Single Parent yang Tegar di Jalur Seni

Penulis: Abdillah M Marzuqi Pada: Kamis, 18 Jan 2018, 11:00 WIB Inspirasi
Single Parent yang Tegar di Jalur Seni

MI/SUSANTO

RUANGAN itu masih menyisakan beberapa tanda yang menunjuk pada aktivitas seni.

Ada seperangkat alat dan bahan lukis yang ditempatkan dalam wadah dengan troli yang bisa digeser ke mana pun.

Beberapa bingkai kanvas tampak ditata rapi disudut ruang.

Beberapa kanvas besar masih bertahan dalam gulungan yang disenderkan pada dinding.

Meski ruang terkesan lapang, namun dengan segera masih bisa dibayangkan berapa luasan yang tersisa ketika ruang itu sudah menjalani fungsinya sebagai studio.

Beberapa lukisan yang telah mendapati bentuknya tampak pula diruangan itu.

Hampir semua mengangkat tentang perempuan.

Ruang berkarya milik seorang seniman perempuan bernama Indyra.

Ruang itu terletak di sisi depan bagian rumah berlantai dua.

Bukan hanya studio tempat berkarya, ruang itu juga merupakan satu bagian dari ruang tempat ia bersama tiga orang anaknya.

Ia bukanlah selayaknya seniman yang hanya harus berkenaan dengan karya, tetapi ia juga seorang kepala keluarga yang harus menjamin dapur tetap mengebul.

Meski saat ini berstatus single parent yang menggantungkan hidup dari seni, Indyra mampu mengantarkan anaknya samapi perguruan tinggi.

Cerita Indyra diawali dari kesukaannya terhadap bidang gambar sejak masih kecil.

Ia sempat merasakan bangku kuliah seni. Namun, ia berhenti di tengah jalan ketika menikah.

Ia meninggalkan kuliah lalu mengikuti suaminya berdinas di luar negeri.

Gairah seni ternyata tidak padam.

Ia lalu meneruskan pendidikan seni di Filipina.

"Saya sih seneng corat-coret dari kecil. Terus saya akhirnya masuk di ASRI (Akedemi Seni Rupa Indonesia, sekarang ISI), tapi gak selesai. Karena saya harus menikah. Terus saya harus tinggal di luar. Terus saya melanjutkan sekolah di luar. Baru kita pulang ke Indonesia pada 1991," terangnya.

Setelah kembali ke Indonesia pada 1991, Indyra mulai berkumpul lagi dengan teman-teman sesama seniman.

Ia pun mulai sering mengikuti pameran.

Boleh dibilang setelah kepulangannya pada 1991, Indyra mulai berkesenian secara penuh.

"Terus saya kembali lagi. Saya cari teman-teman lagi. Mulai agak sering ikut pameran," tegasnya.

Dari situ, Indyra seolah menemukan dirinya. Ia bergiat dengan berbagai macam aktivitas seni.

Jiwa seni dalam dirinya mendapati gelombang dan medan baru untuk berkembang.

Namun, kondisi itu ternyata tidak berlangsung lama.

Hidup seolah tidak berhenti hanya dengan kebahagiaan dan kenyamanan.

Indyra mendapati cobaan yang sedemikian berat.

Suaminya wafat pada tahun 1998 dengan meninggalkan tiga anak.

Sebagai seorang single parent, Indyra pun sempat mendapati posisi terpuruk.

Ia tidak menyerah pada keadaan. Justru tantangan itu yang harus dia hadapi.

Sebab ia sadar, ia tidak punya pilihan.

"Setiap wanita single pasti ada cerita di belakangnya. Kemudian cerita saya adalah suami saya meninggal. Jadi saya diposisikan, mau gak mau, saya tidak punya pilihan. Saya harus move-on," jelas Indyra.

Tulang punggung

Selepas kepergian sang suami, Indyra harus menjadi tulang punggung keluarga.

Keadaan itu diperparah dengan kondisi Indyra yang memang sedari dulu tidak bekerja secara formal.

"Terus saya tidak pernah bekerja kantoran. Saya cuma bisanya lukis. Saya seorang seniman, saya tidak bisa bekerja kantoran," ketika menjelaskan perjalanan hidupnya.

Di sisi lain, dunia seni di Indonesia belum bisa menjanjikan banyak. Sudah menjadi rahasia umum, kebanyakan seniman masih harus tertatih-tatih untuk memenuhi kehidupannya jika harus bergantung pada karyanya.

Hanya sedikit, orang seni yang mampu menggantungkan hidup dari karya.

"Kita balik ke Indonesia kan kita harus mulai lagi dari nol. Wah, ternyata kesenian di sini gak kaya di luar negeri. Kerja keras banget dari tahun 1991 itu," tegasnya.

