Hawa Dingin Ramah Lingkungan

Penulis: Wnd/M-3 Pada: Sabtu, 13 Jan 2018, 09:11 WIB Humaniora
Hawa Dingin Ramah Lingkungan

MI/Panca Syurkani

HAMPIR tiada hunian tanpa pendingin ruangan (air conditioner/AC).

Kondisi inilah yang sekarang terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta.

Udara yang panas membuat pendingin udara seperti jadi kebutuhan primer.

Padahal, tingginya penggunaan pendingin udara bisa berujung pada temperatur bumi yang makin panas.

Ini terjadi akibat kebanyakan jenis freon (refrigeran /R) yang dipakai masih dalam kategori dapat merusak ozon dan kategori menyumbang pemanasan global.

Namun, kini sebuah dobrakan dibuat tim peneliti dari National University of Singapore (NUS).

Seperti dilansir laman Science Daily, Senin (8/1), tim yang dipimpin Profesor Ernest Chua dari Fakultas Teknik NUS itu membuat teknologi pendingin ruangan berbasis air.

Dengan sistem baru ini, pendingin tersebut tidak lagi menggunakan kompresor mekanik dan refigeran kimiawi seperti chlorofluorocarbon (CFC) dan hydrochlorofluorocarbon (HFC) yang kian diperangi di seluruh dunia.

Meski berbasis air, pendingin tersebut dikatakan mampu menghasilkan suhu yang sama dengan pendingin konvensional, hingga 18 derajat celsius.

Kemampuan itu bisa dicapai dengan konsumsi listrik yang 40% lebih hemat daripada pendingin biasa.

Tidak hanya itu, sembari mendinginkan udara sekitar, temuan baru ini juga menghasilkan air minum.

"Konsumsi energi pada bangunan di daerah tropis, lebih dari 40% ada pada pendingin ruangan. Hal ini akan terus meningkat dan menjadi pukulan besar bagi pemanasan global. Teknologi kami sangat ramah lingkungan dan bisa menjadi titik awal untuk AC generasi berikutnya," tutur Prof Chua.

Membran inovatif

Saat ini sistem pendingin ruangan (AC) konvensional menggunakan kompresor untuk menguapkan air (kelembapan) dalam udara.

Udara yang telah kering (dehumidifikasi) itu didinginkan dengan freon.

Sementara itu, pada pendingin buatan NUS, proses dehumidifikasi dilakukan dengan mengalirkan udara pada membran inovatif menyerupai kertas.

Udara yang mengalami dehumidifikasi didinginkan melalui sistem pendinginan titik embun dengan air sebagai media pendinginnya, bukan zat kimia berbahaya.

Dengan begitu, sistem baru itu juga tidak melepas udara panas ke lingkungan.

Karena itu, tidak seperti udara panas yang diembuskan di unit outdoor AC konvensional, peneliti mengatakan kita justru juga merasakan udara sejuk di bagian 'buangan' AC baru ini.

Hanya, udara tersebut lebih kering daripada udara lingkungan.

Tidak berhenti di situ, kelembapan yang ditarik dengan membran inovatif (bukan diuapkan) membuat kita bisa mengumpulkan air dari AC ini.

Dari satu hari pengoperasian, jumlah air yang terkumpul mencapai 12-15 liter.

Proyek yang mendapatkan dukungan dari Building and Construction Authority and National Research Foundation Singapore kini sedang melakukan penyempurnaan inovasi.

Hal tersebut dilakukan agar lebih mudah digunakan dan menanamkan fitur pintar lain, seperti pengaturan suhu berdasarkan hunian dan pelacakan efisiensi terkini (real time) energinya.

"Teknologi pendinginan ini dapat disesuaikan untuk semua kondisi cuaca, mulai dari iklim lembab di daerah tropis hingga gersang di padang pasir. Cocok juga digunakan pada tempat tertutup seperti bungker maupun penampungan yang memang perlu untuk mengusir kelembaban udara. Bisa juga diterapkan pada peralatan di rumah sakit lapangan, kendaraan lapis baja, dan geladak operasi kapal angkatan laut serta pesawat terbang," tukas Prof Chua.

Memusnahkan HFC

Jika benar dapat diterapkan pada produksi masal, teknologi pendingin berbasis air ini dapat menjadi solusi akan permasalahan selama ini.

Sebabnya, hingga kini belum ada refrigeran yang dianggap benar-benar tidak berpotensi menambah laju pemanasan global.

Pada awalnya refrigeran yang banyak digunakan ialah CFC, contoh R-12; dan HCFC, contoh R-22. Refrigeran ini masuk kelompok halocarbon.

Dunia sudah menyadari bahaya CFC dan HCFC sebagai bahan perusak ozon (BPO) dan 30 tahun lalu dihasilkan Protokol Montreal untuk menghentikan penggunaannya. Indonesia juga ikut meratifikasinya.

Terkait dengan upaya penghapusan BPO jenis HCFC, pemerintah Indonesia telah menerbitkan 3 (tiga) regulasi, yaitu Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 3/M-Dag/Per/1/2012 tentang Ketentuan Impor Bahan Perusak Ozon (BPO), Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 41/M-Ind/Per/5/2014 tentang Larangan Penggunaan HCFC di Bidang Perindustrian, dan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 55/M-Dag/Per/9/2014 tentang Impor Barang Berbasis Pendingin.

Indonesia beralih ke HFC (hydrofluorocarbon), contoh R-134a, yang tidak mengandung chlorine sehingga diklaim tidak merusak lapisan ozon.

Namun, penelitian-penelitian baru menunjukkan HFC juga berpotensi menyebabkan pemanasan global.

Pada studi yang dipublikasi dalam Proceedings of the National Academy of Sciences, HFCS yang terdapat dalam mesin pendingin maupun pendingin ruangan menyumbang kenaikan karbon dioksida setara 303 juta-463 juta ton antara 2007 dan 2012 secara global.

Hal ini dikatakan peneliti studi tersebut setara dengan emisi karbon dari bahan bakar fosil tahunan Selandia Baru, yaitu 33 juta ton.

Disebutkan pula, negara berkembang menjadi penyumbang 42% dari emisi yang dikeluarkan HFCS.

Kemudian pada studi NASA yang dimuat 2015 di jurnal Geophysical Research Letter, disebutkan HFC ditemukan menyebabkan kerusakan kecil, tapi terukur pada ozon.

Negara-negara dunia pun ramai-ramai memerangi penggunaan HFC lewat Amendemen Kigali yang dibuat pada 2016 menjadi bagian Protokol Montreal.

Namun, hingga kini Indonesia belum meratifikasi amendemen itu.

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More