Bersiap Memasuki Era 5G

Penulis: Rizky Noor Alam Pada: Sabtu, 13 Jan 2018, 06:11 WIB Teknopolis
Bersiap Memasuki Era 5G

PAMERAN teknologi terbesar di dunia Consumer Electronics Show (CES) yang diselengarakan Consumer Technologi Association kembali diselengarakan 9-12 Januari 2018 di Las Vegas, Amerika Serikat (AS).

Beragam teknologi dipamerkan di ajang ini, mulai dari industri periklanan dan hiburan, otomotif, kesehatan, rumah dan keluarga, internet, desain produk dan manufaktur, robot, olahraga, serta perusahaan-perusahaan startups.

Dari semua itu, salah satu topik yang menarik diperbincangkan ialah teknologi 5G alias generasi kelima dari teknologi komunikasi seluler.

Teknologi 5G ini rencananya dilepas ke pasar pada 2020 mendatang.

Banyak kecanggihan yang ditawarkan teknologi seluler generasi kelima tersebut mulai dari kecepatan mengunduh hingga 10 Gbps--4G maksimal hanya 1 Gbps.

Kecanggihan lainnya adalah ultra low latency, yakni waktu yang dibutuhkan sebuah perangkat ke perangkat lain (latency) yang semula membutuhkan waktu 50 miliseconds, sedangkan pada 5G hanya membutuhkan waktu 1 miliseconds.

Kelebihan terakhir ialah memungkinkan lebih banyak perangkat yang saling terkoneksi baik antarperangkat, perangkat smart home, maupun mobil-mobil pintar.

Hal ini menunjang prediksi teknologi di masa depan yang saling terkoneksi sehingga perlu butuh kapasitas dan bandwith yang lebih cepat.

Sejumlah negara pun sudah melakukan uji coba jaringan 5G.

Seperti di Korea Selatan pada 2017, di Austin dan Indianapolis Amerika Serikat, dan rumornya jaringan ini akan resmi diluncurkan pada pergelaran Olimpiade Tokyo 2020.

Bagi CEO Dailysocial, Rama Mamuaya, teknologi 5G adalah peningkatan dari 4G.

Jaringan ini akan mampu mengendalikan jumlah pengguna untuk daring lebih banyak karena kecepatan koneksi yang lebih baik dibandingkan 4G.

"Artinya apa buat Indonesia, ya membuat orang lebih banyak terkoneksi ke internet melalui mobile, karena marketnya semakin besar maka demand untuk konten yang dikonsumsi akan semakin besar. Sekarang Indonesia ada 130 juta-140 juta pengguna internet dan akan bertambah besar dengan adanya 5G dan artinya perusahaan-perusahaan startup makin dibutuhkan karena demandnya bertambah," jelas Rama saat dihubungi Media Indonesia, Rabu (10/1).

Bagaimana penerapannya di Indonesia?

Menurut Rama, teknologi 5G tidak akan terlalu lama masuk ke Indonesia.

Pasalnya, dengan berbagai prediksi perekonomian yang meningkat yang tentunya juga akan berdampak pada peningkatan pasar tentunya penerapan 5G akan dapat dengan cepat.

"Indonesia seharusnya tidak akan telat untuk mengimplementasikan teknologi 5G. Apalagi sekarang perusahaan-perusahaan telekomunikasi juga sudah mengandalkan data (untuk jualan), bukan lagi telepon atau SMS. Jadi kalau kesempatan 5G bisa diambil secepat mungkin, saya rasa mereka (operator) tidak akan menunda. Satu-satunya hal yang bisa menunda adalah dari government regulation, meskipun selama ini pemerintah lumayan akomodatif mengurusi teknologi," tandas Rama.

Wait and see

Dalam kesempatan berbeda, Pendiri dan Pemimpin Redaksi dari Tek.id Insaf Albert Tarigan berpendapat saat ini pemerintah Indonesia masih bersikap wait and see terhadap teknologi 5G.

"Kemenkominfo masih melihat kira-kira 5G ini cepat dan latency-nya rendah tapi cocoknya di Indonesia itu di mana, artinya pemerintah belum memetakan di sektor mana 5G akan berdampak positif, selain bagi negara tapi juga masyarakat. Posisinya sekarang hanya memantau standardisasi-standardisasi saja yang ditetapkan regulator dunia," jelas Insaf kepada Media Indonesia, Rabu (10/1).

Meskipun uji coba pertama kalinya nanti akan dilakukan di perhelatan FIFA World Cup 2018 di Rusia.

Adopsinya oleh operator akan menunggu regulasi pemerintah.

"Menunggu pemerintah misalnya penempatan frekuensinya, lalu apakah kondisi frekuensi yang disyaratkan untuk 5G tersebut sudah kosong atau belum? Jadi prediksi saya, implementasi 5G di Indonesia akan lebih lama dari 4G karena banyak yang harus dibenahi," ujar Insaf.

Sedangkan bagi operator akan menghadapi teknologi plug and play, karena penyedianya bukan operator, tapi semacam Nokia, ZTE, Huawei, mereka tinggal pasang saja di tower-nya.

"Kalau adopsinya sendiri di Indonesia akan memakan waktu lama mungkin bisa di atas 2022," lanjutnya.

Kendala lainnya ialah investasi 5G yang mahal serta ketersediaan handset 5G di pasaran dan perilaku masyarakat yang lambat untuk beralih.

"Investasinya sendiri memang mahal, bahkan kalau kita bicara dengan para operator, investasi untuk 4G saja belum balik modal dan satu lagi nanti kenapa transformasinya akan lama adalah ketersediaan handset yang bisa akses 5G," ucap ayah satu anak itu.

SAat ini untuk mendapatkan perangkat 4G murah saja baru banyak muncul tahun lalu.

"Itu pun operator harus subsidi ke pembelinya karena menyuruh orang untuk beralih ponsel itu tidak semuanya mau, bahkan ada yang berpendapat kalau beralih ke 4G nanti datanya cepat habis dan ya memang cepat habis karena koneksinya cepat. Jadi ketersediaan handset dan lain-lain membutuhkan waktu untuk transformasi," papar Insaf.

Meskipun begitu dirinya optimistis bahwa 5G akan lebih memberikan dampak positif yang besar dari pada 4G.

BErdasarkan riset menyatakan bisnis konten di era 5G akan semakin meledak bahkan Huawei pernah menyatakan sebagai the next billion dollars business.

"Sekarang kalau kita lihat fenomena Youtuber, Selebgram itu karena ada 4G, kita jadi nonton Youtube nyaman dan lancar, kalau 5G impact-nya akan jauh lebih besar lagi," pungkasnya.

(M-4)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More