Terus terang, Indyra menegaku terus terang bahwa ia merasa berat dengan kondisi dunia seni di Indonesia.

Terlebih lagi, ia adalah seniman perempuan yang masih jarang mendapat tempat. Belum nomor satu di Indonesia.

Lagipula ia bukan seniman yang mempunyai nama besar.

Ditambah lagi, ia mengaku termasuk agak idealis dalam berkesenian.

Ia bukan seorang seniman yang berorientasi pada pasar dan membuat karya dengan konsep bikin-jual-laku.

"Jadi untuk dibilang bisa hidup cukup dengan berkesenian itu kayaknya agak berat. Tahun-tahun pertama memang sulit karena idealis itu," ungkapnya,

Saat itulah ia mendapati tekanan yang sangat berat.

Ia bukan hanya seorang seniman perempuan, melainkan juga seorang ibu.

Ia harus menjamin ketersediaan kebutuhan anaknya.

Kala itu, ia mengaku stres dengan kondisinya.

Tapi, Indyra paham bahwa ia tidak punya pilihan lain.

Kondisi itu merupakan sebuah keharusan yang harus dihadapi dengan keharusan pula.

Keharusan itulah yang menjadikannya sebagai ibu rumah tangga, sekaligus seorang seniman.

"Saya tidak bisa pilihan. Jadi saya tidak punya pilihan untuk profesi atau ibu rumah tangga. Saya harus ambil dua-duanya. Dari kondisi itu, semua harus jalan," tegasnya.

Kondisi itu memaksa Indyra untuk memutar otak.

Ia tidak hanya mengandalkan karya lukisan, ia juga mencoba menafkahi keluarganya dengan tidak mengorbankan idealis seninya.

Indyra ternyata mampu bertahan dalam situasi itu.

"Nafkah keluarga dari saya. Mungkin pas pertama ada istilahnya proyek, misalnya interior di hotel. Jadi sampai sekarang istilahnya nafkah saya masuk tidak 100% dari ini (seni), tapi dari proyek-proyek artistik," ujarnya.

Bahkan pada kurun 1998-1999, ia terpaksa menjual rumahnya yang berada di wilayah Jakarta.

Ia menggantinya dengan membeli sebidang tanah dan rumah di bilangan Tangerang Selatan (Rempoa).

Di situlah kini Indyra menghabiskan waktu bersama anaknya, sekaligus berkarya.

"Tentunya kita ada kesulitan keuangan. Jadi ya sudahlah kita jual itu. Saya juga butuh tempat yang lebih besar untuk bekerja. Kalau saya tidak bekerja anak saya tidak makan," bebernya.

Meski Indyra tidak bisa mewakili para perempuan yang masih bersuami, namun ia bisa menjadi penyampai pesan tentang bagaimana ia bisa menghadapi kerasnya hidup sebagai seorang perempuan.

"Yang membuat saya kuat mungkin tekanan-tekanan. Saya berjuang untuk anak-anak," katanya untuk menjabarkan alasan daya hidup yang kuat.

Ia mengharuskan dirinya untuk menjadi kuat. Sebab, jika ia terjatuh dalam suasana hati yang kacau, atau nelangsa dalam bahasa Indyra, Maka yang mendapati dampak negatif ialah anak-anaknya.

"Saya pikir lama-lama saya yang harus kuat. Kalau saya gak kuat, ke sananya, energinya lari. Saya merasa pengaruhnya ke mereka. Terus merembet ke mana-mana," terangnya. (M-2)

BIODATA
Nama : Indyra

Lahir : September 1957

Pendidikan: Philippines Woman University of Fine Art
Fakultas Psikologi University Indonesia
Faculty of Interior Design STSRI-ASRI

Pameran Tunggal
2013 "Mid-Life" Dialogue Gallery,Jakarta
2008 "Exposure" Shangrila Gallery,Jakarta
2007 "The I & Eye" Ark Gallery,Jakarta
2006 "The Stands of Gongs" Cassis Gallery,Jakarta
2005 "Water Color Nude" d Gallery,Jakarta

Pameran Gabungan
2018 "Paintings & Weaves" Iseya, Sampoerna Strategic
2017 "Flow Into Now", Sampoerna Strategic Square, Jakarta
2016 "Kitab Visual IANFU" Gallery Cemara 6, Jakarta
2015 "Legacy of Java Culture ala Basoeki Abdullah", Rumah Jawa Gallery, jakarta
"Langkah Kepalang Dekolonisasi" Gallery Canna, National Gallery, Jakarta
"Aku Diponegoro" dari Raden Saleh hingga kini, National Gallery, Jakarta
2014 "Symbol, Spirit, Culture" Edwin Gallery, Jakarta
dll

Penghargaan: Sariwangi Gold 6 Independent Women Artists
Aktivitas : Interior / Element Aesthetic consultant & Art Trainee

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More