Berenang Bersama Dugong

Penulis: Anastasia Arvirianty/M-1 Pada: Minggu, 14 Jan 2018, 05:16 WIB Weekend
Berenang Bersama Dugong

MI/Tiyok

SIAPA pernah bertemu dugong? Mamalia atau hewan menyusui yang berhabitat di laut dan bernama latin Dugong dugon ini memang bisa dijumpai di berbagai wahana. Namun, di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), dugong yang juga kerap disebut duyung ini bisa dilihat langsung di alam liar, tempatnya hidup!

Medi yang menghadiri Festival Bahari Alor, baru-baru ini, harus bertolak ke Pantai Mali, untuk bertemu dudong. Di sana, pengalaman mengamati dugong telah menjadi wisata, sekaligus melihat langsung persahabatannya dengan manusia.

Medi bertemu Pak Onesimus Laa, 51, yang dikenal masyarakat Alor sebagai pawang dugong. Sebelum mengantar Medi ke laut, Pak One bercerita, ia meyakini persahabatannya dengan dugong diawali niatnya menjaga lingkungan. Sejak 2007, Pak One memang sudah aktif menanam tanaman bakau di Pulau Sika yang tak berpenghuni. Pulau ini terdapat di daerah timur laut Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Kabupaten Alor.

Aturan saat mengamati

"Saat mengamati dugong, tidak boleh melakukan scuba diving atau menyelam menggunakan bantuan alat pernafasan karena akan membuat biota laut ini stres, Boleh snorkeling, tapi tidak boleh mengejar atau mendekati dugong, jika ia mendekat, harus berenang menghindar, dan tidak boleh menyentuh dugong saat ia mendekat," kata Pak One.

Yang terpenting, lanjut Pak One, kegiatan itu harus seizin dan dalam pengawasannya. Seluruh pengunjung yang datang pun harus mampir ke rumahnya di dekat Bandara Mali, untuk mendaftar.

Mawar dan tiga kawannya

Setelah paham aturan mainnya, Medi ditemani Pak One berangkat ke tengah laut menggunakan perahu motor sederhana miliknya. Begitu sampai di titik dugong berada, seolah memiliki ikatan batin yang kuat dengan sang pawang, dugong pun menampakkan dirinya, seakan menyambut kedatangan perahu kami. Namun, sejurus, ia kemudian menghilang kembali ke dalam laut.

"War, datang sini, ini ada tamu datang, mau kenalan," panggil Pak One kembali. War adalah singkatan dari Mawar, yang merupakan nama dari dugong tersebut.

Ajaibnya, tak berapa lama setelah dipanggil, makhluk laut itu muncul, meliukkan tubuhnya, mengikuti gelombang. Kulitnya abu-abu pucat, bertotol-totol kecil. Liuk terakhir makhluk itu memperlihatkan ekornya yang besar, berukuran 1 meter.

Menurut Pak One, total ada 3 ekor dugong di daerah Pantai Mali, termasuk Mawar. "Populasi dugong di Indonesia saat ini hanya sekitar 1.000 ekor saja dan tersebar di empat lokasi, salah satunya di Pulau Alor, dan konon dari empat lokasi tersebut, hanya di Pulau Alor saja terdapat dugong yang menetap, yang lainnya berpindah-pindah sesuai alur migrasi."

Selain itu, kata Ketua Forum Ikan Kabola di Kelurahan Kabola itu, Alor telah bekerja sama dengan World Wildlife Fund (WWF) untuk menjaga, merawat, dan melestarikan dugong. Pada 2009, Pak One juga mengizinkan pihak WWF Indonesia untuk mengamati tingkah laku dugong di perairan Pantai Mali. Mereka diperbolehkan berenang di sekitar untuk melihat dugong, tetapi dengan syarat tertentu.

Dijaga agar tidak stres

Pak One menyadari, lambat laun keberadaan dugong di pantai menjadi daya tarik wisata di Alor. Kendati demikian, ia tak lantas menjadikan dugong sebagai objek wisata. Ia memperlakukan dugong layaknya mitra dan memikirkan keberlangsungan hidup mereka.

"Ke depannya, saya tidak ingin ada yang berenang di dekat dugong. Jika ingin melihat, biar diamati saja dari perahu," kata Pak One.

Ia pun akan membatasi kunjungan wisatawan untuk mengamati dugong. Dalam satu perahu, maksimal hanya boleh diisi lima orang, dengan maksimal dua kali kunjungan dalam sehari. Untuk harga, Pak One tak mematok harga tertentu, hanya saja disesuaikan dengan kondisi.

"Sebab, jika terlalu banyak, mereka juga bisa stres dan ngambek," tutup Pak One.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More