Data Produksi Beras tidak Akurat

Penulis: Jessica Sihite Pada: Sabtu, 13 Jan 2018, 15:23 WIB Ekonomi
Data Produksi Beras tidak Akurat

ANTARA/Yusran Uccang

DIBUKANYA keran impor beras dinilai sebagai bukti tidak akuratnya data produksi yang selama ini dirilis Kementerian Pertanian. Pemerintah berkeras mengklaim pasokan beras aman hingga surplus, tetapi harga di pasar terus merangkak naik.

Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa mengatakan pemerintah harus segera memperbaiki data produksi pangan nasional. Ia meragukan data Badan Ketahanan Pangan Kementan yang mencatat surplus beras selama 2017 mencapai 17,4 juta ton.

"Di mana barangnya? Bulog saja yang fasilitas penyimpanannya terbesar di Indonesia hanya mampu menampung 3 juta ton. Meskipun Kementan bersikeras produksi surplus, yang jelas harga tidak akan pernah berbohong," cetus Andreas ketika dihubungi, Sabtu (13/1).

Menurutnya, produksi beras selama 2017 justru cenderung menurun dari tahun sebelumnya. Penyebabnya, hama wereng dan kerdil rumput yang menyerang lebih dari 400 ribu hektare lahan sawah di berbagai daerah. Hama itu pun dinilai terjadi lantaran sistem tanam yang terus-menerus dilakukan sejak 2016.

"Bahkan, stok gabah di petani kecil saat ini sudah kosong karena mereka menjual gabahnya untuk modal tanam," ucap Andreas.

Kondisi kurangnya produksi juga diikuti dengan takutnya pedagang untuk menyetok beras di gudangnya. Kasus penggrebekan PT Indo Beras Unggul (IBU) pada medio 2017 disebut telah membuat pedagang kini enggan menyimpan stok berasnya.

Akibat dari itu, papar Andreas, operasi pasar (OP) beras medium yang dilakukan pemerintah sejak Oktober 2017 hingga saat ini belum membuahkan hasil. Harga beras medium tetap tinggi di kisaran Rp11.000-Rp12.000 per kilogram (kg), di atas harga eceran tertinggi (HET) Rp9.450 per kg di wilayah produsen beras.

"Kalau dulu, OP membuat pedagang ikut melepas barangnya karena khawatir barangnya jadi tidak laku. Namun, saat ini OP tidak bermanfaat karena tidak banyak pedagang yang menyimpan lagi barangnya," tukasnya.

Ia mencatat kenaikan harga beras medium dalam beberapa hari terakhir sudah cukup tinggi, yakni Rp50-Rp200 per kilogram per hari. Karena itu, sulit bagi Indonesia bila tidak segera membuka keran impor.

Kendati demikian, Andreas menilai impor beras sudah terlambat karena diprediksi baru akan terdistribusi ke pasar pada akhir Februari. Sementara itu, panen raya diperkirakan akan terjadi mulai Maret.

"Ini pembelajaran bagi pemerintah untuk melakukan tata kelola pangan yang benar. Presiden bentuk saja unit khusus intelejen data pangan yang bisa memasok data produksi sesungguhnya," imbuh Andreas.

Sementara itu, Direktur Utama PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) Agus Andiyani optimistis penyaluran beras impor bisa dilakukan mulai akhir Januari. Saat ini, pihaknya masih mencari suplier dari negara-negara importir.

Nantinya, pendistribusian beras impor akan dilakukan PPI dengan menggandeng mitra pengusaha beras, salah satunya PT Food Station Tjipinang Jaya untuk pendistribusian wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya.

"Paling 5-6 hari kerja perjalanannya. Kami optimistis akhir Januari mulai masuk dan didistribusikan ke seluruh pasar," ucapnya kepada Media Indonesia. (X-12)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More