Pengaruh Budaya di Balik Komoditas Kopi

Penulis: Abdillah M Marzuqi Pada: Sabtu, 13 Jan 2018, 23:31 WIB Weekend
Pengaruh Budaya di Balik Komoditas Kopi

MI/Ebet

BAGI sebagian orang, kopi mungkin sudah jadi gaya hidup. Bagi sebagian lagi, kopi bisa jadi malah menjadi semacam energi yang keberadaanya bersifat keharusan. Saking hebatnya, kopi pun dicitrakan sebagai simbol pergaulan. Sedemikian itulah kopi, hingga muncul bermacam sindiran ataupun ungkapan yang menggunakan kata kopi. Sebut saja untuk menunjuk orang yang kurang dengan sebutan 'kurang ngopi'.

Menariknya, boleh dibilang bahwa kopi termahal dan paling unik proses pembuatannya adalah kopi luwak asal Indonesia. Nama itu mengacu pada musang sawit asia (Paradoxurus hermaphroditus). Ternyata kopi luwak juga menyimpan sejarah kelam pada mulanya. Kopi Luwak lahir karena penasaran dari para petani kopi. Pada masa kolonial, petani pribumi dilarang memetik buah kopi untuk digunakan sendiri. Lalu, mereka mencari cara untuk mendapatkan biji kopi. Akhirnya mereka menemukan luwak yang memakan buah. Luwak itu ternyata tidak mencerna biji kopi dan mengeluarkan biji kopi bersama dengan kotorannya.

Para petani pun mulai mengumpulkan, membersihkan, dan mengolah biji kopi tersebut. Bisa jadi, cara itu ialah cara termahal dan bahkan salah satu metode pembuatan kopi yang paling kontroversial. Lalu, bagaimana sejarah kopi hingga menyebar hingga ke Indonesia? Itulah menariknya Pameran A History of Coffee or A Chalkboard Story di Erasmus Huis Jakarta pada 8-21 Januari 2018.

Di antara dua jenis kopi yang saat ini populer. Kopi arabika mendominasi sekitar 70% produksi global. Kopi arabika asli dataran tinggi Ethiopia, sedangkan kopi robusta menempati posisi berikutnya. Robusta berasal dari Afrika Barat. Kopi ini menguasai hampir 30% produksi yang sebagian besar dibudidayakan di Vietnam, Indonesia, Pantai Gading, dan Uganda.

Kopi dibudidayakan di lebih dari 50 negara di dunia. Brasil. Vietnam, dan Indonesia berada di peringkat ke-3 teratas. Uniknya, terdapat 1% produksi kopi dunia diisi jenis kopi lain, yakni kopi liberica asal Indonesia. Jenis ini lebih tahan terhadap jamur daripada jenis robusta.

Kambing menari

Menilik asal mula kopi, ada menariknya menyimak cerita tentang kambing menari. Alkisah, seorang penggembala kambing asal Ethiopia, bernama Kaldi, melihat kambingnya menjadi energik. Sedemikian energik, kambing itu seolah bisa 'menari'. Itu terjadi setelah si kambing makan buah kopi. Bahkan, selama berabad-abad, diyakini bahwa para biksu Ethiopia abad ke- 10 sudah mengunyah buah kopi sebagai stimulan.

Sementara itu, minum kopi dimulai dari masyarakat Arab dari Yaman. Merekalah yang pertama kali membuat minuman kopi dengan mendidihkan kacang dalam air. Mereka menyebutnya qahwa. Para sufi menggunakan minuman itu untuk tetap terjaga selama berjam-jam berdoa.

Pegunungan Yaman merupakan tempat yang ideal untuk penanaman kopi. Mocha menjadi pelabuhan utama perdagangan kopi. Pada 1414, minuman itu juga dikenal di Mekah, dan menyebar ke Mesir dan Afrika Utara. Pada abad ke-16, kedai kopi dibuka di Mekah, Kairo, dan Istanbul. Mereka langsung menjadi populer. setelah itu, mereka berkembang menjadi tempat untuk diskusi dan membahas politik.

Sementara itu, di Eropa Barat, kedai minum kopi menjadi sangat populer di akhir abad ke-17. Rumah kopi pertama muncul di Kota Venesia di Italia pada tahun 1629. Pada 1663, kedai kopi pertama di Belanda dibuka di Amsterdam. Kafetaria pertama di Wina didirikan pada 1683. Kafe ini juga menyajikan kopi pertama dengan krim susu. Kopi itulah yang kemudian dikenal sebagai Wiener Melang.

Paris pun turut mencatatkan sejarah kedai kopi. Kafe Procope dibuka pada 1686. Kafe itu sering dikunjungi oleh para pemikir besar Prancis seperti Voltaire, Rousseau, dan Denis Diderot.

Kopi di Eropa mungkin diminum pemikir-pemikir besar sembari mereka berdiskusi tentang keilmuan. Hampir mirip, di Indonesia pun terdapat pola seperti itu. Budayawan Bambang Asrini Widjanarko mengungkapkan bahwa pola masyarakat terbagi menjadi dua yakni, gemeinschaft dan gesellschaft.

Pertama, gemeinschaft atau paguyupan, yakni kondisi masyarakat yang suka berkumpul, berbagi, dan bersama. Menurut Bambang, kultur masyarakat Indonesia lebih dekat dengan pola paguyupan. Bukan hanya persoalan kopi, melainkan juga wadah lain, seperti bertamu ketetangga, nongkrong di warung, ataupun yang bersifat religius seperti tahlilan.

"Masyarakat kita disebut paguyupan karena suka berkumpul, sharing, untuk membicarakan apa pun, bahkan soal yang sangat pribadi," terangnya.

Pola sosialitas itulah yang kemudian membuat kopi menjadi lebih gampang diterima dalam masyarakat.

"Kopi adalah perekatnya. Kopi adalah bagian dari masyarakat yang cinta kebersamaan," tambahnya. Sementara itu, lawan dari gemeinschaft ialah gesselschaft atau patembayan. Sosialitas patembayan bertumpu pada anggota kelompok sosial berhubungan dengan dasar kepentingan.

Saat ini, menurut Bambang, terdapat pergeseran dari pola bersosial dari masyarakat Indonesia. Mereka yang awalnya memegang pola sosial payuban bergeser menjadi patembayan. Pola itu bisa terlihat dari gaya hidup masyarakat kekinian yang cenderung patembayan. Dulu minum kopi di kedai kopi bersama penikmat kopi lain sembari ngobrol hangat. Menjadi orang yang menikmati kopi dengan tujuan citra pribadi. "Dengan meminum kopi di kafe, mereka ingin menampakkan diri yang akan dilihat, dicitrakan. Bisa kopinya, tempatnya, pakaian yang dia pakai, gaya hidup, bahkan termasuk penghasilan," pungkas Bambang. (M-2)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More