Microbeads, Membersihkan Wajah tetapi Mencemari Laut

Penulis: MI Pada: Sabtu, 20 Jan 2018, 14:13 WIB Jejak Hijau
Microbeads, Membersihkan Wajah tetapi Mencemari Laut

TERCEMAR: Tumpukan sampah plastik memenuhi bibir pantai di kawasan Muara Angke, Jakarta Utara---MI/Ramdani

MENCUCI wajah menjadi salah satu kebiasaan yang tak mungkin ditinggalkan, baik perempuan maupun laki-laki sudah pasti memiliki sabun pembersih wajah yang terkadang memiliki kandungan bulir-bulir kasar atau dikenal dengan nama microbeads. Meskipun kecil, itu memiliki khasiat luar biasa, meluruhkan sel kulit mati. Penggunaan microbeads yang terbuat dari partikel plastik berukuran kecil kini mulai diperhatikan. Bahkan, beberapa negara seperti Amerika Serikat dan Inggris mulai melakukan pelarang­an terhadap penggunaannya.

Ribuan ton partikel plastik ber­ukuran kecil dari produk seperti scrub wajah dan pasta gigi mengalir hingga ke laut dan mencemari kehidupan di dalamnya, seperti ikan maupun kerang yang kemudian dikonsumsi manusia. Pemerintah Inggris pertama kali menyerukan larangan plastik microbeads pada September 2016 untuk industri kemudian akan diikuti pada aspek penjualan pada Juli mendatang. Sementara itu, Amerika Serikat telah memulai lebih dahulu pada 2015.

Di Indonesia, penelitian mengenai sampah di lautan juga sudah dilakukan, salah satunya oleh Balai Riset dan Observasi Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dengan Agung Yunanto sebagai peneliti utama. Pencemaran sampah plastik baik mikro maupun makro telah meluas di perairan Indonesia, penelitian kemudian dilakukan pada Selat Bali, Selat Makassar, Selat Rupat di Dumai, Taman Nasional Bunaken, hingga perairan laur dalam yang terisolasi, seperti Laut Banda. Pencemaran plastik mikro di Bunaken mencapai angka 50 ribu-60 ribu partikel per kilometer persegi (km2), dan Laut Banda 5.000-6.000 partikel per km2. ­Pengukuran itu dilakukan di Laut Banda melalui ekspedisi Kapal Barujaya 8 pada 2016.

Menteri Lingkungan Inggris Therese Coffey menyampaikan tekadnya untuk memerangi sampah plastik yang sudah menghancurkan kehidupan laut. Pihaknya ingin memimpin pelarangan penggunaan microbeads di dunia dan mencari cara untuk mengatasi bentuk sampah plastik lainnya. Sementara itu, Komite Audit Lingkungan Parlemen Inggris lebih menyoroti pada masalah sampah dari botol plastik karena dalam 1 menit ada 1 juta botol yang dibeli di dunia. Sepertiga sampah plastik di lautan pun berasal dari botol plastik.

“Ketika kita menyerukan larang­an, anggota kami juga memikirkan solusi pada hal lain, seperti skema pengembalian botol plastik yang sudah berhasil meningkatkan ­upaya daur ulang di negara lain, pemberian retribusi pada gelas kopi yang terbuat dari plastik sehingga membuat para produsen semakin bertanggung jawab terhadap kemasan. Kami berharap bisa mendapatkan tanggapan dari pemerintah,” ujar Ketua Komite Audit LIngkungan Parlemen Inggris, Mary Creagh, seperti dilansir dari laman Theguardian.com.

Ganggu perilaku ikan
Peneliti LIPI Pusat Penelitian Oseanografi (P2O), Reza ­Cordova, mengatakan ada dua sumber mikro­plastik. Pertama plastik yang memang dibuat dalam ukuran mikroskopis umumnya disebut microbeads, terdapat pada produk spa, kosmetik, juga sabun. Biasanya pada komposisi produk terdapat jenis polimer seperti polypropylene polye­thylene. Sumber sekunder mikro­plastik berasal dari plastik ukuran besar, seperti plastik keresek, alat makan dari plastik, juga jaring nelayan yang terdegradasi karena arus laut, panas, sinar UV, atau bakteri. Saat ukurannya < 5 mm, sudah dikategorikan sebagai mikroplastik.

“Dampak awal yang ditemukan dapat menganggu sistem saraf pusat, akibatnya ada gangguan perilaku. Ini baru uji awal pada ikan. Dampak lainnya saat ini masih dipelajari lebih lanjut,” tegas Reza.

Ada beberapa pendapat mengatakan sampah plastik yang termakan oleh makhluk laut bisa dikeluarkan melalui feses. Akan tetapi, ada dampak lain yang ditimbulkan karena ada bahan pencemar lain yang menempel pada plastik. Contohnya ada pencemar organik seperti pestisida atau pencemar logam berat, yang masuk ke perairan dan menempel pada plastik, lalu plastik tersebut dimakan ikan. Pestisida akan masuk ke tubuh ikan. Ikan tidak bisa membedakan yang mana plankton dan mikroplastik sebagai makanan. Sementara itu, riset terkait dengan microbeads masih dalam proses analisis di laboratorium.

“Saran ke pemerintah, mungkin bisa diaktifkan kembali regulasi plastik berbayar. Juga pelarang­an penggunaan microbeads pada produk perawatan sehari-hari,” imbuhnya. (Wnd/Bpol.litbang.kkp.go.id/M-2)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More