Citarum bukan Tempat Buang Limbah Raksasa

Penulis: Bayu Anggoro Pada: Rabu, 17 Jan 2018, 08:14 WIB Humaniora
Citarum bukan Tempat Buang Limbah Raksasa

GRAFIS : MI/Sumber: bbwscitarum.com/L-1/FOTO: ANTARA/RAISAN AL FARISI

PEMERINTAH sungguh-sungguh akan memulihkan kondisi dan lingkungan di sepanjang daerah aliran Su-ngai (DAS) Citarum. Berbagai upaya ditempuh, termasuk pendanaan yang memadai untuk menjadikan sungai terpanjang di Jawa Barat itu bebas dari segala pencemaran.

Demikian hasil rapat koordinasi penanganan DAS Citarum yang di pimpin Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan di Bandung, kemarin.

"Kami menargetkan air Citarum bisa diminum pada 5-10 tahun mendatang. Pemerintah siap mengge-lontorkan dana triliunan rupiah dari APBN. Dana tidak masalah, banyak. Dari kementerian ada, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Kementerian PU-Pera," kata Luhut dalam rapat yang dihadiri Menko Polhukam Wiranto, Wagub Jabar Deddy Mizwar, dan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil tersebut.

Luhut mengakui upaya Pemprov Jabar menangani DAS Citarum belum menunjukkan hasil yang signifikan. "Pemprov Jabar tidak bisa sendiri, harus sinergi. Presiden sepakat untuk menangani Sungai Citarum dan segera menerbitkan perpres."

Menurut Luhut, sejumlah negara asing bahkan sudah menawarkan bantuan untuk turut serta mengatasi pencemaran di sepanjang Sungai Citarum. "ADB menawarkan dana. Tetapi kita lihat, apa perlu sebanyak itu, masih dievaluasi. Jadi, Rp200 triliun belum tentu diambil."

Dengan dukungan dana besar, Luhut memastikan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) industri di sepanjang DAS Citarum akan diter-tibkan. Hal serupa pun dilakukan terhadap limbah rumah tangga.

Presiden Joko Widodo yang memimpin rapat penataan Sungai Citarum tadi malam menegaskan kini terdapat 3.000 industri membuang limbah ke Citarum.

"Saya tidak mau Citarum menjadi tempat pembuangan limbah raksasa bagi pabrik-pabrik yang berlokasi di tepian sungai. Citarum harus di-kerjakan cepat. Tujuh tahun selesai. Jangan ditunda-tunda. Ini menyangkut hidup masyarakat banyak," harap Jokowi.

Menko Polhukam Wiranto menambahkan, banyak pelanggaran hukum yang menyebabkan pencemaran di DAS Citarum. "Perusahaan melanggar hukum dan peraturan soal pengolahan limbah. Palak-memalak, pungli, dan broker yang membuat Citarum kotor. Saya hadir karena banyak persoalan hukum di Citarum."

Wali Kota Bandung Ridwan Kamil memaparkan produksi sampah Kota Bandung yang mengotori Sungai Ci-tarum berangsur-angsur berkurang. "Kami menyediakan pipa panjang untuk menampung limbah dari perumahan kumuh di bantaran sungai. Itu ditampung di pipa panjang."

Ridwan menyebutkan penanganan Sungai Citarum di Kota Bandung saat ini sudah cukup baik dengan hadirnya Teras Cikapundung. "Semua pemangku kepentingan harus bersinergi. Kalau masih ada ego sektoral, pencemaran di sepanjang DAS Citarum enggak pernah akan selesai dengan tuntas."

Butuh 121 juta pohon

Sebelumnya, Kodam III/Siliwangi telah menginisiasi revitalisasi Cita-rum sejak awal 2018 dengan melakukan pembersihan dari hulu hingga hilir. Kapendam III/Siliwangi Kolonel Dessy Arianto memaparkan kegiatan pembersihan dipimpin langsung oleh Pangdam III/Siliwangi Mayjen Doni Monardo karena didorong urgensi dan keberadaan Sungai Citarum.

"Sekitar 80% kebutuhan air warga Jakarta bersumber dari Citarum. Su-ngai ini pun menjadi sumber utama untuk pembangkit listrik 20 ribu Mw," ungkap Dessy (lihat grafik).

Normalisasi sungai sepanjang 296 km itu, kata Dessy, dibagi ke dalam 22 sektor. Setiap sektor sepanjang 10 km dipimpin seorang penanggung jawab. Perbaikan kawasan di hulu Citarum dilakukan dengan gerakan penghijauan di atas lahan seluas 690 ribu hektare yang kini rusak parah.

"Kami butuh 121 juta pohon. Selama 1-6 bulan kami membersihkan sampah, mengurangi sedimentasi, dan membangun WC komunal. Dua tahun ke depan Citarum bebas dari limbah," tandas Dessy. (Nur/Ant/X-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More