kelas 11, SMA Al-Azhar BSD, pengunjung Entrepreneur Day

Kegiatannya seru, bisnisnya bagus-bagus. Aku juga enggak nyangka mereka bisa membuat alat penutup noda di wajah untuk laki-laki seperti kami. Ini menginspirasi kami membuat bisnis juga nantinya.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More