Sehari Menyesap Kreativitas Fremantle

Penulis: Iis Zatnika Pada: Minggu, 21 Jan 2018, 00:16 WIB Weekend
Sehari Menyesap Kreativitas Fremantle

MI/IIS ZATNIKA

SAYA diajak menjelajah Perth, Margaret River serta Adelaide, memasuki satu demi satu galeri seni, instalasi seni kota, co working space, orkestra, hingga kampus seni. Kami, para jurnalis dari tujuh negara Asia, didampingi tim dari Department of Foreign Affairs and Trade juga berjumpa dengan para musikus, seniman lukis dan instalasi, mahasiswa dan dosen jurusan seni, pengelola galeri, pejabat di departemen wisata dan industri kreatif hingga pengusaha industri kreatif, para pebisnis fesyen, fotografi, dan pemandu wisata. Namun, yang teristimewa bagi saya pertemuan dengan Wali Kota Fremantle Bradd Pettitt, pun aktivitas seharian di sana. Petitt yang bersepeda lengkap dengan helmnya, dengan santai parkir di Fremantle Art Center, berkisah tentang kotanya sambil makan siang. Sosoknya, pun wajah kota pelabuhan ini menegaskan, industri kreatif ini seru sekaligus menguntungkan!

The Rainbow

Perth yang saat kami berkunjung tengah bermandikan matahari, pagi itu cerah. Kami yang menginap di Perth butuh waktu sekitar 45 menit menggunakan mobil menuju Fremantle. Kota ini banyak dihuni mereka yang beraktivitas di Perth dengan karakternya yang istimewa, pelabuhan yang sibuk, dengan kapal-kapal besar yang sebagian besar melaksanakan kegiatan impor, dengan nuansa seni, sejah, dan kehidupan yang berjalan lambat di wajah lainnya.

Australia sangat membanggakan kota yang juga bisa ditempuh dengan kereta api dari Perth ini, buat memikat para pelancong pun seniman dari berbagai negara untuk berkolaborasi dan tentunya memutar roda industri kreatif.

Perhentian kami pertama ialah The Rainbow, artwork, atau instalasi seni publik yang terletak di Canning Highway, tak jauh dari pelabuhan. Buat mengunjunginya, kendaraan bisa diparkir di area penitipan kendaraan yang lapang di seberang jalan, dilengkapi toilet umum yang resik.

Berjalan 5 menit saja menanjak ke atas bukit, kita akan sampai di instalasi yang ditempatkan di sebuah lapangan rumput lega, tepat di pinggir jalan besar. Ada sembilan kontainer, ya ini kontainer asli, yang lazim dipakai mengangkut barang dan dibawa berlayar dengan kapal-kapal kargo ke seluruh dunia.

Marcus Canning, sang artis yang juga CEO Fringe World Festival, yang menemani kami menikmati karyanya berkisah, kontainer yang dicat warna warni, merah muda, biru, kuning, hingga ungu itu dibuatnya dari kontainer baru, tetapi spesifikasi berat dan dimensinya yang lazim.

"Tentu ada teknik khusus untuk merangkainya, untuk memastikan kontruksi ini tahan lama, karena ini menjadi salah satu ikon kota yang permanen, serta tentu keamanannya," ujar Canning yang di balik sosoknya yang rendah hati, menjadi pememang Western Australia Award of The Year 2017 pada kagori budaya dan seni. Fringe Festival yang digagasnya 25 tahun lalu menjadi kebanggaan Perth dan mendatangkan banyak pelancong setiap tahunnya.

Saya menemukan colokan-colokan listrik di setiap sudut instalasi yang bersahaja tetapi memukau karena konstruksinya ini. "Ya, karena kami ingin ini menjadi bagian dari kehidupan warga. Mereka bisa pesta barbeku di sini, mengisi baterai ponselnya dan bersenang-senang bersama keluarganya. Anak-anak bisa berlarian dan bermain menyembunyikan batu-batu kecil di sekitar sini." kata Canning.

Kendati warna-warni laksana pelangi, yang juga menjadi penanda gerakan kesetaraan bagi para LGBT, nyatanya tak berkorelasi dengan pesan yang diusung instalasi ini. Padahal, tepat pada pertengahan November itu, Australia mengesahkan perkawinan sejenis. "Ya mungkin, nanti akan ada pasangan yang prewedding di foto ini atau menikah di sini, saya menantikannya!" ujar Canning sambil tersenyum mengamati kami berswafoto untuk merayakan karyanya.

Pakenham Street nan artistik

Pakenham Street yang populer disebut PS Street ialah pintu gerbang menuju surga seni, sejarah dan monumen, tiga dunia yang dibanggakan Fremantle. Jalanan nan cantik degan trotoar yang lebar ini, berjarak kurang dari 10 menit dari The Rainbow.

Di sini, bahkan bangunan berlantai tiga hingga empat, yang konstruksinya mirip ruko, saja sudah sangat artistik. Bangunan dari masa lalu, itu terdiri atas restoran, kedai kopi, studio yoga, toko buku, hingga galeri lukisan. Turis-turis kaukasia, pun asal Asia, juga Indonesia hilir mudik di sini, tetapi volumenya masih bisa ditoleransi, ramai tetapi tak riuh.

Kami berjumpa Tom Muller, Artistic Director PS Art Space di gedung PS Art Spaces yang saat itu tengah menggelar pameran High Tide, Fremantle Biennale, yang memadukan artis berkategori emerging atau tengah merintis karier hingga yang telah punya reputasi, lokal, hingga global.

Saat kami bertandang, pameran Seaborn tengah digelar, ada aneka karya yang terinspirasi kehidupan laut, kapal, dan makhluk laut. Ada pula jejak aneka kulit kayu yang diangkut dari India, Malaysia, hingga Jepang yang dicapa pada kertas-kertas panjang.

Buka saja situs hightidefremantle.com, agenda pameran terpampang detail di sana. "Di sini, kami membuka pintu untuk berkolaborasi, seniman dari seluruh dunia datang ke Fremantle dan menyajikan karyanya di sini," ujar Muller sambil mengisahkan kebanggaannya pada galeri yang berdiri pada bangunan kuno yang anggun.

Jalanan nan indah ini akan berujung di The Fremantle Gaol, kawasan yang pada era kolonial digunakan sebagai penjara serta Round House yang dibangun pada 1831 dan menjadi bangunan tertua di Western Australia. Dari monumen itu pemandangan laut dan kota terhampar.

"Lihat, dari atas sini, kita bisa melihat spiral kuning yang kami tempelkan di gedung-gedung sepanjang jalan PS Street, terhubung. Kami menggunakan sejenis stiker yang dipasang sepanjang berlangsungnya High Tide," kata Pete Stone, Manager Arts and Culture, pemerintahan Kota Fremantle.

Saya pun menikmati semilir angin sembari mengamati spiral kuning itu menemukan alurnya. Ah, kota, seni dan kreatifitas kompak di sini. (M-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More