Difteri Tambah Derita Rohingya

Penulis: AFP/Irene Harty/I-1 Pada: Sabtu, 13 Jan 2018, 09:31 WIB Internasional
Difteri Tambah Derita Rohingya

AFP/Munir UZ ZAMAN

SUDAH jatuh tertimpa tangga pula.

Ungkapan itu bisa menggambarkan nasib etnik Rohingnya dari Negara Bagian Rakhine, Myanmar, yang kembali harus menghadapi cobaan di tenda-tenda pengungsian.

Penyakit lama yang terlupakan tapi mematikan, difteri, kini ditengarai menyerang tenda-tenda pengungsian etnik Rohingya di Bangladesh.

Difteri telah dimusnahkan di Bangladesh tahun lalu saat lebih dari 650 ribu Rohingya melintasi perbatasan, melarikan diri dari kekejaman militer Myanmar.

Mengingat area yang digunakan sejumlah pengungsi lebih kecil dan sedikitnya sanitasi atau perawatan kesehatan, keberadaan mereka menjadi lahan subur untuk penyakit pernapasan yang sangat menular itu.

Dengan cepat difteri menyebar melalui tenda-tenda pengungsian yang menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah lebih dari 3.600 kasus.

Wabah tersebut telah merenggut nyawa setidaknya 30 pengungsi, kebanyakan anak-anak, sedangkan beberapa warga Bangladesh yang tinggal di dekat tenda pengungsian itu juga terjangkit.

Carla Pla, Kepala Perawat di Unit Khusus Difteri yang dikelola badan amal MSF (Doctors Without Borders) mengatakan anak-anak tersebut tiba dengan gejala 'parah'.

"Ini ialah situasi yang sangat menantang karena setiap hari ada lebih banyak anak, dan tantangan untuk mendapatkan vaksin juga sangat sulit," katanya.

Hampir 600 pengungsi telah dirujuk ke sana sejak dibuka pada Desember untuk pemberian antitoksin dan antibiotik.

Hal itu memberi tekanan besar bagi para dokter di tengah perjuangan mengatasi malanutrisi, penyakit melalui air, dan penyakit-penyakit lainnya yang menimpa para pengungsi Rohingya tersebut.

Tujuh klinik lapangan difteri spesialis telah dibentuk untuk menangani jumlah pasien sejak wabah tersebut menyerang, kata Direktur Darurat WHO di Asia Tenggara, Roderico Ofrin.

Bangsal bersama menampung 400 tempat tidur untuk pasien tapi kurangnya dokter mengharuskan petugas medis dari Inggris dan tempat lain didatangkan untuk membantu memerangi wabah itu.

Sementara itu, para pemimpin masyarakat Rohingya terus berupaya menyebarkan kesadaran tentang bahaya penyakit ini untuk mengimbangi epidemi yang terus berlanjut.

Mereka yang menunjukkan gejala penyakit tersebut diminta untuk menggunakan masker dan mencuci tangan dengan air yang diklorinasi.

Otoritas Bangladesh telah siap untuk mengatasi penyakit kolera dan campak.

Namun, serangan wabah difteri yang menyebabkan sulit bernapas dan bisa menyebabkan gagal jantung, kelumpuhan, dan kematian jika tidak diobati, tidak diantisipasi.

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More